Savana yang Mulai Kering, Ratusan Ternak Terancam Mati

Kondisi ternak sapi terlihat kurus karena kesulitan memperoleh makanan akibat kekeringan (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Kondisi ternak sapi terlihat kurus karena kesulitan memperoleh makanan akibat kekeringan (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

BORONG, FBC–Ratusan ternak sapi, kerbau dan kuda di padang Mausui, Kota Mbesi, Tenda Rae, Bhera Ngizu hingga Lekoture di wilayah selatan Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur terancam mati menyusul panas panjang yang melanda wilayah tersebut.

Pakan alamiah yang membentang di savana tersebut sudah mengering. Kondisi tubuh ternak sudah memprihatinkan. Jika hujan tidak turun pada minggu-minggu mendatang dipastikan ternak itu bakal mati lemas. Sejauh ini sekitar delapan ekor ternak kerbau mati akibat panas panjang itu.

Pantauan wartawan Floresbangkit.com di padang itu belum lama ini kondisi tubuh ternak sudah kurus menyerupai gulungan tikar. Anak kerbau yang baru beranak hanya bertahan dua atau tiga hari lalu mati, sebab air susu dari induknya tidak cukup tersedia. Rumput-rumput sudah kering seluruhnya. Sejumlah ternak hanya merumput daun-daun di hutan.

Tidak jarang juga ternak-ternak itupun masuk kebun warga untuk makan batang pisang atau batang  ubi. Siang hari kerbau hanya berteduh di bawah pohon asam dan kesambi dekat Sungai Mausui. Sedangkan air di sungai itu sudah berlumpur dan terancam kering.

Emanuel Jiu dan Anton Ola  yang ditemui di padang Mausui, Minggu (19/7/2015) menjelaskan, sejak April 2015 persediaan pakan ternak di padang itu sudah tidak mencukupi. Rumput-rumput kering akibat panas panjang.

Sejumlah warga yang memiliki ternak selalu memantau perkembangan ternak masing-masing. Bagi kelompok ternak yang memiliki sumur, setiap hari datang timba air untuk ternaknya. Selain itu mengusir ternak ke hutan agar bisa mendapat rumput yang masih segar.

Sejauh ini, jelas Emanuel Jiu, sudah banyak ternak  yang mati. Umumnya ternak kerbau yang tidak bisa bertahan dengan kondisi alam. Sedangkan kerbau yang sudah berumur dan beranak beberapa kali masih bisa bertahan. Namun tidak menutup kemungkinan ternak-ternak yang ada bakal mati.

“Bentuk tubuhnya sudah menyerupai tikar yang digulung. Kempis hanya bertahan karena minum air saja. Tidak jarang juga ada yang sudah mati,” katanya.

Menurutnya, panas panjang tahun ini lebih mengerikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun ini pada Bulan April rumput sudah kering. Sedangkan tahun tahun sebelumnya Juli baru kering.

Melihat kondisi ternak di padang sudah mengkhwatirkan. Ada yang bisa bertahan namun ada pula yang mati, terutama ketika mereka merumput di tebing-tebing lalu terperosok dan mati terguling. Ada juga yang mati di tengah padang karena tidak bisa berjalan lagi.

Kondisi kekeringan di wilayah Manggarai Timur bagian selatan.  (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Kondisi kekeringan di wilayah Manggarai Timur bagian selatan. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

“Yang masih bisa bertahan umumnya ternak sapi dan kuda, namun fisiknya kurus. Sedangkan ternak kerbau sangat mengkhwatirkan,” jelasnya.

Dia memprediksikan, bila sampai Septermber tidak ada hujan maka bisa dipastikan ternak kerbau yang tidak ikat  bakal mati semua. Karena itu sarannya, apabila ada ternak kerbau saat ini sebaiknya ditangkap dan diikat agar bisa mengatur pakan dan air.

“Kalau ternak diikat bisa atur persediaan pakanya. Misalnya iris batang pisang atau rumput hijau lainnya. Jika dibiarkan lepas ternak hanya bertahan di padang saja,” katanya.

Untuk diketahui umumnya masyarakat pesisir selatan Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur beternak sapi, kerbau dan kuda. Ternak tersebut merupakan warisan orang tua atau leluhur sebelumnya.

Selain panas panjang yang mengakibatkan ternak mati juga pernah dilanda bencana penyakit. Karena itu setiap pemilik ternak selalu rutin memperhatikan perkembangan ternak-ternaknya.

Laporan Kanis Lina Bana, Kontributor FBC Borong

Cuaca Buruk, 400 Peserta Jambore Tertahan di Ende

Next Story »

Upaya Bupati Lembata Memenjarakan Ferdi Koda Bakal Tersandung

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *