Ben Mboi-Nafsiah, Sinergi Kekuatan Dua Citra

Foto Kenangan : Mantan Gubernur NTT Ben Mboy bersama istrinya, Ny. Nafsiah Mboy di Kamp Pengungsian Desa Ulu Dala, Ropa Kecamatan  Maurole Kab. Ende, Jumat  (6/09/2013). Foto Dokumentasi FBC/Nando Watu

Foto Kenangan : Mantan Gubernur NTT Ben Mboy bersama istrinya, Ny. Nafsiah Mboy di Kamp Pengungsian Desa Ulu Dala, Ropa Kecamatan Maurole Kab. Ende, Jumat (6/09/2013). Foto Dokumentasi FBC/Nando Watu

Oleh Canisius Maran

Film Cinta Sejati yang mengisahkan kisah cinta Rudy (Prof. Habibie)  dan dokter Ainun boleh jadi telah menjadi box-office, trending topic yang ramai dibicarakan, terutama oleh mereka yang menyukai kisah semacam itu, seperti juga film Titanic, yang diputar berulang-ulang di RCTI oke. Apalagi bintangnya adalah BCL alias Bunga Cinta Lestari.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Tidak ada yang tragis dalam film Cinta Sejati, seperti kisah tak terbalas dan kematian dalam drama ala William Shakespeare, Siti Nurbaya, Pengantin Remaja (Sophan Sophian dan Widyawati), kisah haru biru Ryan O’Neal dan Ali McGraw dalam Love Story, juga cinta yang merindu ala Zainuddin-Hayati dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Namun suara bening BCL ketika membawakan lagu Cinta Sejati, mengingatkan kita pada sosok Whitney Houston yang berperan sebagai Whitney Houston dalam film The Bodyguard, berpasangan dengan Kevin Costner (1990-an). Sebuah lagu lama Dolly Parton tahun 1970-an berjudul I Will Always Love You kembali menggetarkan kelenjar adrenalin ketika dibawakanWhitney Houston dalam The Bodyguard.Dan seperti I Will Always Love You, Cinta Sejatijuga mengalami sukses luar biasa.Pertanyaan kemudian, apakah film Cinta Sejati merupakan legitimasi dua citra (brand) yang sama-sama kuat antara Prof. Habibie dan dokter Ainun?

Jujur, saya sendiri belum sempat nonton, namun sebagian perjalanan hidup dr. Ainun saya ikuti ketika masih di Majalah Teknologi. Terutama pada masa persiapan Program Pesawat Gatotkaca N250, hingga penerbangan perdana menyongsong Indonesia Emas (17-8-1995) di Bandung (1995) dan Indonesia Airshow di Jakarta 1996.Ibu Ainun selalu hadir.

Pertanyaanya mengapa mereka dinyatakan sebagai pasangan terhebat, co-branding of the year tahun kemarin? Tentu saja penilaiannya tidak mudah karena citra kepribadian adalah sesuatu yang tidak dibuat-buat sendiri, tidak dikarang dengan kata dan gambar indah, tidak dipoles dengan “gincu” tebal. Namun khalayak tentu mengikuti perjalanan karir Habibie,sejak dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan, hingga ke Jerman dan kembali ke Indonesia bersama dr. Ainun, menjadi Menristek, membawahi 10 Industri Strategis antara lain IPTN dan PT PAL.

Demikian pula aktivitas Ainun sebagai dokter, mendampingi Habibie selama hidup, hingga maut merenggut nyawanya.Sebuah happy ending dari perjalanan cinta seorang dokter kepada seorang ahli baling-baling pesawat terbang, penggagas teknologi fly-by-wire (sistem kendali terbang berbasis elektronik) yang diterapkan pada pesawat commuter N250, sebuah riwayat percintaan yang hanya bisa diputus oleh maut.

Dan ketika kisah hidup mereka difilmkan, membuka memori khalayak tentang kisah dua insan yang memiliki kelebihan dan saling mendukung, menyatu dalam film Cinta Sejati. Bagaikan maknit yang menjalar dalam ketulusan dan kesetiaan, rela berkorban, tekun, kerja keras juga rasa nasionalisme yang kokoh ada pada diri Habibie dan Ainun.Lalu apa hubungannya dengan pasangan Brigjen TNI dr. Aloysius Benediktus Mboi dan dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH?

Sebagaimana penilaian terhadap citra pribadi seseorang, kesan terhadap perjalanan hidup seseorang, selalu berasal dari pihak lain, orang lain yang bersama atau tidak dengan tetapi tau dari pendengaran dan pengelihatan tentang kepribadian mereka, jalan hidup mereka dan apa yang sudah mereka lakukan sehingga bermanfaat bagi semua.

Sehingga dari situ muncul penilaian terhadap Ben dan Nafsiah, terutama sejak menjadi Gubernur NTT berikut karir dan aktivitas di berbagai bidang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Meski kisah hidup mereka belum sempat difilmkan. Lagi pula sampai kini mungkin banyak dari rakyat NTT belum tahu sejak kapan cinta mereka mulai bersemi, kapan Nafsiah, seorang gadis ningrat dari Suku Bugis “beruntung” memikat hati pemuda Ben dari Ruteng.

Namun kesan terhadap kehadiran Gubernur Ben dan dr. Nafsiah selama sepuluh tahun di NTT telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan, baik di Bumi Flobamora maupun di relung-relung hati masyarakat NTT. Apa saja telah dilakukan Ibu Gubernur terutama di bidang kesehatan ibu dan anak, juga KB  dan operasi bibir sumbing, tentu menjadi kenangan tersendiri.

Apalagi, Ibu Soepardjo Roestam, Ketua Tim Penggerak PKK Pusat saat itu terus menggencarkan kegiatanPKK di seluruh Indonesia antara lainpenimbangan bayi dan pemberian makanan tambahan (PMT), Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), DPT, garam oralit, dll. Sebuah gerakan mendukung program kependudukan mendapat sambutan luar biasa masyarakat desa karena dengan demikian, pengetahuan mereka tentang kesehatan meningkat, baik tentang KB, juga kesehatan ibu anak selalu terjaga, terutama ibu-ibu muda yang kekurangan ASI.

Keberhasilan Indonesia menjalankan program KB saat itu, memberi inspirasi beberapa negara berkembang di Afrika, juga Bangladesh, Pakistan mengunjungi Indonesia untuk belajar bagaimana mengatasi ledakan penduduk yang sulit tertahankan.Dan pada saat-saat seperti itu, dokter Nafsiah ada di NTT bersama suami dokter Ben Mboi yang menjadi Gubernur NTT.

Dan ketika presiden SBY meminta dokter Nafsiah menjadi Kepala BKKBN, publik tidak banyak bertanya karena memang sudah mengenal pribadi beliau.Lebih-lebih ketika Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia, dan pilihan SBY jatuh pada dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPHpun, semua pihak merasa oke saja. Tidak seperti ketika SBY memilih Roy Suryo menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga menggantikan Dr. Andi Alfian Malaranggeng, publik tak henti-hentinya menghujat pilihan SBY tersebut.

Memberi komentar atas dua pilihan SBY, Amalia E. Maulana, Ph. D, Brand Consultant & Ethnographer ETNOMARK Consulting mengatakan, karena masyarakat kita sudah melihat kompetensi dari pilihan SBY, terutama terhadap dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH dengan trackrecord yang positif untuk menjadi Menteri Kesehatan, semua pihak merasa nyaman. Bahkan berjalan hingga berakhirnya kepemimpinan SBY dan oleh karena itu merupakan kesan terakhir (last impression) dari khalayak yang tentu saja sulit terlupakan.

Artinya ada banyak aspek di luar kopetensi pribadi seseorang justru menjadi penguat sehingga khalayak dengan mudah menerima kehadiran dirinya. Sesuatu yang terlalu sulit bagi mereka yang tidak pernah menjaga dan membangun kompetensi pribadi, apa yang kita tau bahwa dokter Ben dan dokter nafsiah tidak pernah secara berlebihanmembangun pencitraan bahkansecara terang benderang pun tidak, namun citra pribadinya tetap kuat, karena sana-sama fokus, saling melengkapi dan menguatkan dalam menjaga komitmen sehingga sangat kokoh.

Karena itu, terlampau sederhana jika nilai dari dua kekuatan ini dihitung berdasar rumus matematika, mengikuti pandangan absolutis matematika bahwa 1 + 1 = 2. Kombinasi citra Ben dan Nafsiah mungkin tidak lagi relevan jika dijumlahkan seturut pandangan itu. Artinya jika citra bisa berarti positif, bisa juga negatif tergantung sikap dan pembawaan diri kita meski tidak berada pada ruang dan waktu yang sama dengan khalayak. Artinya pula, dengan berbagai hal, jumlah nilai yang bisa diperoleh dari paduan citra Ben-Nafsiah, sangat boleh jadibisa mencapai 10 sebagaimana citra Habibie dan Ainun.Mengapa?

Dari perjalanan hidup, publik menyaksikan betapa Ben dan Nafsiah, sama-sama mempunyai komitmen yang kuat membangun daerah, fokus terhadap tujuan utama yang dibangun dalam rasa kesetiaan dan ketulusan cintayang dilandasi jiwa nasionalisme. Seperti juga Ainun-Habibie, Ben Mboi-Nafsiahjuga memiliki riwayat yang sama, selalu bersama dalam kesetiaan dan ketulusan sampai akhir hayat, lived happily ever after,yang hanya bisa diputus oleh maut.Apakah Ben Mboi layak disebut TokohPerubahan di NTT karena peka terhadap kemiskinan,kemudian memotivasi segala kebijakannyadan secara hati-hati mencoba menghilangkan pandangan stereotypenegatif (kering dan miskin) terhadap NTT?

Jika konsep Komando Raksasa muncul saat ini, pasti akan menjadi trending topik di berbagai media sosial. Bukan karena sebagian besar petani di pedesaan NTT sudah menikmati apa yang telah dibuat Ben Mboi, tetapi gagasan itu membuka sebuah “langit baru”, “wawasan baru”.Itulah yang membedakan antara politisi dan negawaran. Itulah yang menegaskan bahwa seorang negawaran akan lebih menempatkan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi.

Dan kini, Tuhan telah menepati cintaNya kepada dokter Ben,disambut di sebuah “rumah baru”, sebuah “hidup baru” yang agung danabadi,  meninggalkan semangat dan jejak seorang Pamong Praja Sejati, sebuah jiwa hidup yang akan terus mengalir dalam nadi Flobamora, bagaikan mata air yang tak pernah kering.  Terima kasih telah bersama kami di Bumi Flobamora, terima kasih telah memberi kami petuah-petuah yang berguna dalam nada suara yang lembut.

Selamat jalan Bapak Gubernur, …now you belong to heaven, but your footsteps will always fall here, until when the moon and the stars spell out your name, you will always grow in our heart …Itu bukan puisi Khalil Gibran kesukaan Ben Mboi, melainkan penggal akhir syair lagu Good Bye England Rose, yang dibawakan Elton John saat pemakaman teman dekatnya Lady Diana Spencer, istri Pangeran Charles, seorang wanita aristokrat yang cerdas dan cantik jelita dengan senyum yang menawan. (selesai)

 

 

Ben Mboi dan Kepemimpinan dengan Cinta

Next Story »

“Tablet” untuk Lembata yang “Sakit”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *