Geliat Orang Atawolo Menyambut Pemberkatan Gereja Gemohing

Gereja Gemohing St. Paulus Atawolo yang akan diresmikan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr (foto : FBC/Yogi Making)

Gereja Gemohing St. Paulus Atawolo yang akan diresmikan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr (foto : FBC/Yogi Making)

LEWOLEBA, FBC- Dalam semangat persaudaraan, umat Katolik kampung Atawolo desa Lusilame, Atadei, Kabupaten Lembata siap menyambut perayaan misa pemberkatan Gereja St. Paulus.

Semangat penyambutan misa peresmian rumah ibadah itu membuat warga bebenah. Agar memasuki perayaan dengan hati bersih, warga juga melakukan rekonsiliasi.

Ketua panitia pemberkatan gereja St. Paulus, Yohanes Bala Namang di Atawolo, Kamis (2/7/2015) menjelaskan hal ini kepada FBC. Menurutnya, Gereja St. Paulus adalah lambang kebanggaan warga Atawolo. Kendati dalam konsisi kekurangan namun mereka mampu membangun sebuah rumah ibadat yang megah.

“Gereja ini lambang kembangaan seluruh anak Atawolo, baik yang di kampung maupun yang ada di luar Lembata. Kami ingin tunjukan bahwa kendati dalam jumlah sedikit, kendati dalam kekurangan, namun dengan kebersamaan dan dalam semangat pesaudaraan kami bisa berbuat sesuatu yang besar. Dan tidak berlebihan kalau warga merayakannya sebagai bentuk syukur, kepada Tuhan dan Leluhur sebagai pemberi kesuksesan ini,” ujar Bala Namang.

Agar memasuki perayaan misa pemberkatan dengan hati bersih, warga Atawolo juga melakukan rekonsiliasi. Upacara rekonsiliasi ini dipadu antara upacara adat dan perayaan tobat di gereja yang pada puncaknya digelar upacara “Tobe Lagan” atau makan bersama yang melibatkan seluruh warga. Menariknya, banyak warga Atawolo yang berdomisili di Lewoleba juga di luar Lembata hadir.

Ciku Naman (kaos kuning), Marianus Nuban dan Marselinus (tengah) Boli Nuban (Jaket Kuning) di tenda umum (foto : FBC/Yogi Making)

Ciku Naman (kaos kuning), Marianus Nuban dan Marselinus (tengah) Boli Nuban (Jaket Kuning) di tenda umum (foto : FBC/Yogi Making)

Bala Namang menjelaskan, upacara rekonsiliasi, berlangsung Rabu (1/7/2015) dan Tobe Lagan dilansungkan pada malam harinya.
Ketua Pantia juga mengatakan, misa pemberkatan rencananya akan dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka, Frans Kopong Kung, Pr juga dihadiri oleh Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur serta undangan lainnya.

Suka cita pemberkatan gereja ini akan dirayakan dengan meriah, karena itu panitia juga sudah menyiapkan ragam acara diantaranya pagelaran seni budaya. Acara syukuran juga di isi dengan konser album rohani yang menghadirkan Trio Deston.

Pantauan FBC, beberapa warga Atawolo yang bekerja di Jakarta pulang kampung. Mereka bangga bisa hadir dalam upacara pemberkatan gereja tersebut.

“Gereja ini kembanggaan seluruh orang Atawolo. Semua anak Atawolo terpanggil untuk memberikan sumbangan dengan kisaran Rp. 600. 000 sampai Rp. 3 juta, semua memberi dengan suka rela, bahkan yang lebih membanggakan lagi adalah sumbangan datang dari warga di kampung lain terutama dari kampung-kampung yang berada di paroki Hati Amat Kudus Lerek. Karena itu, kami selalu menyebut, gereja ini adalah gereja “Gemohing” (kerja sama, Lamaholot-red). dan ini model positif yang harus terus di galakan untuk membangun Lembata,” kata Ciku Namang, putra Atawolo yang bekerja di Jakarta.

Ciku mengatakan, efek positif pemberkatan gereja di kampung yang pernah disinggahi Menteri Pariwista jaman pemerintahan SBY, Marie Elka Pangestu itu dirasakan oleh warga. selain mempersiapkan diri untuk menyambut misa pemberkatan, warga seakan berlombah membenah rumah dan membangun WC pribadi.

“Pastinya acara ini dihadiri oleh banyak tamu. Tidak saja putra asli Atawolo yang berada di luar Lembata, tetapi juga tamu-tamu dari kampung lain. Semua tamu akan disebar ke rumah warga. Karena itu selain sibuk mempersiapkan acara misa, warga juga berlombah membenah rumah, warga yang sebelumnya belum punya WC, akhirnya bangun WC,” jelas Ciku.

Sementara itu tokoh muda lainnya, Marselinus Boli Nuban yang ditemui di tenda umum bersama Ciku Namang dan Marianus Nuban juga mengakui kalau warga sangat maksimal menyambut upacara peresmian gereja. Namun demikian, hal yang cukup mengganggu adalah masalah ketersediaan air bersih. Menurutnya, warga di desa ini sangat kesulitan mendapatkan air bersih.

Terkait dengan ketersediaan air bersih, Ciku Namang mengatakan, air bantuan Pemda yang diangkut dengan mobil tangki berkapasitas 5000 liter dirasa belum belum maximal, bahkan sempat dibuat kecewa, pasalnya, mobil tangki air milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPD) Lembata, menjual air kepada warga seharga Rp. 500 ribu per 5000 liter, padahal untuk menyediakan air, sebelumnya panitia sudah menyerahkan dana sebesar Rp. 1.800.000 kepada instansi dimaksud.

Masih terkait air, Ciku mengatakan, momentum kehadiran Bupati Lembata di acara pemberkatan gereja, akan dimanfaatkan warga untuk menyampaikan aspirasi. Rencananya mereka akan meminta Bupati Lembata untuk membangun jaringan air ke kampung yang sudah di promosi menjadi destinasi budaya di kabupaten Lembata itu. (Yogi Making)

Toko Pasifik Terbakar, Diduga Karena Korslet Jaringan Listrik

Next Story »

Ketua DPRD Lembata Siap Diperiksa Bareskrim Polda NTT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *