Temuan Baru Sebaran Populasi Komodo Melalui Kamera Trap

BORONG, FBC-Pemasangan alat Kamera dan Video trap dalam ekspedisi sebaran populasi biawak Komodo di bagian Utara Pulau Flores, NTT belum lama ini membuahkan hasil. Terbukti, peneliti dari Yayasan Komodo  Survival Program dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT merekam binatang Komodo di Pulau Longos, tepatnya di sekitar Kampung Baru, Desa Nanga Kantor, Kecamatan Macang Pacar, dan di sekitar Dusun Kampung Bajo, Desa Pontianak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.

Kedua, ditemukan di Buntal, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar dan di sekitar  sekolah Madrasah Aliyah Swasta, di Lok Leson, Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur. Dan ketiga di Cagar Alam Wolo Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.

Merekam Komodo

Merekam Komodo

Selain itu Ekspedisi ini berhasil mengkonfirmasi kembali keberadaan Biawak Komodo di cagar Alam Wolo Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Ekspedisi ini juga menyimpulkan bahwa pada saat ini sudah tidak dapat dijumpai kembali keberadaan Biawak Komodo di Tanjung Watu Manuk dan di Teluk Maumere.

Dua lokasi tersebut sebelumnya pernah tercatat sebagai area sebaran Biawak Komodo (Ekspedisi Sutedja 1983; Bari 1988). Hal ini diduga  karena kondisi dari sebagian besar area tersebut sudah dikonversi menjadi pemukiman dan perkebunan (kebun kelapa).

Informasi keberadaan populasi dan sebaran Biawak Komodo di Hutan Lindung Pota, Cagar Alam Riung dan TWA 17 Pulau, yang pernah tercatat sebelumnya (Ariefiandy dkk, 2012; press release Balai Besar KSDA NTT, 2012; KSP-BBKSDA, 2014) akan dikonfirmasi kembali pada bulan Oktober 2015, yaitu pada saat kegiatan monitoring tahunan populasi Biawak Komodo di lokasi-lokasi tersebut.

Semoga catatan hasil perjalanan Ekspedisi Sebaran Populasi Biawak Komodo Flores tahap pertama ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk pihak -pihak terkait guna mendukung upaya konservasi Biawak Komodo khususnya di Flores

Demikian dijelaskan Peneliti Yayasan Komodo Survival Program (KSP), Ahmad Ariefiandy yang bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya (BBKSDA) NTT kepada Floresbangkit.com, Rabu (8/7/2015) melalui email.

Ariefiandy menjelaskan, Tahun  2015 Biawak Komodo (Varanus komodoensis) merupakan salah satu dari 81 spesies Biawak (King and Green 1999; IUCN Monitor lizard Spesialis Group database). Biawak Komodo merupakan jenis Biawak terbesar yang dapat mencapai panjang hingga 3 meter dan berat tubuh alami mencapai 87 kg (Jessop et al. 2006). Biawak Komodo (Varanus komodoensis) merupakan satwa endemik Indonesia yang mempunyai sebaran alami sempit dan terbatas di Taman Nasional Komodo dan beberapa tempat terpisah di pesisir Pulau Flores.

Ariefiandy mengatakan, Selama ini informasi keberadaan satwa komodo hanya diinformasikan terdapat di kawasan Taman Nasional Komodo yang meliputi ; Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gilimotang, dan Pulau Nusa Kode. Namun demikian dari hasil penelitian yang pernah dilakukan, ternyata selain di Taman Nasional Komodo keberadaan satwa purba Komodo dapat dijumpai di beberapa tempat di daratan Flores, sangat disayangkan informasi mengenai sebaran Biawak Komodo di luar kawasan Taman Nasional Komodo selama ini masih sangat terbatas dan cenderung sepotong-sepotong.

Adapun sebaran Biawak Komodo di Flores yang pernah dilaporkan antara lain: 1. Tanjung Watu-Manuk, Pantai Utara Ende.(Ekspedisi Sutedja tahun 1983 yang tercatat di dalam buku The Geology of East Nusa Tenggara) 2. Teluk Nangalili (Aufenberg, 1981) 3. Teluk Maumere (Bari, 1988), 4. Wae Wuul di Flores Barat hingga ke Nangalili di Flores Selatan (Ciofi dan DeBoer, 2004) 5. Pulau Ontoloe, Riung (Ariefiandy dkk, 2012; press release Balai Besar KSDA NTT, 2012) 6. Golo Mori dan Tanjung Karita Mese, Flores Barat (Burung Indonesia-BBKSDA-KSP, 2013), 7. Hutan Lindung (HL) Pota (KSP-BBKSDA, 2014).

Menurut Aufenberg (1981) Biawak Komodo cenderung hidup di daerah lembah pesisir pantai hingga ketinggian 800 m di atas permukaan laut yang masih memiliki area savana. Mengingat belum adanya informasi yang up to date (terkini) setelah penelitian-penelitian tersebut, dan informasi yang cenderung parsial, maka diperlukan adanya penelaahan kembali status sebaran populasi Biawak Komodo di Pulau Flores dan pulau sekitarnya secara keseluruhan.

Ariefiandy menjelaskan, mengacu pada fakta dan informasi yang tersedia saat ini, Yayasan Komodo Survival Program (KSP), bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) melakukan kajian sebaran dengan memetakan kembali sebaran biawak Komodo di Flores dan pulau-pulau di sekitarnya. Pelaksanaan kegiatan tersebut direncanakan secara bertahap mulai tahun 2015 hingga 2017.

Tahapan ekspedisi ini dilakukan untuk menyesuaikan kondisi musiman di perairan Flores, sehingga tidak memungkinkan untuk dilaksanakan satu tahap sekaligus. Pada Bulan Mei hingga Juni 2015, survey dilakukan mulai dari Labuan Bajo di Bagian Barat Flores hingga Maumere di bagian Timur-Utara Flores.

Pada tahap pertama ini dilakukan pemasangan camera trap di 43 lokasi titik pemantauan di lembah disepanjang garis pantai yang dilalui. Lokasi- lokasi tersebut, tidak termasuk lokasi di sekitar Riung dan Pota yang sudah menjadi agenda monitoring tahunan sejak tahun 2012 dan 2014.

“ Pada  2015, pemantauan di sekitar Riung dan Pota akan dilaksanakan di 32 lokasi titik pemantauan pada bulan Oktober 2015. Sehingga nantinya untuk tahap pertama di tahun 2015 secara keseluruhan terdapat 75 titik pemantauan sebaran Biawak komodo. Teknis pelaksanaan pemantauan sebaran Biawak Komodo dilakukan dengan cara memasang kamera pengintai (camera trap) yang diletakkan di setiap titik pemantauan,” jelasnya.

Kepala Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT, Maman Suharman  menjelaskan, pada setiap titik lokasi pemantauan dipasang dua buah alat kamera; yaitu kamera yang akan merekam gambar foto dan video.

Penentuan titik pemantauan atau pemasangan kamera pengintai dilakukan berdasarkan penggalian informasi yang mendalam terhadap keberadaan Biawak Komodo, terutama dari masyarakat sekitar kawasan dan berdasarkan tipe habitat dan bentang lahan yang diperkirakan disukai oleh Biawak Komodo.

Pada setiap lokasi pemantauan, kamera pengintai secara otomatis akan merekam gambar foto dan video Biawak Komodo yang melewati kamera tersebut. Untuk mengundang kehadiran Biawak Komodo ke depan kamera pangintai, maka diletakan kotak daging umpan di permukaan tanah dan sekantung daging umpan yang digantung di atas kotak umpan. Pemasangan daging umpan diusahakan agar tidak dimakan oleh Biawak Komodo, akan tetapi hanya untuk menyebarkan bau sehingga mengundang kehadiran Satwa Komodo di sekitar kamera pengintai.

Suharman menjelaskan, lokasi pertama ditemukannya Biawak Komodo yaitu di Pulau Longos, tepatnya di Dusun Kampung Baru, Desa Nanga Kantor Barat, Kecamatan Macang Pacar. Penemuan ini merupakan catatan dan dokumentasi pertama kali satwa Biawak Komodo dijumpai di Pulau Longos. Pada penelitian-penelitian sebelumnya belum pernah ada catatan penemuan biawak Komodo di Lokasi tersebut.

Walaupun sebelumnya sering tersebar kabar bahwa di Pulau Longos sering dijumpai biawak hijau. Selain itu, dari pengakuan beberapa penduduk Pulau Longos yang ditemui saat ekspedisi, meyakini bahwa selain jenis biawak air (Varanus salvator), terdapat pula Biawak Komodo.

Sampai dilakukan monitoring dalam ekspedisi kali ini, sebelumnya belum pernah ada yang berhasil memastikan ataupun mengidentifikasi satwa tersebut sebagai Biawak Komodo.

Selain satwa Biawak Komodo kamera pengintai juga merekan kehadiran Biawak Air (Varanus salvator) di Pulau Longos. Kondisi kawasan tempat ditemukannya Biawak Komodo maupun Biawak Air tersebut merupakan habitat hutan gugur terbuka yang merupakan kondisi khas hutan di Nusa Tenggara Timur dan hutan bakau. Pada lokasi tersebut juga banyak ditemukan sarang burung Gosong (Megapodius reindwart) atau yang dalam bahasa lokal biasa disebut dengan Wontong.

Selanjutnya Suharman menjelaskan, Lokasi kedua ditemukannya Biawak Komodo adalah di Buntal, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, yang merupakan hutan lindung dengan kondisi ekosistem savana dan hutan musim.

Lokasi habitat ditemukannya Biawak Komodo juga merupakan hutan gugur terbuka yang berbatasan dengan padang savana dan hutan bakau. Selain ketiga lokasi tersebut diatas, ada satu lokasi lainnya, yaitu di Sekitar Sekolah Madrasah Aliyah Swasta, di Lok Leson Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Di lokasi tersebut tim peneliti dari KSP berhasil melihat secara langsung kehadiran Biawak Komodo, namun kehadiran Biawak Komodo tersebut tidak berhasil terekam di lokasi penempatan kamera trap yang berjarak sekitar 1 km dari titik perjumpaan. Berdasarkan informasi dari warga sekitar, bahwa di lokasi tersebut memang sering dijumpai Biawak Komodo, namun belum pernah tercatat secara resmi sebagai lokasi sebaran Biawak Komodo.

Hasil sementara kegiatan Ekspedisi Sebaran Biawak Komodo Flores yang didapatkan dari 43 titik lokasi penempatan yang diidentifikasi dari kamera pengintai (camera trap). (Markus Makur)

 

Duta Besar India Resmikan LTS di Sikka dan TTS

Next Story »

Ben Mboi Diusulkan jadi Nama Pelabuhan Tenau

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *