Orang Rongga : Antara Jati Diri dan Marginalisasi

Foto Ilustrasi : Kondisi kekeringan di wilayah Manggarai Timur bagian selatan.  (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Foto Ilustrasi : Kondisi kekeringan di wilayah Manggarai Timur bagian selatan. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

Oleh Kanis Lina Bana

Bagi orang Rongga, membaca judul tulisan kecil ini bisa saja mengumpat saya yang terlanjur berani melecutkan refleksi ini ke hadapan publik. Betapa tidak, refleksi ini, setidaknya mencungkil keadabaan orang Rongga serta mengganggu eksistensinya.

 Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Kanis Lina Bana, Kontributor FBC di Manggarai

Apakah ada yang tidak beres sehingga perlu dicuatkan ke hadapan publik melalui media bermartabat ini? Apakah ada terpaan godaan yang menyulut dan menjurus ke arah yang   menyudutkan sehingga komunitas Rongga tersingkir?

Refleksi kecil ini, sebenarnya, bukan ‘tonjokkan’ yang mematikan daya kreativitas dan keadaban yang terberikan dan mewaris yang sudah lama merekat di dalam komunitas etnik Rongga itu. Tetapi lebih sebagai alarm, awasan dan ketukkan kesadaran nubari agar orang Rongga mawas diri, tidak terjebak dalam pusaran kemajuan yang cendrung menggerus keadaban dan jati dirinya.

Kita, sebagai komunitas Rongga, perlu menghayati seluruh jejak ziarah beserta kekayaan manifesto yang melekat di dalamnya. Dengan itu kwalifikasi jati diri dan eksistensi orang Rongga tetap melekat erat, mewaris dan abadi.

Mengusut Kedalaman

Harus diakui publikasi ilmiah yang memuat histereografi peradaban komunitas orang Rongga sangat sulit ditemukan. Bahkan hampir tidak ada. Jika ada segelintir akademisi yang mencoba menerobos masuk ke kedalaman sejarah usul-asal dan peradaban orang Rongga, masih sebatas informasi untuk kepentingan pribadi atau lembaganya. Sementara publikasi dokumentasi lebih luas dan bersifat warisan sejarah belum ada.

Tidak heran, jika dalam konteks sejarah Manggarai, komunitas warga yang mendiami kawasan selatan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur ini disamakan begitu saja dengan kerajaan Tanah Dena. Padahal eksistensi komunitas ini dari sisi histereografi memiliki jejak asal-usul riwayat penyeberangan serta peradabannya sehingga martabat dan jati dirinya tetap merujuk pada butiran kekayaan yang terwariskan itu.

Memang selama ini tercuat niat dari segelintir kelompok orang atau individu Orang Rongga sendiri yang mencoba mengusut dan mengumpulkan butir peradaban yang dimiliki etnik Rongga. Namun belum berhasil dilestari-abadikan dalam bentuk lebih luas dan bersifat menyejarah. Masih berupa naskah bundelan atau diklat dan cendrung menonjolkan kualifikasi suku dari mana orang atau informan tersebut berasal. Sehingga kesan eksklusivisme dan primordial sulit terbantahkan. Akibatnya hingga detik ini belum ada publikasi buku yang bersifat sejarah dan abadi. Kalau pun ada hanya mencatat satu dua butir kecil saja dari misteri besar peradaban yang dimiliki komunitas Rongga.

Realitas minor ini semakin miris lantaran narasi-narasi, fragmen-fragmen, folkor lisan, seni bertutur, cerita rakyat, peribahasa, kerajinan tangan dan kebiasaan serta tradisi yang merekat dan mewaris itu mulai, bahkan sudah terjerembab akibat terpaan badai zaman. Dan ini, sesungguhnya, telah menjadi ‘cengkraman’ serius hari ini maupun esok. Yang kasat terlihat, sejauh ini, adalah pergeseran paradigma budaya sebagai akibat dari adanya internalisasi internal maupun eksternal. Baik melalui perdagangan, perkawinan maupun kepentingan lainnya.

Bahasa Rongga, misalnya, sudah sampai pada stadium paling kronis bahkan sudah mulai punah. Beberapa idiom atau ungkapan tertentu yang mengandung spiritualitas perekat kemasyarakatan sudah tidak tahu menahu lagi. Kondisi ini meluas hampir di semua wilayah Rongga. Hal itu terindikasi dalam keseharian, di mana tak jarang dalam berkomunikasi sering menggunakan bahasa lokal etnik lain. Padahal mereka tinggal dan hidup di wilayah komunitas Rongga. Bahkan sesama warga Rongga dalam sapaan biasa pun sudah lazim dan wajar menggunakan bahasa lokal etnik lain.

Contoh konkret yang sederhana. Ketika bertemu sesama warga Rongga tegur sapa yang terjad sering menggunakan bahasa lokal etnik lain, “Zo one le!” (terjemahannya, pergi ke mana?) Ini bukan bahasa Rongga. Seharusnya sapaan menggunakan bahasa Rongga, “pe nde le!”

Bagi saya fakta ini, dalam konteks peradaban bahasa komunikasi dan dialog sudah menjurus ke arah kehancuran dan kepunahan bahasa Rongga. Bahkan ancaman tersebut, sudah sampai stadium kritis tingkat tinggi, miris dan mengkhawatirkan. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, tidak ada upaya untuk menyelamatkan melalui kebiasaan, pemberdayaan dan publikasi, maka cepat atau lambat orang Rongga akan kehilangan identitasnya.

Selain bahasa dan idiom yang sudah tercemar, harus diakui juga, bukan menuduh, adanya intervensi pemerintah dekade silam yang mengeneralisir begitu saja budaya lokal ke dalam satu kebudayaan Manggarai turut meruncing kekisruan tersebut. Lalu kita sebagai orang Rongga, apakah terus terlena dan lelab dalam perubahan yang seolah-olah lumrah tersebut? Kalau demikian penghayatan yang kita amini maka orang Rongga sebenarnya sudah terpinggirkan dan semakin dimarginalisasi.

Unik dan Istimewa

Meski termasuk golongan minoritas, tetapi kekayaan peradaban yang terkandung di dalam spiritualitas kebersamaan orang Rongga tak tertandingi di belahan dunia ini. Sangat kaya, bermakna dan berjiwa. Segala hal yang berkaitan dengan hidup, alam lingkungan dan Tuhan terpelihara dalam kebajikan yang bestari. Boleh dikatakan komunitas kecil yang bermukim di Desa Watunggene, Komba, Bhamo dan Tanah Rata ini adalah bejana indah yang unik, khas dan istimewa.

Pertanyaan yang menggetarkan nubari terdalam kita adalah mengapa orang Rongga mudah tergoda dengan pengaruh yang menjurus kepunahan peradaban? Selain mudah tergoda mengapa orang Rongga kalah bersaing dalam kompetisi menduduki jabatan strategis di bidang pemerintahan dan politik? Pertanyaan ini terasa janggal dan menor bila dipetakan dalam aras kemerdekaan Republik Indonesia. Sebab Undang-Undang memberi ruang yang sama dalam memperoleh dan mengisi kemerdekaan.

Namun bila berhening sambil menoleh jejak ziarah dan kecakapan orang Rongga dalam seluruh kompleksitasnya, harus diakui akselerasi terhadap pendidikan dan penataan sumber daya manusia adalah pemicunya. Orang Rongga lamban mempersiapkan SDM yang mumpuni. Bandul pergerakkan menangkap peluang di bidang ini masih dihantui kecemasan, was-was galau akibat kungkungan ring keterbelakangan. Kondisi ini semakin runyam dan renyah karena kompetisi sesama orang Rongga sendiri jarang terjadi.

Lebih mencemaskan lagi, menatap ke luar terhadap hal-hal positip terkait pengembangan sumber daya manusia masih rabun. Masih saja berkutat dengan hal-hal periferi semata. Itu sebabnya orang Rongga agak atret di bidang SDM. Entah apa yang melingkup batok kepala orang Rongga yang menyebabkan akselerasi di bidang pendidikan tidak berjalan semestinya. Sangat boleh jadi, kesadaran dari dalam belum mekar plus intervensi pihak luar terutama misionaris asing tidak berjalan semestinya. Masih menganggap sebelah mata terhadap kelompok minoritas ini.

Perkembangan di bidang SDM baru mulai terasa sejak pemilu Orde Baru tahun 1977, namun hanya satu atau dua orang saja yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana. Perkembangan selanjutnya baru mulai menunjukkan tanda-tanda baik sekitar dekade 80-an. Itu pun berkembang setelah adanya keterbukaan dalam sistem perkawinan. Banyak pemuda-pemuda Rongga yang mengambil resiko, melompat ke daerah lain menikah dengan pemudi atau gadis dari etnik lain. ‘Kolaborasi’ ini turut membongkar pemahaman sehingga pendidikan anak bisa diperhatikan secara serius.

Menghirup Kebajikan

Jika selama ini komunitas warga yang mendiami wilayah pesisir selatan sering ‘dibabtis’ dengan sebutan suku Rongga, sesungguhnya, sebutan ini salah kaprah. Sebab sepengetahuan saya, sejauh penelusuran selama ini tidak ada suku yang namanya suku Rongga di wilayah itu. Hanya saja, yang ada mayoritas penduduknya adalah orang Rongga yang berasal dari beberapa klen suku-sukunya. Masing-masing suku memiliki riwayat penyeberangan dan eksistensinya yang ditandai dengan “nggae”

‘Nggae’ merupakan kidung mazmur yang didalamnya memuat sejumlah riwayat, jejak kesatria, kebijakan, kebajikan dan kearifan hidup sekaligus mempresetasekan keagungan dan kebesarannya. Pesan makna yang termuat dalam Nggae tidak bisa diimprovisasi secara bebas. Setiap suku, ketika ritual tertentu berlangsung, terutama Tarian Vera selalu mendaraskan syair-syair yang mewaris itu. Makna tersurat atau pun tersirat serentak membahasakan keadaban sekaligus ‘keajaiban’ suatu suku itu.

Tarian Vera, menjadi prosesi khas bagi orang Rongga. Tarian ini tidak ditemukan di daerah lain. Gerak, irama, syair-syairnya serta moment pertunjukkan hanya berlangsung di saat-saat tertentu dengan intensi yang khsusus pula. Selain Vera masih terdapat banyak situs-situs peninggalan maupun filsafat hidup yang kokoh.

Bersatulah Orang Rongga

Di masa pembangunan ini, di saat Manggarai Timur otonom orang Rongga mulai mendapat tempat di ruang publik. Meski masih terbatas lantaran SDM yang terbatas, tetapi ruang mengekspresikan potensi dan kekayaan budaya cukup signifikan. Perhatian pemerintah seperti ini membuat orang Rongga semakin percaya diri, mampu bersaing di tengah tata dunia serta kembali pulang pada kesejatian hidupnya.

Orientasi pemerintah ke wilayah selatan Kota Komba berikut pemberdayaan kekayaan-kekayaan yang dimiliki di kawasan orang Rongga menjadi menivestasi ksejatian keadaban kita. Jalan raya, rencana pembangunan bandara di Tanjung Bendera adalah oase kehidupan yang menjanjikan harapan hidup. Karena itu bersatulah wahai orang Rongga. Jangan ambisi, jangan pula menanam benih kanibal. Tidak pula menglaim diri sebagai penguasa. Kita perlu bersatu dan filosopi kita. Mae bheka kea mo bheto beka. Kita le pepi-pepi mo nata jawa. Le kopo mo nio keo, ghera kua nggili nua.

Bersatulah wahai saudara-saudariku orang Rongga. Jangan ada dusta diantara kita. Kita harus sehati, sesuara mengekspresikan jati diri kita secara beradab dan bermartabat. Hanya dalam kebersamaanlah kita kuat dan kokoh. Semoga !!!.

 

Dunia Maya (Facebook) dan Viktimisasi Korban

Next Story »

Budaya Baca di Lingkungan Sekolah, Membaca AGUPENA Flotim

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *