Heboh, Sat Pol PP Pukul Pedagang di Taman Kota Lewoleba

LEWOLEBA, FBC-Naas menimpah Barek pedagang ikan dan sayur asal pasar Pada-Lewoleba. Tangan kanannya memar akibat dipukul oknum anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Lembata. Tindak kekerasan itu terjadi saat pasukan Pol PP melakukan penertiban pedagang yang menggelar lapak jualan di Taman Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Ditemui di halaman depan Mapolres Lembata, Selasa (30/6/2015) pukul 17.30 wita, 20 orang pedagang yang ikut datang mendampingi Barek mengaku, mereka terpaksa melawan karena barang jualan diangkut dengan kasar dan dibuang ke atas sebuah mobil dump truk berwarna merah. Total kerugian akibat penertiban yang dialami, 20 pedagang sebesar Rp. 8.325.000.

Puluhan perempuan pedagang pasar TPI datang ke Mapolres Lembata untuk mengadukan tindak kekerasan yang dilakukan oknum anggota Pol PP kepada salah satu pedagang saat penertiban terjadi. (Foto FBC/Yogi Making)

Puluhan perempuan pedagang pasar TPI datang ke Mapolres Lembata untuk mengadukan tindak kekerasan yang dilakukan oknum anggota Pol PP kepada salah satu pedagang saat penertiban terjadi. (Foto FBC/Yogi Making)

Seperti disaksikan, selain mengadukan tindak kekerasan yang dialami Barek, pedagang juga ikut mendampingi koordinator pedagang pasar Pada Adbulgani Corebima ke kantor Sat. Pol PP untuk meminta klarifikasi atas pernyataan Zeth Marlon L. Mboli, oknum anggota Sat. Pol PP yang menuding Gani sebagai provokator dan perusak Lembata. Mereka datang ke Mapolres dengan membawa serta bak plastik sebagai wadah penampung ikan.

Kronologi penertiban menurut juru bicara pedagang pasar Pada Zubaidah, keributan antar pedagang dan Sat. Pol PP terjadi sekitar pukul 15.30 wita, atau saat pedagang datang dari pasar Pada untuk menggelar lapak dan berjualan di taman kota. Ketika barang dagangan digelar, datang puluhan anggota Sat. Pol PP bersenjatakan pentungan karet berwarna hitam. Tanpa berkompromi, barang-barang dagangan langsung direbut dan dibuang ke atas sebuah mobil dump truck.

“Kami lawan karena barang-barang jualan kami dirampas secara kasar lalu mereka buang begitu saja ke atas mobil truck. Saya lihat mereka datang dengan pentungan, jadi saya ambil bambu yang kebetulan ada di sekitar situ dan melawan mereka. Salah satu anggota Pol PP rampas bambu dari tangan saya, kami saling tarik sampai-sampai tangan saya terluka karena gesekan belahan bambu. Sementara, Barek di pukul dengan pentungan, tangangan kanannya bengkak,” ulas Zubaidah.

Cerita Zubaidah dibenarkan juga oleh Barek. Korban tindak kekerasan ini menuturkan, saat keributan terjadi, dua anggota Sat. Pol PP datang memeluknya, dia terus memberontak dan tiba-tiba datang anggota lainnya dan langsung menghajar dirinya dengan pentungan karet. Akibat terkena pukulan itu, dirinya menderita luka memar pada tangan kanannya.

Cerita lain datang dari Kewa. Perempuan 50-an tahun ini menjelaskan, ikan jualannya dirampas dengan kasar, dan banyak yang berserakan di tanah. Saat sedang berusaha untuk mengamankan diri dan barang jualan, datang seorang pria muda. Mulanya, Kewa mengira, sang pemuda dimaksud membantunya mengamankan ikan jualannya, namun saat pemuda tanggung itu berbalik, Kewa melihat cumi kering miliknya terselip di saku celana belakang sang pemuda.

“Saya punya ikan kau curi. Kurang ajar sekali kau, itu pasti Pol PP yang suruh kau curi saya punya ikan. Ikan cumi kering saya berjumlah 47 ekor, namun akibat dicuri cumi keringnya tersisa 7 ekor,” cerita Kewa.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lembata Arief Sadikin saat dikonfirmasi di Mapolres Lembata beberapa saat setelah FBC bertemu pedagang, membenarkan kalau kehadiran pedagang di Mapolres Lembata untuk mengadukan tindak kekerasan yang dialami seorang pedagang.

Menurutnya, dengan tetap memperhatikan Tupoksi Sat. Pol PP, polisi tetap memproses laporan, serta mencari tau siapa oknum anggota Sat Pol PP yang bertindak kasar kepada pedagang.

“Mereka datang laporkan kasus penganiayaan, tetapi apakah itu murni penganiayaan atau masih dalam kaitan dengan Tupoksi Sat. Pol PP, nanti kita akan lihat. Yang jelas laporan itu kita akan tindak lanjuti dan mencari siapa oknum Pol PP yang memukul pedagang. Korbannya adalah seorang perempuan, sekarang sedang diantar ke rumah sakit untuk di visum,” kata Arief Sadikin.

Sebagaimana berita yang sudah dirilis media ini, aksi protes pedagang ikan dan sayur asal pasar Pada itu di picu pedagang pasar TPI yang kedapatan melanggar kesepakatan. Beberapa kali pedagang TPI kedapatan berjualan di pasar TPI sebelum jam 3 soreh. Padahal perjanjian antara Pemerintah dan pedagang yang di tandatangani oleh Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dan perwakilan pedagang pasar TPI dan pasar Pada, mengatakan pasar TPI akan dijadikan tempat jualan oleh pedagang pasar TPI dan pedagang pasar Pada, karena itu pasar TPI hanya di buka pada senja hari pukul 15.00 wita.

Poin perjanjian juga mengatakan, pedagang pasar TPI di arahkan untuk berjualan pagi hari di pasar Lamahora, apabila ada pedagang TPI yang melanggar kesepakatan dengan berjualan dibawah jam 3 soreh di TPI maka pasar TPI ditutup selamanya.

Berpegang bukti dan surat pernjanjian tersebut, puluhan pedagang pasar Pada datang menuntut pada pemerintah dan DPRD Lembata untuk menutup TPI dari aktifitas jual beli. Akibat pemerintah belum bersikap, pegadang pasar Pada marah dan kembali berjualan di taman kota sejak, Senin (29/6/2015) sore. (Yogi Making)

Pedagang TPI Langgar Kesepakatan, Pasar Tengah Kota Kembali Dibuka

Next Story »

Pengebom Ikan Kuasai Pantai Selatan Sikka, Tim Gabungan Bangun Pos Pemantau

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *