Budaya Bahari, Belajarlah dari NTT

Sampan nelayan berlabuh di pantai Teluk Lewoleba-Lembata (Foto : FBC/Yogi Making)

Sampan nelayan berlabuh di pantai Teluk Lewoleba-Lembata (Foto : FBC/Yogi Making)

Oleh Charles Beraf

World Wildlife Fund (WWF) pada April lalu dalam laporannya berjudul ‘Reviving the Ocean Economy: The Case for Action – 2015 menyatakan bahwa nilai aset utama dalam laut Indonesia diperkirakan mencapai US$ 24 triliun. Jika dibandingkan dengan 10 negara dengan tingkat ekonomi tertinggi di dunia, sumber daya laut Indonesia menempati peringkat ketujuh dengan nilai sumber daya dan jasa hingga US$ 2,5 triliun per tahunnya.

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Charles Beraf , Sekretaris International Students’ Association (ISA), University of the Philippines Los Banos, Filipina

Laporan itu sungguh mengundang decak kagum dan tampak bersinggungan dengan gencarnya pemerintah Indonesia saat ini mendongkrak ekonomi laut, termasuk melawan kejahatan illegal fishing. Data Badan Pemeriksa Keuangan (2013) menunjukkan, potensi pendapatan sektor perikanan laut kita jika tanpa illegal fishing mencapai Rp. 365 triliun per tahun. Namun, akibat illegal fishing, menurut hitungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), pendapatan tersebut hanya berkisar Rp. 65 triliun per tahun. Jadi ratusan triliun rupiah devisa negara hilang setiap tahun.

Namun penting untuk ditanyakan: apakah laut hanyalah perkara ekonomi? Benarkah kesejahteraan dari sektor laut hanya berkenaan dengan seberapa banyak aset yang terkandung di dalam laut? Bukankah laut dan kelautan lebih dari urusan maritim, pelayaran dan perdagangan?

Lebih dari Maritim

Banyak kali kita terjebak dalam kesimpangsiuran pemahaman atas arti ‘maritim’ dan ‘bahari’, yang barangkali juga menjadi sebab mengapa kita terlampau menyederhanakan kegiatan melaut sekedar sebagai sebuah modus operandi di tengah entitas ekonomi dan ekologi. Maritim sesungguhnya paralel pengertiannya dengan urusan perdagangan (pelayaran), sedangkan bahari lebih bersangkutkait dengan kebudayaan, yang dalam istilah Kamus Umum Bahasa Indonesia disebut sebagai yang lampau, dahulu kala. Saya memahami itu sebagai kebudayaan, dan dalam pengertian ini tidak lain obyeknya adalah laut. Karena itu, amat naif bila hal laut dan kelautan dikerangkakan hanya dengan urusan ekonomi kemaritiman, seperti perdagangan atau pelayaran.

Patut dimafhumi bahwa laut dan kelautan sesungguhnya tak sekedar sebagai persoalan maritim, melainkan lebih dari itu mencerminkan kebudayaan. Laut dan kelautan di Indonesia tidak hanya menunjuk pada hal mata pencaharian, tetapi terutama menunjuk pada weltanschauung, suatu cara memandang dunia dan collective mind masyarakat. Hal ini terlalu sering dilupakan, baik di ranah teoretis – akademis maupun dalam ranah praksis hidup kelautan. Akibatnya, laut dan kelautan secara gampang dipandang sebelah mata; atau hanya sebagai persoalan ekologis atau hanya sebagai persoalan ekonomis.

Apalagi Undang – Undang No. 31 Tahun 2004 tentang perikanan amat menyederhanakan dunia perikanan (kelautan) semata sebagai komoditas bisnis. Undang – Undang tersebut menyebutkan bahwa perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari pra produksi, produksi, pengelolaan, sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. Laut pun secara sederhana dipandang sebagai arena bisnis (maritim).

Namun tanpa disadari bahwa penyederhanaan itu justru berdampak buruk, tidak hanya dalam soal keberlanjutan ekonomis, tetapi lebih juga dalam hal keberlanjutan budaya masyarakat nelayan dan komunitas pesisir. Nilai-nilai budaya seperti solidaritas dan persaudaraan, yang amat kental dihidupi masyarakat nelayan dan komunitas pesisir bisa tergerus. Seperti apa yang disinyalir oleh Filosof J. Baudrillard (1970), konsumerisme dalam cara apa pun bisa menggantikan norma sosial dan norma budaya sebagai mesin integrasi dan regulasi sebuah masyarakat.

Belajar dari NTT

Tentang kebudayaan laut, kita bisa melihat dan belajar pada masyarakat NTT. Beberapa komunitas adat di NTT tercatat hingga sekarang memiliki kebudayaan laut yang unik. Saya menyebut beberapa. Di Lewolein, Lembata, ada budaya Re’wa Ik’e, budaya penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun. Ikan, bagi masyarakat Lewolein, adalah sahabat, yang bisa dipanggil kapan pun ketika dibutuhkan. Di Lamalera ada tradisi Tena Laja (Perahu Layar). Di Mingar, Pasir Putih, ada budaya tangkap Nale (sejenis cacing laut yang biasa muncul pada bulan Pebruari setiap tahun), yang melibatkan hampir semua suku dalam kampung itu.

Tradisi-tradisi semacam itu bukan sekadar aktivitas konsumtif, melainkan lebih dari itu telah menjadi aktivitas kultural, sosial dan religius masyarakat. Dari dan dalam tradisi-tradisi itu, mereka membangun interaksi dan kohesi sosial antarsuku. Begitu pula dari tradisi-tradisi itu mereka hidup, bergantung dan membangun jejaring hidup dengan yang lain, membina relasi intersubjektif dengan siapa saja. Melalui tradisi semacam itu mereka menemukan dan mendefinisikan identitas mereka sendiri di hadapan suatu entitas sosial atau kultural tertentu. Dengan kata lain, upaya penghidupan ini tidak lain adalah cara vital masyarakat dalam melanggengkan pengertian, makna, hasrat dan filosofi yang sudah dianutnya.

Dimensi spasial semacam itulah menjadi alasan mengapa beberapa masyarakat adat di pesisir NTT tetap memilih dan menghidupi tradisi laut. Laut adalah locus kultural, tempat mereka menghidupi dan menginternalisasi religiositas, solidaritas, kohesi sosial. Tentu amat disayangkan, jika demi kepentingan ekonomi bisnis semata, kebudayaan semacam itu harus tersingkir atau jauh dari perhatian para pejabat publik. Di tengah menderasnya arus globalisasi, turut mempertimbangkan sisi lain laut dan kelautan sebagai arena budaya bahari adalah hal yang urgen. Dan NTT, saya kira, adalah sekolah yang tepat untuk belajar berbudaya bahari di Indonesia

Kurikulum 2013, Akan Diganti?

Next Story »

Kisruh di Lembata: Takdir Atau Salah Urus?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *