Mbero, Kampung Tua yang Masih Terisolasi

 Salah satu lintasan jalan setapak menuju Kampung Mbero jika hendak bepergian dari Lekolembo menuju Mbero. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)


Salah satu lintasan jalan setapak menuju Kampung Mbero jika hendak bepergian dari Lekolembo menuju Mbero. (Foto : FBC/Kanis Lina Bana)

BORONG, FBC-Menyebut Mbero, identik dengan ketertinggalan, kolot. Pasalnya, masyarakat yang bermukim di lembah Mbero sangat terisolir, jauh dari sentuhan pembangunan. Jalan raya sebagai akses pertukaran informasi lintas kepentingan, air minum bersih, sarana kesehatan masih jauh dari semuanya. Pergulatan mereka ibarat derita yang tak kunjung putus.

Kepada Floresbangkit.com, Ketua RT Mbero, Yoseph Lao menceritakan, Kampung Mbero merupakan salah satu anak kampung di wilayah Desa Bhamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Jalan menuju ke kampung itu bukanlah perkara gampang. Bisa melewati Kisol, Muting lalu mendaki ke Mbero. Jalan dari Muting menuju Mbero ibarat bertarung dengan maut. Jalan bebatuan. Pada tikungan batu berserakkan. Bila musim hujan lebih para lagi. Sangat licin.

Jalur lain bisa melalui Munde , Paundoa, sudah aspal. Dari ujung Kampung Paundoa, Wolosambi Bhamo hingga Mbero masih telfrof. Konon pekerjaan telford hanya lego saja batu-batunya sehingga tidak teratur. Mbero berada di wilayah selatan. Agak pendalaman di bawah lembah sisi kiri Nua Olo.

Menurutnya, kendala yang dihadapi masyarakat adalah belum tersedianya fasilitas umum seperti jalan, air minum bersih dan sarana kesehatan. Untuk mencukupi kebutuhan air minum warga harus berjaga berjam-jam di Wae Peto. Titik-titik air Wae Peto menetes pelan seperti pelu warga menanti di pinggir mata air yang sudah mereka rasakan sejak zaman dulu itu. Meski titik-titik air jatuh pelan karena debitnya sangatlah kecil, mereka harus bertahan. Sebab Wae Peto telah menjadi suratan nasib bagi warga Mbero.

Selain Wae Peto, demikian Yoseph La’o ada mata air Wae Rano. Letaknya ada di lembah dengan tingkat kemiringan yang cukup dalam. Hanya orang-orang sehat atau kebetulan ke kebun mereka timba air itu. Selebihnya warga setempat hanya bersandar pada hukum alam di mata air Wae Peto.

“Pernah ada tim ukur. Katanya mau bangun subur bor, tetapi sampai saat ini tidak jelas lagi. Kayaknya tim yang datang survei belum rasa ‘lapar’. Kalau lapar mereka pasti datang lagi dan menjanjikan kepada kami. Kami sangat butuh air dan jalan,” ujar beberapa warga Mbero yang enggan menyebutkan namanya.

Dari dulu hingga kini, tutur mereka, masyarakat Mbero seperti bertarung dengan maut. Melumat dengan keterkungkungan isolasi. Saban hari masyarakat setempat berjuang mempertahankan hidupnya. Umumnya mereka bekerja sebagai petani sawah dan berkebun. Kehidupan bertani ini didukung dengan alam Mbero yang amat subur. Panenan sawah dan ladang mereka selalu cukup. Demikian jagung. Hampir di setiap rumah penduduk ada lumbung padi yang oleh warga setempat disebut tongga pare. Di loteng dekat tungku api penuh sesak dengan jagung yang sudah diikat.

Selain itu ada tanaman kemiri, coklat dan kopi. Hasil panenan setiap tahun sangat menjanjikan. Ketergantungan kehidupan ekonomi keluarga pda komdoti itu sangat tinggi. Bahkan menjadi satu-satunya. Ada beberapa warga yang memiliki ternak sapi, namun pemasaran selalu kandas.

“Kalau dari sisi komoditi pertanian kami merdeka, tetapi dari fasilitas jalan dan air minum bersih sangat melarat. Seperti hidup enggan mati tak mau. Komoditi bisa dijual ke Borong dua minggu sekali. Itupun setelah kami telepon pemilik kendaraan datang jemput. Sopir tidak mau operasi rutin ke Mbero mengingat jalan sangat buruk. Tidak itu saja, ibu hamil melahirkan lebih cendrung menggunakan jasa dukun kampung. Mau ke pustu jalan buruk. Khwatir bisa melahirkan di jalan,” beber Ketua RT Mbero, Yoseph La’o.

Dia menjelaskan, Mbero terdiri dari dua anak kampung yakni, Waru dan Wolo Roka. Wolo Roka merupakan pemekaran dari Mbero dan Waru sejak tahun 1980-an. Warga bertahan hidup di Wolo Roka karena tanaman pertanian peninggalan proyek dulu sudah layak panen. Puluhan KK sudah menetap di sana. Mereka pun mendirikan kapela untuk berdoa. Inisiatif mendirikan kapela berdasarkan pertimbangan kebutuhan. Warga Wolo Roka merasa perlu ada kapela yang berafialisi dengan kapela induk di Mbero.

La’o mengakui, omong tentang Mbero seperti litani duka yang tak kujung putus. Hingga kini nyanyian derita mereka tetap nyaring. Harapannya di masa pembangunan ini, ketika Manggarai Timur sudah berdiri otonom, setidaknya masih menganggap Mbero adalah bagian dari Manggarai Timur juga. Itu berarti pembangunan jalan yang disinyalemen sudah ada Rp 1,7 M bisa terealisir. Jika jalan sudah lapen, praktis sumur bor bakal segera terlaksana. Sebab konon dipindahkannya sumur bor dari Mbero ke Wolo Mboro hanya karena alasan jalan ke Mbero belum ada jalan untuk angkut sarana bor yang bertonase 4 ton itu. Warga mengharapkan jalan dan air bisa terpenuhi. Sebab dua sarana itu sangat dibutuhkan warga setempat.

Laporan; Kanis Lina Bana

Kontributir FBC Borong-Manggarai Timur

PDIP NTT Bertekad Menangkan Pilkada di 9 Kabupaten

Next Story »

HUT Santa Ana Thomas Morus, Keluarga Perlu Tanamkan Nilai Solidaritas dan Tanggungjawab

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *