Polres Flotim Tangkap Penjual Insang Pari Manta Saat Transaksi di Hotel

Ikan pari manta yang dilindungi namun sering ditangkap nelayan Lamakera Flores Timur dan insangnya diperjualbelikan. (Foto : Mongabay.co.id  )

Ikan pari manta yang dilindungi namun sering ditangkap nelayan Lamakera Flores Timur dan insangnya diperjualbelikan. (Foto : Mongabay.co.id )

LARANTUKA, FBC - Kepolisian Resort (Polres) Flores Timur (Flotim) menangkap penjual insang ikan pari manta H.Saban Jalil (47) asal desa Lamakera kecamatan Solor Timur.

Penangkapan pelaku yang bertugas sebagai pengumpul dan penjual ini terjadi tanggal 3 Juli 2015 saat pelau sedang melakukan transaksi di hotel Lestari di jalan Yos Sudarso kelurahan Lokea kota Larantuka.

Saat ditangkap di hotel, pelaku membawa 25,7 kilogram insang ikan pari yang hendak dijual kepada seorang dari lembaga swadaya masyarakat yang menyamar sebagai pembeli. Pelaku langsung dibawa ke Polres Flotim dan dimasukan ke dalam sel tahanan. Pelaku saat ini sudah ditetapkan menjadi tersangka setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif di Mapolres Flotim.

Hal ini disampaikan kepala sub bagian hubungan masyarakat (Kasubag Humas) Polres Flotim, Iptu Erna Romakia kepda FBC, Rabu (08/07/2015 ). Erna membenarkan, saat ini pelaku sudah ditetapkan tersangka dan pihak penyidik sedang memeriksa saksi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Flotim untuk melengkapi bukti-bukti agar kasusunya segera dilimpahkan ke kejaksaan.

“ Kami terima informasi dari Bareskim Mabes Polri bahwa di Lamakera ada penyuplai ikan pari manta yang dilindungi,“ ujarnya

Setelah mendapat informasi, beber Erna, Polres Flotim dipimpin Kasat Reskrim Polres Flotim, AKP Antonius Mengga bersama anggota buru sergap (Buser) yang dipimpin Kanit Buser Brigpol Maksimus Banase bergerak menuju hotel Lestari dan menangkap pelaku saat sedang melakukan transaksi.

Pelaku sebut Erna, langsung digiring ke Polres Flotim bersama barang bukti 25,7 kilogram insang ikan pari tapi yang jenis pari Manta hanya 12,9 kilogram bersama uang sejumlah 2,4 juta rupiah. Setelah diperiksa pelaku saat itu juga langsung ditahan dan setelah menjalani pemeriksaan rutin, pelaku langsung ditetapkan menjadi tersangka.

Tersangka beber Erna, dikenakan pasal 88 junto pasal 16 ayat 1 dan pasal 100 juncto pasal 7 ayat 2 huruf m dan n Undang – Undang nomor 31 tahun 2004 ditambah UU No.45 tahun 2009 tentang perubahan UU No.31 tahun 2004 tentang perikanan juncto keputusan menteri kelautan dan perikanan no 4/kepmen – KP/14 tentang penetapan status perlindungan penuh pari Manta. Akibat perbuatannya, sambung Erna, pelaku dikenakan ancaman hukuman 6 tahun penjara serta denda sebanyak 250 juta rupiah.

Insang pari Manta sebanyak 12,9 kilogram yang disita dari pelaku dan dijadikan barang bukti bersama uang sebanyak 2,4 juta rupiah.( Foto : FBc/Ebed de Rosary)

Insang pari Manta sebanyak 12,9 kilogram yang disita dari pelaku dan dijadikan barang bukti bersama uang sebanyak 2,4 juta rupiah.( Foto : FBc/Ebed de Rosary)

Irma Herawati, Legal Advisor Wildlife Crime Unit atau Wildlife Conservation Society ( WCU/WCS ) kepada wartawan menyebutkan, pelaku merupakan pengepul besar yang sudah dua bulan terakhir diintai gerak-geriknya. Profil lelaki asal Lamakera itu, didapat dari hasil pengembangan kasus perdagangan pari manta awal 2015 lalu di Surabaya.

Pelaku ujar Irma, merupakan pemain lama yang telah melakukan penjualan insang pari manta dalam 10 tahun terakhir. Sebelum adanya aturan perlindungan pari manta pada Januari 2014 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4/KEPMEN-KP/2014, tentang pelarangan penangkapan dan perdagangan pari Manta dan bagian-bagian tubuhnya, pelaku beber Irma, telah menjalankan bisnis jual beli tersebut.

“Sebelum regulasi ada, dia melakukan perdagangan melalui jalur resmi dengan meminta surat dari dinas terkait yang dikirim dari Kupang melalui jalur udara. Tujuannya Jakarta, Surabaya, dan Ujung Pandang.” tuturnya.

Sesudah peraturan perlindungan pari manta hadir, lanjut Irma, pelaku tetap melakukan penyelundupan dari Maumere ke Surabaya. Hanya saja, kali ini jalur laut yang dipakainya karena lebih “ kendor ” pengawasannya. Pelaku pasti mengetahui bahwa ikan pari manta dilindungi, namun sambung irma, karena keuntungan yang didapat sangat menggiurkan maka ia tetap melakukan.

Pelaku sebut Irma memiliki surat berita acara pemeriksaan insang pari manta, tulang, dan kulit yang dikeluarkan Dinas Perikanan Kabupaten Larantuka tertanda Juni 2014. Sejak tahun 2015, pelaku menyelundupkan langsung pari manta melalui kapal laut.

Irma menuturkan, dengan kegiatan ilegalnya itu, pelaku melanggar UU 31/2004 tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 45/2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang 31/2004 juncto Keputusan Menteri 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta. “Pelaku bisa dijerat pelanggaran pasal 7 dengan sanksi di pasal 100, kemudian pasal 16 dengan sanksi pasal 88 UU 31/2014. Ancaman pidana paling lama 6 (enam) tahun penjara dan denda paling banyak 2 miliar rupiah. ( ebd )

Pemkab Flotim Bantu Dana Perbaiki Kapela Bunda Maria Reinha Balawelin

Next Story »

Jual Insang Pari Manta, Haji Saban Mengaku Tak Tahu Ada Larangan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *