Jalan Menuju Kapela Balawelin Rusak Parah

Umat yang selesai berjalan kembali usai mengikuti perayaan ekaristi di kapela Bunda Maria Reinha Balawelin. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Umat yang selesai berjalan kembali usai mengikuti perayaan ekaristi di kapela Bunda Maria Reinha Balawelin. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

LARANTUKA, FBC – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur (Flotim) diminta untuk memperbaiki jalan menuju kapela Bunda Maria Reinha Balawelin di desa Balawelin I kecamatan Solor Barat. Pasalnya, jalan yang dibangun dari proyek Jalan Usaha Tani sekitar 4 tahun kemarin (2011) sudah mengalami kerusakan dan tidak tidak bisa dilewati kendaraan.

Hal ini disampaikan kepala desa Balawelin I, Urbanus Turang Werang (52) kepada FBC yang menemuinya, Minggu ( 05/07/2015) di rumahnya di sela-sela pagelaran ritual adat Wuu’n Nuran yang digelar 5 tahun sekali.

Dikatakan Urbanus, jalan tersebut dibangun dengan dana seadanya dan swadaya masyarakat. Saat pembangunan jalan sebutnya, dirinya memakai alat berat drai kontraktor yang sedang mengerjakan proyek di Solor Barat sehingga biayanya murah.

“ Setiap keluarga yang ada juga ikut kerja swadaya dan dibayar seadanya. Karena dana terbatas maka pembangunan tidak sempurna dan cuma sekedar jalan tanah saja,“ ujarnya.

Jalan sepanjang 2 kilometer ini sambung Urbanus, hanya dilakukan pengerasan saja dan penyemenan hanya sekitar 200 meter di daerah perkampungan. Tidak disemen atau diaspal serta tidak adanya saluran air di kedua sisi jalan menyebabkan jalan rusak tergerus air saat hujan.

“ Jika hujan air akan mengalir dari ketinggian melewati badan jalan dan menggerus timbunan tanah dan bebatuan yang sudah dilakukan pengerasan,“ tuturnya.

Sering Beristirahat

Veronika Niken (37) warga asal Bali yang ditemui FBC usai perayaan ekaristi di kapela Bunda Maria Reinha Balawelin, Minggu (05/07/2015) mengatakan jika jalannya bagus tentu peziarah tidak terlalu lama berjalan kaki apalagi saat cuaca panas. Untuk mencapainya pun tambah Niken, tidak membutuhkan waktu lama seperti saat ini yang bisa memakan waktu satu jam berjalan kaki.

Hal yang sama juga dikeluhkan Theresia Christini (44) yang ditemui FBC usai berjalan menurun bukit sehabis perayaan misa inkulturasi. Dikatakan Theresia, sejak Jumat (03/07/2015) malam dirinya bersama suami Wiwin Niron ( 53 ) dan anak lelakinya Ryan Niron terlihat harus sering beristirahat.

“ Jalannya sangat mendaki dan banyak bebatuan. Jika mudah dijangkau tentunya banyak orang tua yang bisa menghadiri acara ini “ tuturnya.

Ditambahkan Theresia, perayaan ekaristi yang dipadukan dengan penyembelihan hewan kurban (kambing) dan kepalanya dihantar sebagai persembahan merupakan sebuah ritual yang menarik dan sakral.

Acara adat dan agama yang disatukan ungkapnya, merupakan sebuah kekhasan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Meski capek berjalan Theresia mengaku puas bisa mengikuti perayaan misa inkulturasi.

“ Kalau sampai di kapela orang sudah capek dan letih tentu itu bisa mempengaruhi konsentrasi.Halaman kapela juga diperluas agar bisa menampung banyak orang, “ sambungnya.

Disaksikan FBC saat berjalan kaki menuju puncak bukit yang menanjak ± 30 derajat, sejak pukul 07.00 wita, ribuan orang sudah mulai berjalan kaki menuju kapela yang didirikan di samping sebuah pohon beringin tua.

Banyak orang tua dan anak muda yang sering beristirahat melepas lelah, sebelum melanjutkan perjalanan.Bahkan terlihat beberapa anak laki-laki berjalan telanjang badan dan baju yang dikenakan dipegang di tangan. Hal ini tentu sangat menganggu dan memberikan kesan yang tidak bagus bagi para peziarah yang datang dari luar daerah.

Terlihat juga para perempuan berjalan seraya menggendong balita bahkan ada balita  yang duduk di pundak ayahnya. Pejalan kaki harus berjalan di sisi pinggir dikarenakan bagian tengahnya tergerus air sehingga menyebabkan batu-batu besar mencuat ke permukaan.

Banyak umat terpantau terpeleset dan terpaksa berjalan menenteng sepatu di tangan. Umat yang mengikuti perayaan ekaristi duduk di bebatuan dan beberapa rumah adat beratap ilalang di sekitar kapela.

Sempitnya tanah lapang di areal kapela menyebabkan umat harus mencari tempat duduk masing – masing dan tidak mengikuti misa dengan khusuk.( ebd )

Bandara El Tari Buka Posko Lebaran

Next Story »

JK: Pemerintah Turunkan Bunga KUR untuk Bantu Koperasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *