Jual Insang Pari Manta, Haji Saban Mengaku Tak Tahu Ada Larangan

LARANTUKA, FBC – Pengumpul dan penjual insang pari manta yang ditangkap aparat Polres Flotim di hotel Lestari di jalan Yos Sudarso kelurahan Lokea-Larantuka, kabupaten Flores Timur, Haji Saban Jalil (47) mengakui tidak mengetahui adanya undang – undang yang melarang penangkapan dan penjualan ikan pari Manta.

Nelayan asal desa Lamakera kecamatan Solor Timur ini mengakui bahwa tahun 2014 ada sosialisasi dari sebuh lembaga swadaya masyarakat terkait larangan ini namun dirinya mengaku tidak berada di desa tersebut jadi tidak mengetahui.

Haji Saban Jalil tersangka penjual insang pari Manta yang dilindungi saat berada di depan sel tahanan Polres Sikka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Haji Saban Jalil tersangka penjual insang pari Manta  saat berada di depan sel tahanan Polres Sikka. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Haji Saban yang ditemui FBC, Kamis (09/07/2015 ) di depan sel tahanan Polres Flotim, bahkan terang-terangan mengaku sejak 10 tahun lalu berjualan insang pari Manta. Dirinya berani melakukan hal ini sebab setiap kali saat hendak menjual ke luar daerah dia harus terlebih dahulu menghadap ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Flotim guna mengurus dkumen terkait penjualan hasil laut antar daerah.

“ Setiap kali saya mau jual ikan saya ambil surat dari DKP supaya boleh menjual antar pulau, di kepala bagian yang membidangi penjualan hasil laut,“ ujarnya lantang.

Saat disingung mengenai sosialisasi terkait undang – undang yang melarang penangkapan dan penjualan ikan pari manta, Haji Saban mengaku mengetahuinya. Menurut Saban, sosialisasi dilakukan tahun 2014 dan hanya sekali oleh World Wildlife Fund ( WWF ). Saban membantah, sosialisasi ini dilakukan oleh pihak DKP Flotim dan mengatakan DKP Flotim belum pernah melakukan sosialisasi.

“ Dari perikanan belum pernah sosialisasi. Saya ada surat makanya berani jual “ sebutnya.

Belum Sosialisasi

Kepala sub bagian hubungan masyarakar (Kasubag Humas ) Polres Flotim, Iptu Erna Romakia kepada FBC yang menemuinya di Mapolres Flotim Rabu ( 08/07/2015 ) membenarkan hal ini.

Menurut Erna, tersangka saat diinterogasi olehnya juga mengakui tidak ada sosialisasi dari DKP Flotim. Tersangaka juga papar Erna, mengaku sudah bekerja menangkap dan menampung ikan pari manta untuk dijual selama 10 tahun terakhir.

Memang kata Erna, nelayan dari Lamakera hidupnya dari nelayan, dan tersangka saat ditanya mengatakan ikan itu masuk di dalam jala.

Fransiskus da Costa, kepala bidang Usaha dan Pengolahan Hasil DKP Flotim. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Fransiskus da Costa, kepala bidang Usaha dan Pengolahan Hasil DKP Flotim. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Daging ikan pari manta beber Erna, oleh nelayan dibuat ikan asin, sementara dulu tulang dan insang dibuang tetapi setelah tahu insang juga dijual mereka mengumpulkan dan menjualnya.

Sementara ini terang Erna, pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi. Ditambahkan Erna, pihak kepolisian hanya menegakan hukum saja sementara sosialisasi peraturan dan undang-undang terkait hal ini merupakan kewenangan dari pemerintah dalam hal ini dinas kelautan dan perikanan.

Kepala bidang usaha dan pengolahan hasil DKP Flotim, Fransiskus da Costa yang ditemui FBC di ruang kerjanya, Rabu ( 08/07/2015 ) menyatakan bahwa pernyataan para nelayan tidak demikian karena pihaknya berpatokan pada peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomon 4 tahun 2014.

Fransiskus mengaku DKP Flotim pernah melakukan sosialisasi tapi hanya sebatas mengenai perlindungan penuh sebelum adanya keputusan menteri kelautan dan perikanan tahun 2015 mengenai larangan penangkapan ikan.

“ Para penjual diundang secara perorangan ke kantor DKP Flotim untuk diberikan penjelasan “ terangnya.

Saat ditanya  FBC mengenai pernyataan tersangka penjual insang pari manta mengenai tak adanya sosialisasi, Fransiskus bahkan berulang kali menelpon kepala dinas (Kadis) DKP Flotim, Ir.Maria Irene Erna da Silva meminta penjelasan dan memastikan apakah pernah dilakukan sosialisasi.

Fransiskus bahkan memanggil pegawai bernama ibu Saudah untuk menanyakan hal ini. Sesudah mendapat jawaban, Fransiskus memastikan bahwa sosialisasi sudah dilakukan bulan April 2014. Dirinya bahkan menyebutkan 2 nama penjual lainnya.

Ketika ditanyai apakah setelah ada keputusan menteri kelautan yang baru di tahun 2015 apakah sudah dilakukan lagi sosialisasi lanjutan, Fransiskus malah menceritakan sosialisasi yang dilakukan oleh lembaga World Wildlife Fund ( WWF ) dalam rangka konservasi lahan budidaya pesisir.

Sosialisasi dilakukan hingga ke Solor bersama seorang kepala bidang Pengawasan, Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di kantor DKP Flotim bernama Muhamad Ikram. Kepala bidang ini juga tambah Fransiskus termasuk di dalam team WWF.

Ketika FBC mengatakan bahwa memang para nelayan mengakui ada sosialisasi tapi itu di tahun 2014 bukan di tahun 2015, Fransiskus pun membenarkan. Dirinya bahkan membeberkan bahwa DKP Flotim memberikan rekomendasi atau semacam ijin bagi para penjual hasil laut.

“ Mereka kami beri rekomendasi setiap kali hendak menjual ikan dan hasil laut ke luar daerah,“ pungkasnya.

Untuk diketahui, Pari Manta merupakan spesies ikan pari yang lebar tubuhnya dari sirip dada hingga ke ujung sirip lainnya dapat mencapai 6 – 8 meter. Beratnya ada yang mencapai tiga ton dan dapat hidup hingga usia 20 tahun. Meski begitu, reproduksinya rendah, ikan ini hanya dapat melahirkan satu anak dalam rentang waktu dua tahun.Di Indonesia, terdapat dua jenis pari manta yang dilindungi yaitu pari manta karang ( Manta alfredi ) dan pari manta oseanik ( Manta birostris ).

Para pehobi selam dapat menemui ikan ini di banyak tempat, diantaranya perairan Nusa Penida Bali, sangalaki-derawan, Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, dan Alor. Indonesia sangat beruntung memiliki Ikan pari manta sebagai salah satu primadona bawah lautnya.  ( ebd )

Polres Flotim Tangkap Penjual Insang Pari Manta Saat Transaksi di Hotel

Next Story »

Sambut Idul Fitri, Umat Muslim Ende Dapatkan Paket Sembako

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *