Seandainya Ada Wisata Kuliner di Borong

Foto Ilustrasi : Salah satu Toko Sembako di wilayah Borong -Manggarai Timur. (Foto : Dokumentasi FBC)

Foto Ilustrasi : Salah satu Toko Sembako di wilayah Borong -Manggarai Timur. (Foto : Dokumentasi FBC)

Oleh Kanis Lina Bana

Geliat pembangunan di Manggarai Timur selama duet kepemimpinan Drs. Yoseph Tote, M.S-Agas Andreas, SH.MHum boleh dikatakan sudah mulai oke. Meski masih dibalut kabut soal, namun setidaknya, sudah memperlihatkan tanda-tanda kehidupan bagi rakyat di daerah yang baru diresmikan, 27 Nopember 2007 lalu.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Tentu kita bangga dengan perkembangan pembangunan yang represetanse ini. Kita salut dengan komitmen kerakyatan dua pemimpin perdana ini. Kerja keras bertenaga kuda keduanya, tidaklah berlebihan bila kita tengok, sekadar pembanding dengan daerah baru lain hasil pemekaran di NTT ini. Kesan menggoda pasti menyeruak dalam nada dasar yang sama; Borong pusat ibukota pelayanan masyarakat sudah jadi rumah hunian yang layak. Manggarai Timur sudah jauh lebih maju. Itu sebabnya Manggarai Timur jadi salah satu calon ibukota Propinsi Kepulauan Flores.

Kesan lebih maju dari daerah baru lain, bukan isapan jempol semata. Bukan sekadar cari muka dengan bupati atau wakil bupati agar dapat jatah proyek atau jabatan. Bukan pula sekadar pelipurlara bagi kedua pemimpin ini ketika lelah mengurus rakyatnya. Ini soal obyketivitas lensa pandangan. Karena memang, faktanya cukup banyak bercerita bila kita mengevaluasi dengan mata polos dan hati bening terhadap perkembangan pembangunan di Manggarai Timur.

Salah satu yang paling menonjol adalah desain pusat perkantoran di Lehong. Tak tanggung-tanggung ratusan miliaran dana dihabiskan untuk menata perkantoran yang bernapaskan budaya Manggarai itu. Kesan eksotik, natural nuansa budaya dan sentuhan modern membekas di lensa mata batin kita. Kita seolah-oleh terhipnotis ketika menjejakkan kaki di kantor bupati itu.

Mazmur Duka

Namun menjadi kontras bila kita ‘sejajarkan’ dengan lintasan jalan menuju Lehong. Infrastrktur jalan dari cabang Kembur hingga Lehong belum mendapat jamahan serius. Meski, soal ini, Bupati Yoseph sudah berjanji segera bangun. Tidak lama lagi. Tidak pakai tunda-tunda segala. Kita tunggu saja. Entah kapan, esok atau lusa? Tanyalah pada rumput-rumput liar di sepanjang jalan itu.

Kualitas pelayanan di unit-unit dinas dan kantor butuh standar kualifikasi yang memadai dan profesional. DPRD Manggarai Timur hingga naik pitam ketika membahas soal-soal yang membekab di dinas-dinas terutama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

Berawal dari reposisi tenaga guru honerer dan tenaga harian lepas di sekolah-sekolah. Yang bukan kualifikasi guru kembali ke habitatnya. Yang berhak mengajar hanya domainnya mereka-mereka yang berpendidikan guru. Yang bukan pendidikan guru lewat, harus rela turun meski sudah mengajar bertahun-tahun di suatu sekolah tertentu.

Kebijakan ini melahirkan protes keras dari mantan guru yang jadi korban. Beberapa tokoh masyarakat pun urung rembuk mempersoalkan kebijakan yang minus populis itu. Sebab patut diduga-tidak mutlak, ada ‘mafia’ dan praktek ketidakadilan. Beruntung semuanya kembali damai, arus protes berhasil diredam. Situasi pun normal dan kondusif.

DPRD Manggarai Timur lebih berang lagi terkait pembagian dana bantuan operasional sekolah daerah (Bosda) bagi guru-guru komite, tenaga harian lepas (THL) dan guru non sertifikasi yang menuai persoalan. Pasalnya ada guru yang sudah pernah dapat Bosda pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi tahun anggaran 2015 tidak ada jatah lagi. Dinas PPO Matim beralasan tidak memberi Bosda kepada oknum guru tersebut karena nama mereka tidak terkover dalam data base. Dinas PPO hanya mengucurkan dana Bosda bagi mereka yang ada nama.

Namun alasan ini tidak cukup mumpuni. Oleh guru-guru yang tidak ketiban jatah dana Bosda menilai argumentasi yang dibangun dinas itu sangatlah tidak logis. Hanya mau melempar tanggung jawab. Sebab dalam laporan bulanan, selain memuat perkembangan jumlah siswa/i juga mencantumkan nama-nama semua guru termasuk guru komite penerima Bosda. Lebih janggal lagi, konon katanya, ini juga dugaan ada guru komite yang baru mulai mengajar awal tahun 2015 tetapi sudah dapat jatah Bosda. Dimanakah akar soal sebenarnya? Entahlah. Mungkin human eror akibat virus ganas menyerang laptop dan komputer di kantor itu sehingga beberapa nama guru tidak berhasil direkam.

Lantaran serba tidak beres itu pula DPRD Manggarai Timur mengultimatum Dinas PPO agar segera membereskan data-data secara valid. Bahkan anggota Dewan Tarsan Talus mengusulkan agar anggota DPRD Manggarai Timur mendatangi sekolah-sekoiah, menginput nama guru-guru penerima Bosda. Langkah ini, paparnya dalam rapat Dewan beberapa waktu lalu sebagai strategis meminimalisir adanya kemungkinan praktek ketidakadilan itu. Sedangkan kekurangan dana Bosda akan diakomodir dalam pembahasan perubahan anggaran Tahun 2015.

Soal lain yang perlu mendapat ‘angle’ bidik pembenahan juga adalah air minum bersih yang tak kunjung mengalir di Borong ini. Padahal, jujur saja, pipa-pipa mulai dari ukuran mini seksi hingga raksasa sudah ada. Maka tidaklah heran jika tentang air yang serba kosong pada pipa-pipa itu muncul syair danding (danding merupakan salah satu jenis tarian daerah). “Bho ita pipa gili galang one salang. Kawe wae toe haeng”. Warga Borong terpaksa harus bersandar pada ‘kebaikan’ alam di Sungai Wae Bhobho bila hendak cuci pakaian atau mandi. Sedangkan untuk minum harus beli air mineral.

Penataan Pasar Inpres Borong masih morat-marit. Tumpang tindih. Belum dikemas lebih elegan. Padahal sudah ada bangunan megah berlantai II. Sayangnya sarana lantai II baru sebatas pelengkap dan jadi tempat buang hajat ketika sisa metabolisme dalam tubuh mengetuk perut.

Memang, pikiran seorang bupati dan wakil bupati tidak hanya tercurah ke Borong, pusat Ibukota Kabupaten Manggarai Timur saja. Masih banyak daerah lain di desa-desa dan kampung-kampung sana yang butuh sentuhan fasilitas pelayanan yang memadai. Kita percaya bahwa keduanya tetap dan selalu komit untuk rakyatnya. Soal waktu dan anggaran saja. Masih ada limit waktu tiga tahun lagi keduanya bisa bersih-bersih yang tidak beres-beres itu.

Andaikan Ada Wisata Kuliner

Akuistik Kota Borong cukup arsi. Dekat bibir pantai. Ada pesona wisata bahari Cepi Watu. Ada tiga anak sungai yang membela kota itu yaitu Sungai Wae Bhobho, Wae Reca dan Wae Laku. Sungai Wae Reca mengaliri hamparan sawah Waea Reca. Sungai Wae Bhobo mengaliri sawah Lolang dan Loba. Sedangkan Sungai Wae Laku sebagai batas barat wilayah kota, selain mencukup kebutuhan air bagi warga Toka, Sok dan sekitarnya.

Di bibir pantai ada bentangan pasir putih. Perahu nelayan berlabuh di muara sungai Wae Bhobho. Tak jauh dari jembatan pesisir pantai dan pasar Borong, persis di sisi jalan menuju Cepi Watu ada tambak ikan. Hampir setiap tahun di tambak ini ada alokasi dana untuk budidaya ikan. Sayangnya dananya habis, ikan pun hilang.

Yang menambah daya tarik di Kota Borong mulai bertambahnya fasilitas hotel dan kafe. Jumlah warung makan pelan-pelan merangkan banyak jumlahnya. Bangunan rumah penduduk sudah ada perubahan. Demikian fasilitas lain seperti bank sudah mencukupi. Lalulintas kendaraan bisa terkendali. Style hidup warga mulai berubah sesuai gendre perkembangannya. Akselerasi dan perputaran nadi ekonomi warga cukup membanggakan.

Di sungai Wae Bhobo sudah ada dua jembatan baru yaitu jembatan hulu dan hilir. Sayangnya dua unit jembatan ini belum dimanfaatkan. Memang kehadiran dua jembatan ini ditanggapi secara miris oleh masyarakat bukan karena telah menghabiskan banyak dana dan bukan kebutuhan mendesak, tetapi karena perencanaan, efektivitas dan tingkat kebutuhannya.

Namun di luar jangkaun nada miris ini, dua pemimpin Manggarai Timur ini punya proyeksi ke depan. Adanya jembatan ini bakal efektif kelak. Lintasan kendaraan dalam wilayah kota tidak akan terganggu. Dua unit jembatan yang ‘mengapiti’ jembatan utama Wae Bhobho menjadi alternatifnya. Ini yang perlu kita sepakati.

Ya..tentang Borong dan romantika perkembangan sebuah kota kabupaten. Saya sendiri punya mimpi. Andaikan ada lintasan jalan di bibir pantai mulai dari Dermaga Borong hingga jembatan di bibir pantai Wae Bhobho maka eksotik dan pesona Kota Borong akan semakin marak. Di sisi kiri kanan jalan di lintasan itu diberdaya. Pemerintah menyiapkan fasilitas berupa petak-petak pondok lalu disewakan kepada pengusaha-pengusaha kecil yang bergerak di bidang pelayanan jasa. Mereka menyiapkan warung-warung aneka masakan. Mulai dari masakan khas lokal, ikan bakar, sup bibir ikan atau masakan khas lainnya.

Lintasan itu jadi wisata kuliner. Bila senja kian merapat ke arah barat. Sunset senja mulai tenggelam di balik Pulau Mules ditambah temaran lampu di sepanjang jalan itu akan mengungkit pesona Borong. Borong bakal ramai dikunjungi. Borong jadi idola wisata kuliner. Bisa diprediksi ketika para pengunjung dan wisatawan lelah bermandi ria di Cepi Watu bakal menarik lelah bertandang ke wisata kuliner itu.

Di tempat ini, sambil menyaksikan birunya laut, hilir mudik perahu nelayan mencari ikan, buih ombak bercium-ciuman di bebatuan dan bibir dermaga ditemani aneka masakan membawa kepuasan dahaga para pengunjungnya. Kapan ya..Borong ada wisata kuliner? Kita tunggu saja. Semoga jembatan di bibir pantai Wae Bhobho menjadi sinyal positip ke arah itu. Sehingga kita dan siapa pun dia ketika berada di Borong selalu memendam nazar ini, “ Borong memang hebat. Borong pujaanku!”

“Tablet” untuk Lembata yang “Sakit”

Next Story »

Aparatur Sipil Negara dalam Pilkada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *