Lima Proyek Gagal, Warga Koro Gali Lubang di Pinggir Kali untuk Dapatkan Air Bersih

Marsiani bersama Emanuel Digu warga dusun Koro desa Reroroja sedang mengambil air untuk minum dari lubang yang dbuat di pinggir kali. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Marsiani bersama Emanuel Digu warga dusun Koro desa Reroroja sedang mengambil air untuk minum dari lubang yang dbuat di pinggir kali. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

MAUMERE, FBC - Ratusan kepala keluarga warga dusun Koro desa Reroroja kecamatan Magepanda kabupaten Sikka masih mengandalkan air dari lubang-lubang yang digali di tanah pinggir kali kecil di dusunnya untuk minum,  mencuci piring dan gelas serta perlengkapan memasak. Untu mandi dan mencuci pakaian, warga melakukannya di kali tersebut.

Kali selebar ± 3 meter tersebut saban pagi dan sore hari selalu dipenuhi warga untuk mengambil air minum, mencuci pakaian hingga mandi. Warga yang datang juga menggunakan kali  untuk mandi sapi dan kerbau.

Sejak belasan tahun lalu tercatat 5 proyek pembangunan jaringan air bersih yakni Coremap, PPIP, Pansimas,PNPM dikerjakan di dusun mereka namun semuanya tidak berhasil membuat masyarakat dusun Koro menikmati air bersih. Dana ratusan juta rupiah yang dianggarkan keuntungannya hanya dikecapi kontraktor dan para pekerja saja serta beberapa aparat yang terlibat. Sementara  masyarakat kembali mengandalkan air sumur dan air dari lubang yang dibuat di pinggir kali untuk diminum.

Marsiani bersama Emanuel Digu warga dusun Koro desa Reroroja sedang mengambil air untuk minum  dari lubang yang dbuat di pinggir kali. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Marsiani bersama Emanuel Digu warga dusun Koro desa Reroroja sedang mengambil air untuk minum dari lubang yang dbuat di pinggir kali. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Hal ini disampaikan Emanuel Digu (33), Marsiani (30) dan Yustina Nona Sumiati (32) dan belasan warga dusun Koro yang ditemui FBC, Rabu ( 29/07/2015 ). Dikatakan Emanuel, seharusnya pihak desa dan pemerintah menunjukan kepada pihak kontraktor dan pekerja lokasi pengambilan air di mata air dan pemasangan jaringan pipa menuju bak-bak penampung dengan benar sehingga air bisa mengalir. Hampir di setiap proyek, sebutnya, pemerintah hanya membiarkan para pekerja mengerjakannya sendiri sehingga selesai dibangun beberapa bulan kemudian air tidak mengalir.

“ Pemerintah desa dan dinas yang lebih tahu medan dan wilayah harusnya memberitahukan kepada kontraktor bukan membiarkan mereka kerja sendiri dan tanpa dipantau dan didampingi. Pantas saja semua proyek hanya kejar anggaran dan hasilnya tidak ada “ ujarnya.

Gali Lubang

Yustina yang ditemui FBC sendirian mondar-mandir menggangkut air menggunakan ember plastik dari pinggir kali menuju rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari kali menyebutkan, dirinya sejak kecil selalu ke pinggir kali tersebut bersama orang tua mengambil air untuk minum karena tidak mempunyai sumur di rumahnya. Lima tahun merantau ke Kalimantan dan saat kembali lagi tahun 2014 Yustina masih mengalami hal ini. Dirinya bingung kenapa daerahnya belum maju dan kesulitan air padahal sering ada proyek pembangunan jaringan air bersih.

Dijelaskan Yustina, untuk mendapatkan air minum, mereka menggunakan tangan atau kayu mengggali lubang dengan diameter ±40 sentimeter dengan kedalaman ± 30 sentimeter persis beberapa meter dari pinggir kali.Bagian pinggir lingkaran lubang tersebut diletakan batu-batu untuk menahan pasir dan batu lainnya masuk ke dalam lubang tersebut.Sesudah digali dan mendapat air, Yustina harus menunggu sekitar 30 menit agar air di dalam lubang bersih dahulu baru diambil menggunakan gayung yang dibawanya.

“ Hari ini hanya beberapa orang saja yang ambil air karena kemarin banyak yang mabil memakai gerobak.Biasanya mereka ambil untuk persediaan beberapa hari sehingga tidak setiap hari datang ambil karena rumah mereka jauh,“ tutur Yustina.

Beberapa anak remaja yang datang membawa gerobak berisi belasan jeriken ukuran 5 liter saat ditanyai FBC mengatakan bahwa ada pesta nikah tetangga mereka sehingga mereka bergerombol datang mengambil air. Jaraka dari kali ke rumah mereka sekitar 500 meter sehingga mereka harus membawa gerobak dengan daya tampung banyak sekali angkut.

Dilarang Konsumsi

Warga dusun Koro desa Reroroja memanfaatkan air kali untuk mandi, mencuci dan minum dan memandikan sapi serta kerbau. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Warga dusun Koro desa Reroroja memanfaatkan air kali untuk mandi, mencuci dan minum dan memandikan sapi serta kerbau. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Marsiani warga lainnya bersama suami dan anak terlihat mencuci pakaian di kali. Usai mencuci pakaian mereka pun mendatangi lubang – lubang yang dibuatnya untuk menggayung air dan dimasukan ke dalam jeriken ukuran 5 liter yang dibawanya.Kalau memiliki uang Marsiani lebih memilih membeli air yang dijual pedagang menggunakan mobil yang masuk keluar dusun mereka. Tiga jeriken air ukuran 20 liter sebut Marsiani dihargai 20 ribu rupiah.

“ Kalau ada uang kami beli kalau tidak ada uang kami ambil disini saja buat dimasak dan diminum,” tuturnya.

Marsiani mengatakan tenaga kesehatan dari Puskesmas di kecamatan Magepanda sudah melarang masyarakat konsumsi air dari lubang – lubang di pinggir kali tersebut karena kotor dan bisa menyebabkan penyakit namun masyarakat tetap tidak memperdulikannya.

Jika musim kemarau terangnya air di lubang – lubang yang mereka gali mengering dan butuh waktu lama menunggu air penuh baru diambil. Semenatara bila musim hujan sambung Marsiani mereka konsumsi air hujan atau membuat lubang tetapi jaraknya lebih jauh dari pinggir kali.

“ Kalau musim hujan biasanya airnya lebih kotor, tidak terlalu jernih apalagi kalau terjadi banjir, “ terangnya.

Disaksikan FBC di lokasi kali, debit air kali yang mengalir melwati jembatan di pinggir jalan propinsi tersebut menurun drastis. Di sepanjang pinggir kali sebelah barat terdapat puluhan lubang bekas digali. Ada yang masih berfungsi dan terdapat air dan ada yang sudah tertutup tanah dan bebatuan kali. Masyarakat mengambil air menggunakan gayung dan menuangkannya ke dalam jeriken atau ember tanpa disaring terlebih dahulu.

Beberapa orang dewasa dan anak – anak terlihat mandi di kali serta beberapa ibu rumah tangga dan anak perempuan mencuci pakaian di pinggir kali. Terlihat 6 ekor kerbau juga ikut mandi di kali tersebut dan menikmati kubangan lumpur yang mengendap di dasar kali.Selain itu beberapa lelaki mengambil air menggunakan ember untuk menyiram tanaman sayuran di kebun yang berada di sebelah barat kali. ( ebd )

Proyek Pansimas Gagal, Warga Desa Done Konsumsi Air dari Lubang Batu

Next Story »

SELAMAT BERPISAH

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *