Pedagang TPI Langgar Kesepakatan, Pasar Tengah Kota Kembali Dibuka

LEWOLEBA, FBC-Puluhan perempuan pedagang ikan dan sayur dari pasar Pada-Lewoleba,  ngamuk dan kembali menggelar lapak jualan di Taman Hiburan Rakyat (THR) kota Lewoleba, Kabupaten Lembata. Aksi nekat puluhan perempuan itu dipicu pedagang pasar TPI yang kedapatan melanggar kesepakatan. Kendati dihadang Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP), pedagang nekat melawan, beberapa diantaranya terlihat mempersenjatai diri dengan parang dan pentungan kayu.

Pedagang ikan dan sayur asal Pasar Pada juga datang ke DPRD Lembata. Tampak dalam gambar,  Anggota DPRD Lembata, Petrus Bala Wukan (baju coklat bergaris putih) menemui pedagang di teras kantor. (Foto FBC/Yogi Making)

Pedagang ikan dan sayur asal Pasar Pada juga datang ke DPRD Lembata. Tampak dalam gambar, Anggota DPRD Lembata, Petrus Bala Wukan (baju coklat bergaris putih) menemui pedagang di teras kantor. (Foto FBC/Yogi Making)

Sebagaimana disaksikan FBC, Senin (29/6/2015) sekitar pukul 16.30 wita, puluhan pedagang sayur dan ikan asal pasar Pada tiba-tiba datang ke taman kota dengan menumpang dua mobil pick up dan langsung menggelar lapak. Puluhan Sat. Pol PP yang berjaga-jaga sejak siang hari di sekitar taman kota datang menghalau. Tak disangka, puluhan perempuan yang sering dikejar Sat Pol PP karena berjualan di tengah kota ini, kompak melawan, berteriak memaki sambil mengacung parang dan pentungan kayu ke arah anggota Sat. Pol. PP.

“Hari ini kami tidak takut lagi. Saya bilang jangan ada yang coba-coba sentuh barang-barang kami. kami datang untuk siap mati, suruh kamu punya Bupati itu untuk tutup pasar TPI, kalau tidak kami tetap berjualan di tengah kota ini. Kamu mau apa? Jadi Bupati suruh kamu Pol PP ini datang untuk usir kami? kami tidak takut. Kamu mau apa? Ayo teman-teman, atur barang-barang jualan. Kita mau tau, siapa yang berani usir kita disini. Jangan takut dengan Pol PP ini,” kata Zubaidah, memotifasi rekan-rekannya.

Beberapa anggota Sat. Pol PP yang hendak menghalau pedagang tampak tak bisa berbuat banyak. Banyak diantaranya terlihat memilih untuk menghindari pedagang.

“Kami ditugaskan untuk jaga disini tetapi saya tidak mau berkelahi dengan masyarakat. Mereka itu saudara-saudara saya juga,” kata salah satu anggota Sat Pol PP yang menolak untuk namanya ditulis, kepada FBC.

Sebagaimana pantauan FBC, puluhan pedagang pasar itu sudah datang mengadu ke Dinas Perikanan Kabupaten Lembata sebagai pengelola pasar TPI, juga mendatangi kantor Sat. Pol PP dan DPRD Lembata. Kepada pemerintah dan DPRD puluhan pedagang itu mendesak agar pasar TPI segera di tutup. Menurut mereka Sabtu (27/6/2015) pukul 13.55 pedagang TPI kepergog membuka lapak jualan.

Tindakan nakal beberapa pedagang TPI itu melanggar kesepakatan antara pemerintah dan pedagang TPI. Salah satu poin kesepakatan yang tertuang dalam surat pernyataan besama yang ditandatangani oleh Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, Sekda, dan perwakilan pedagang TPI dan Pasar Pada, menyatakan pasar TPI dijadikan sebagai pasar senja dan di buka dari pukul 15.00 hingga malam hari. Sementara pagi hari, pedagang TPI berjualan di pasar Lamahora.

Kesepakatan itu, ditandatangani oleh para pihak, sebagai solusi untuk mengakhiri kekisruhan soal pasar yang di beberpa bulan silam. Dalam kesepakatan itu ditegaskan juga, apabila Pedagang TPI kedapatan melanggar kesepakatan, maka pasar TPI di tutup untuk selamanya.

Anggota DPRD Lembata, Petrus Bala Wukak kepada pedagang di teras kantor DPRD meminta puluhan perempuan pedagang ikan dan sayur asal pasar Pada itu untuk menahan diri. DPRD segera berkoodinasi dengan pemerintah untuk dicarikan jalan keluar.

Permintaan Bala Wukak itu ditolak tegas oleh pedagang, mereka mengancam untuk kembali membuka lapak jualan di pasar kota Lewoleba. Menurut mereka, pedagang TPI tidak boleh diberi toleransi, karena telah mengangkangi kesepakatan yang mereka buat bersama.

Kehadiran mereka di DPRD juga membawa serta beberapa lembar foto aktifitas penjualan di pasar TPI yang dipotret seseorang pada Sabtu, (27/6/2015) dengan menggunakan kamera HP.

“Kami punya bukti. Pak bisa lihat sendiri. Di foto ini tercatat tanggal dan jam. Mereka sudah langgar kesepakatan jadi TPI harus ditutup. Kalau tidak, sebentar jam 3 sore kami datang jualan di tengah kota. Kami tidak takut, kami sudah siap untuk mati, nanti kami datang bawa parang. Tadi kami juga sudah temui Kadis Perikanan, tetapi dia bilang tunggu dia koordinasi dengan Bupati dulu, dan kami lebih marah lagi karena pak Sius Amuntoda bilang kami suka cari kesalahan orang di pasar TPI,” kata Irawati, perempuan yang mengaku sebagai pedagang ikan.

Pedagang juga menuduh kalau pasar TPI sudah di kontrak oleh pedagang senilai Rp. 75 juta, mereka mengatakan nilai kontrak sebesar itu dibagi dua antara Bupati dan Kepala DKP.

Terkait tuntutan dan tudingan pedagang itu, Kadis Kelautan dan Perikanan Kabupaten (DKP) Lembata Athanasius Aur Amuntoda ditemui, Senin (29/6/2015) di ruang kerjanya mengatakan, kesepakatan tentang dibukanya pasar TPI pada sore hari itu antara Bupati dan pedagang. Setelah menerima pengaduan warga pedagang pasa Pada, dirinya meminta waktu agar guna menyampaikan telaan kepada Bupati. Namun demikian, usul Amuntoda itu di tolak pedagang, mereka tetap mendesak agar pasar TPI ditutup.

“Betul bahwa pasar TPI itu ada di bawah pengawasan DKP, tetapi keputusan soal pasar TPI menjadi pasar senja ditangan Bupati, karena itu saya harus menyampaikan kepada bupati soal aduan dari pedagang TPI, tetapi pedagang tolak. Mereka paksa saya untuk tutup TPI sekarang. Saya bilang mekanismenya tidak bisa begitu, mereka harus tahan diri dan berikan pemerintah kesempatan untuk selesaikan,” jelas Amuntoda.

Mendengar pertanyaan FBC soal tuduhan pedagang tentang adanya uang kontrak dari pedagang TPI, Athansius Amuntoda tertawa. Dia mengatakan, biarkan saja masyarakat menilai. Baginya pasar TPI itu dibuka untuk membantu masyarakat.

“Tidak apa-apa, biarkan saja mereka menilai seperti itu, prinsipnya pasar TPI itu dibuka untuk membantu masyarakat, tidak ada gunanya saya tanggapi tudingan itu,” pungkas Amuntoda. (Yogi Making)

Anak-anak akan Dikenalkan dengan Olahraga Tradisional

Next Story »

Heboh, Sat Pol PP Pukul Pedagang di Taman Kota Lewoleba

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *