Kurangnya Pasokan Air di Larantuka Dapat Lahirkan Kemiskinan Baru

Taman Kota Larantuka tampak  kering dan tandus akibat kurangnya pasokan air. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Taman Kota Larantuka tampak kering dan tandus akibat kurangnya pasokan air. (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

LARANTUKA, FBC: Musim kemarau di kabupaten Flores Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT)  pada umumnya merayap maju memasuki bulan Juli 2015. Panasnya musim kemarau memanggang semesta tanpa kenal kompromi. Dahan-dahan meranggas satu persatu meninggalkan dedaunan kuning layu berguguran. Tak ketinggalan, sumber-sumber air pun terancam kering.

Kisah mengering itulah, sejak Juni 2015, masyarakat kota Larantuka yang tersebar memanjang sepanjang pantai dari desa Lamawalang di barat hingga kelurahan Weri di timur secara masal mengalami kekurangan suplai air bersih secara drastis dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kabupaten Flores Timur.

Frans Kromen menjual air di wilayah kelurahan Lewolere,  Kecamatan Larantuka  (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Frans Kromen menjual air di wilayah kelurahan Lewolere, Kecamatan Larantuka (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Sejak April, bahkan setahun sebelumnya, warga kelurahan Weri, paling ujung dari jangkauan jaringan distribusi air PDAM telah lama menjerit yang nyaris tak terdengar oleh managemen PDAM yang dipimpin Petrus Peren Lamanepa. Inilah yang kurang lebih menjadi salah satu alasan massa Gerakan Anti Korupsi (Gertak) Flores Timur mendemo perusahaan tersebut dua pekan silam.

Beberapa waktu silam, Vinsensius Lemba, warga kelurahan Weri menuturkan, masyarakat kelurahan itu harus menguras dompet untuk membeli air yang semakin ramai dijual oleh sejumlah mobil pic up dengan harga mencapai 13 ribu rupiah per drum plastik.

Dijelaskannya, dalam seminggu, setiap rumah tangga mengeluarkan uang untuk membeli rata-rata empat sampai enam drum tergantung jumlah anggota keluarga dengan pemakaian air yang berfariasi.

Ketidakadilan Distribusi

Menanggapi kerisauan konsumen air bersih, Direktur PDAM Flores Timur Petrus Peren Lamanepa menjawab enteng bahwa debit air dari mata air Leto Matan di wilayah kecamatan Demon Pagong, yang berjarak kurang lebih 21 kilometer dari kota Larantuka itu terus menurun.

Bahkan kepada massa Gertak yang berdemonstrasi ke kantornya dua pekan silam, Lamanepa mengatakan bahwa kelangkaan suplai air bersih di ibu kota kabupaten Flores Timur ini karena menurunnya debit air.

Walau sejumlah pihak, termasuk Gertak mengatakan bahwa membesarnya masalah air bersih di kota ini disebabkan managemen PDAM yang kini berada di tangannya, turunnya debit air tetap menjadi alasan terdepan bagi sang Direktur.

Sil Kromen, warga salah satu kelurahan di kecamatan Larantuka mengatakan, turunnya debit air adalah fakta alam setiap tahun, bukan baru pada saat pimpinan PDAM berada di tangan Lamanepa. Mestinya ia melihat fakta lainnya yang terang benderang di mata para konsumen di kota Larantuka yang mengindikasikan kemungkinan kacaunya managemen distribusi air sehingga masalah penurunan debit menjadi semakin parah dirasakan konsumen.

Seorang ibu rumah tangga di kelurahan Waibalun sedang mengambil air dari saluran pipa yang rusak (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Seorang ibu rumah tangga di kelurahan Waibalun sedang mengambil air dari saluran pipa yang rusak (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Hal ini menjadi tanggungjawab managerial Direktur PDAM. Bahkan pantauan kontributor FBC di Larantuka, di sejumlah titik air mengalir lancar bebas setiap saat dari jaringan pipa yang patah. Di tempat itulah, warga bebas mencici dan mengnambil air untuk kebutuhan rumah tangga.

Sil Kromen dan dibenarkan oleh rekannya Frans Kromen yang sehari-hari menjual air keliling kota pakai mobil pic up, ada jalur tertentu di kota ini yang setiap detik normal mengalirkan air bersih ke para pelanggan. Sedangkan di jalur lain, air baru menyambangi warga sekali dalam dua minggu, bahkan ada lingkungan di kelurahan Pantai Besar dilayani sekali dalam sebulan.

Karolus Ola, warga Kelurahan Pantai Besar mengatakan, tanaman sayurnya mati kekeringan karena kekurangan air. PDAM sebagai satu-satunya penyedia air mendistribusikan air ke lingkungan tempat tinggalnya sekali dalam sebulan. Walau telah diupayakan penyediaan penampungan air, toh kehabisan air akan selalu mendahului jadwal suplay air berikutnya.

Lebih parah lagi warga di kelurahan-kelurahan pusat kota hingga bagian Timur kota Larantuka mulai dari kelurahan Larantuka hingga Weri. Vincensius Lemba dalam sebuah kunjungannya belum lama ini ke kontributor FBC di Larantuka mengatakan, kelangkaan suplay air bersih di kota ini bisa menjadi penyebab baru kemiskinan. Sebab, demikian analisis Dosen Institut Keguruan dan Tekhnologi Larantuka (IKTL) ini, lantaran PDAM lalai mengatur distribusi air bersih secara adil maka setiap rumah tangga mesti mengeluarkan biaya khusus untuk membeli air bersih berkisar antara 300 ribu hingga 400 ribu setiap bulan. Sedangkan tagihan dari PDAM tetap mereka bayar setiap bulan sebesar 100 ribu hingga 200 ribu, walau terbanyak metern air bergerak naik karena tendangan udara yang melewati rongga pipa distribusi air yang sedang kosong saat kran di setiap rumah dibuka.

Sebab itulah, Gertak Flores Timur dalam dialog dengan managemen PDAM Flores Timur mengatakan, para konsumen air di larantuka membayar angin setiap bulan kepada PDAM. Karena itu, PDAM Flotim seharusnya diperintah aturan untuk melakukan kompenisasi kepada konsumen atas kelalaiannya itu.

Menurut Gertak yang dibenarkan analisis Vinsensius Lemba, turunnya debit air merupakan hal given karena curah hujan, bukan menjadi satu-satunya alasan krisis air bersih di kota Larantuka. Karena itu, perlu kepiawaian managemen PDAM Flotim mengatur distribusi air ke para pelanggan. Sebab yang mencuat saat ini di masyarakat bukan saja pada lambannya air sampai ke konsumen tetapi ketidakadilan distribusi yang dilakukan oleh PDAM.

Peluang Usaha

Di tengah geliat kekurangan air bagi warga kota Larantuka, sejumlah pihak menanggapinya sebagai peluang usaha. Frans Kromen, warga keluarhan Waibalun mengatakan, kini di Larantuka beroperasi tiga grup penjual air. Frans bernaung di grup “Horas” yang mengoperasikan 26 unit mobil Pic Up. Grup lainnya “Aman” mengoperasikan sekitar 20-an mobil juga. Demikian juga sebuah grup lagi dengan jumlah mobil mencapai 20-an biji.

Suatu siang di tanggal 23 Juli 2015, FBC yang saat itu berada di gedung DPRD Flores Timur sempat menyaksikan dan mengabadikan sebuh mobil Pic Up yang sedang melayani pesanan air oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) kabupaten Flores Timur. Kepada kontributor FBC, sopir mobil itu mengakui, dalam sehari ia bisa menjual 24 drum air dengan harga 10 ribu rupiah per drum.

Frans Kromen, salah satu sopir pic up Horas mengatakan, sebelumnya mereka menjual air seharga 13 ribu rupiah per drum. Namun karena semakin memburuknya suplai air di kota Larantuka maka para penjual ini menurunkan menjadi 10 ribu rupiah per drum.

Masalah Internal

Setiap tahun kota Larantuka menghadapi kelangkaan air lantaran debit terus menurun. Namun di tahun ini, kelangkaan air menjadi semakin parah dan menjadi masalah sosial oleh persoalan internal PDAM sendiri sejak dipimpin Lamanepa.

Dugaan sangat kuat, selain sejumlah masalah tekhnis seperti debit turun, jaringan sudah tua, namun yang menjadi pokok persoalan adalah ketidakadilan distribusi lantaran problem internal di PDAM sendiri.

Sejumlah sumber menduga, kelangkaan air ini terjadi sebagai akibat konflik internal perusahaan ini antara staf dengan staf maupun staf dengan Direkturnya. Lalu yang menderita adalah rakyat sendiri.

Karena itu, koordinator Gertak Kanisius Ratu Soge malah menganjurkan agar Direktur PDAM berbesar hati untuk memperbaiki diri dan terlebih membangun relasi dan kerja sama dengan karyawan walau itu berat karena ada penolakan dari karyawan terhadap dirinya.

Hal serupa diharapkan Ketua DPRD kabupaten Flores Timur Yoseph Sani Betan. Direktur mesti merangkul semua karyawan untuk sama-sama memulihkan perusahaan ini agar masyarakat konsumen air tidak dirugikan. Anggota DPRD Flores Timur Agus Boli Lebih radikal lagi. Ia mengusulkan agar perusahaan ini diambil alih managemennya oleh Pemda Flores Timur selaku pemegang saham. Setalah itu dilakukan pembenahan. Jalan ini hanya untuk tidak mengorbankan rakyat. (Melky Koli Baran)

Tiga Pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Daftar di KPUD

Next Story »

Puluhan Tahun Bangunan KUD Talibura Dibiarkan Terlantar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *