Ben Mboi dan Kepemimpinan dengan Cinta

Oleh Canisius Maran

Dan ketika kau bekerja dengan cinta, kau mengikat dirimu dengan dirimu sendiri, satu sama lain dan juga dengan Tuhan. Dan apa itu bekerja dengan cinta? Yaitu ketika kau menenun kain dengan benang yang diambil dari hatimu, bahkan seolah-olah orang yang kau cintai yang memakainya … Khalil Gibran (Sang Nabi – Trilogi Cinta Abadi).

Kepemimpinan dengan cinta yang muncul dari suara hati paling dalam, sudah kita pelajari dan rasakan bersama dari model kepemimpinan Mahatma Gandhi, Mama Theresa juga Nelson Mandela, dimana dalam perziarahan hidup, mereka telah menyerahkan hati dan diri seutuhnya kepada orang yang lebih memerlukan kekuatan untuk menopang hidup.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Dalam buku, Cinta dan Tanggung Jawab, Karol Wojtyla (Yohanes Paulus II) mendalami bahwa masalah paling besar bagi manusia, bukanlah kemelut sosial politik tetapi ancaman terhadap kesadaran akan tanggung jawab yang melibatkan komitmen pribadi pada cinta. Hanya cinta yang dapat menyingkirkan kemungkinan seseorang diabaikan. Karena itu, semua orang perlu cinta. All you need is love. Kata John Lennon salah satu dedengkot The Beatles.

Boleh jadi cinta dan waktu, dua diksi yang begitu melekat dengan Brigjen TNI, dr. Ben Mboi, Gubernur NTT periode 1978 – 1988. Cintanya kepada masyarakat NTT bahkan lebih dalam dan lebar dari luasnya Laut Sawu. Dan karena cinta pula, dokter Ben seakan tak ada waktu untuk dirinya, baik selama berada di tanah Timor, memasuki usia senja yang romantis, hingga saatnya waktu mengakhiri semua pendakian hidupnya.

Waktu memang terlampau lamban bergerak bagi yang menunggu, terlalu cepat berjalan bagi yang cemas, terlalu lama berlari bagi yang pilu, dan terlampau singkat berdetak bagi yang selalu riang, namun bagi dokter Ben dan mereka yang selalu mencintai, waktu adalah abadi.

Dan waktu juga telah memutus rantai hidup Ben Mboi, putra Flores kelahiran Ruteng, 22 Mei 1935, Senin tengah malam jelang Selasa subuh, 22 Juni 2015 pukul 00.30, ketika semua rakyat NTT masih bermimpi. Tepat satu bulan setelah hari ulang tahunnya ke 80 Tuhan ternyata mempunyai visi terhadap Aloysius Benediktus Mboi. Selamat jalan Bapak pencetus Komando Raksasa, Operasi Nusa Makmur. Namamu selalu disebut tiap generasi bersama jejak langkahmu yang membekas kenangan tak terlupakan.

Kesederhanaan dan Cinta

Ketika Ben Mboi muda baru kembali dari operasi pembebasan Irian Barat (sekarang Papua), ada pemberitahuan bahwa seorang dokter tentara asal Manggarai ingin berbagi cerita dengan para pelajar se-kota Larantuka.Tampil apa adanya dengan pakaian dinas tentara, di panggung Rumah Paroki Kathedral Larantuka, Ben Mboi ternyata ganteng, pintar dan gaya. Tak dinyana, kehadirannya telah menjadi idola para muda pelajar saat itu. Itulah kesan pertama menyaksikan Ben Mboi tampil bak seorang orator ulung.

Rupa-rupanya kesederhanaan terus terbawa selama menjadi Gubernur NTT dua periode. Banyak pembantu beliau di Kupang, termasuk para kepala daerah saat itu menilai gubernur mempunyai komitmen yang kuat dan selalu konsisten menyampaikan gagasan-gagasan secara sederhana sehingga mudah dipahami sebagai sebuah pesan bermakna. Persis pengakuan Ben Mboi ketika baru dilantik menjadi Gubernur NTT bahwa kondisi NTT yang miskin dan sangat rentan terhadap berbagai perubahan, memerlukan cara-cara sederhana untuk mengatasinya.

Kesederhanaan ini masih tetap melekat dalam sebuah pertemuan yang bisa disebut terakhir bersama sekelompok generasi muda NTT dan masyarakat kepulauan dari Indonesia Timur, di Gedung Bima Sena, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tahun 2008. Dokter Ben tampak lebih sabar bicara saat itu dalam nada bariton rendah, lebih ngemong kata orang Jawa, meski tubuhnya mulai rapuh namun sikap dan semangatnya kukuh ketika memberi pendapat tentang masyarakat kepulauan, sebuah acara yang digagas lembaga Archipelago Solidarity (ARSO).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bahwa, apakah ada yang dibungkus Ben Mboi dibalik kesederhanaan, konsistensi dan komitmen sebagai pemimpin NTT?Apakah ada rahasia di balik kepemimpinan Ben Mboi sehingga seorang petani tua dari Kletek, Kabupaten Belu mengatakan bahwa Ben Mboi adalah gubernur yang menangis ketika rakyatnya menangis?

Mencoba memahami filosofi kesederhanaan dari perjalanan seorang Ben Mboi terutama selama menjadi pemimpin di NTT,berangkat dari satu pemikiran bahwa sikap membuat seseorang mempunyai arti dan sikap bisa membuat segalanya berbeda (Guru Motivasi, John.C.Maxwell).

Tampil sebagai pemimpin ketiga di NTT, Ben Mboi langsung membuat kejutan turun ke lapangan dengan membawa apa yang dia sebut Komando Raksasa yaitu Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Hijau (ONH).Sesungguhnya ada tiga program yang diperkenalkan Ben Mboi.Pertama, Koperasi Unit Desa (KUD) dimana semua rakyat desa wajib dan secara otomatis menjadi anggota, kedua, tanaman paksa (1978-1980) diimana rakyat diwajibkan menanam tanaman kerassupaya punya uang, ketiga ONM (1981-1983).

Ini komitmenBen Mboi untuk melepaskanmasyarakat NTT dari lingkaran kemiskinan, yang selama puluhan tahun menjadi “musuh abadi”, yang terlampau sulit dikalahkan karena rendahnya tingkat pendidikan,dan faktor alam, ketika petani-petani miskin di desa setiap tahun hanyamemohon kemurahan langit untuk menurunkan setetes air hujan. Dan laut saat itu hanya dilihat sebagai bentangan samudra yang mati tanpa kehidupan.

ONHsecara harafiah berarti menghijaukan seluruh hutan NTT dan semakin banyak petani dilibatkan dalam usaha intensifikasi maka kekurangan pangan akan teratasi. Dalam bahasa anak muda saatitu, dokter Ben membuat hutan NTT yang gundul menjadi “gondrong.”Melalui Perda yang diberinama Perda Wajib Tanam, rakyat menyambut gembira program gubernur dengan menanam apa saja, seperti pisang, kemiri, kapuk, kelapa, manga dan jati.

Ternyata ONM berhasil meningkatkan jumlah petani tradisional, dari 5.000 menjadi 140.000.Undana pun menyiapkan Fakultas Pertanian bergandengan dengan Fakultas Peternakan dan mulai menerima mahasiswa pada tahun akademik 1982-1983.Sebuah peran perguruan tinggi daerah, penting menyiapkan SDM pendukung program gubernur.Tahun 1979 rakyat NTT mendapat penghargaan sebagai lokasi pembukaan “pekan penghijauan” di Indonesia oleh presiden Soeharto di kawasan Bismarck, Kabupaten Kupang.Bagaimana dengan Flores?

Salah satu faktor penghambat para petani di wilayah Utara Flores menjual hasil kebun ke kota-kota terdekat antara lain ke Maumere karena hubungan keluar sulit padahal, wilayah Utara Flores lebih rata dibanding Selatan yang bertebing curam. Upaya Ben Mboi membangun jalan Trans Flores yang diresmikan presiden Soeharto dalam kujungan ke Maumere, Juni 1988, telah memancangkan beberapa prasasti di wilayah Sikka, Ende, Ngada dan Manggarai.Apakah jalan Trans Flores nanti akandiberi nama Jalan Ben Mboi? Wallahuallam. Mudah-mudahan.

Cerita sukses kepemimpinan Ben Mboi, meski ada perdebatan namunmayoritas mengakui ada capaian signifikan.Menurut Canis Pari (Kompas, 27/6/83), Ben Mboi berhasil menumbuhkan kegairahan membangun sehingga rakyat percaya bahwa mereka memiliki seorang gubernur yang mencintai mereka, gubernur yang hari ini di Alor, besok Sumba, lusa Manggarai.

Mengunjungi langsung rakyat, menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dalam keseharian hidup rakyat, juga aspirasi yang diampaikan masuk akal atau tidak, bukan lagi sebuah pertanyaan. Berada di tengah masyarakat,bagi seorang pemimpin sudah merupakan nilai tambah.Juga ketika terjadi bencana alam di Larantuka (1979), Ben hadir memberi kekuatan kepada orang Nagi dan para birokratyang kehilangan banyak anggota keluarga.

Canis Pari, politisi paling dinamis dan kontroversi mencatat ONM berhasil, namun aparat pembantu gubernur di provinsi termasuk bupati tidak bisa mengikuti irama kerja gubernur. Sementara Simon Hayon, Ketua PMKRI saat itu mengatakan gubernur memang sukses mendorong rakyat menjalankan ONM, namun tidak banyak merangkul aparat.

Mana yang benar, toh rakyat NTT mendukung tujuan ONM.Sebuah program yang menyita seluruh perhatian gubernur. Karena itu pula, dokter Ben dengan kepala dingin menjalankan kebijakan, untuk menghindari apa yang dia sebut : “kesalahan terhadap hati nurani”.Antara lain jangan sampai sebuah kebijakan justru mengakibatkan gairah kerja menurun.Jugadalam hal kesenjangan professional (kompetensi teknis) secara vertikal maupun horizontal tetap dijaga.Dalam Bahasa Ben Mboi, “tak ada akar rotan pun jadi.”

Itulah pengalaman hati nurani dan sikap jiwa (state of the spirit) seorangpemimpin.Hati nurani itu lemah, namun kelemahannya justru melahirkan kekuatan untuk bersikap.Itulah kata-kata Khalil Gibran yang selalu dikutip dokter Ben.Sikap yang konsisten tetapi tidak harus terang benderang, tidak terlihat namun dirasakan seperti garam yang merembes ke setiap masakan.Berikutnya harus bisamenjaga nilai-nilai keseimbangan, keserasian dan keselarasan. Terutama “hati nurani” ketika orang lain juga turut mengawasi “hati nurani” itu.

Artinya, jika determinan utama merupakan tanggung jawab terhadap kepentingan umum, maka dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan, ada juga sistem pengawasan, baik dari lembaga-lembaga, mereka yang bermoral tinggi dan berintegritas tinggi.Semua ini menurut Ben adalah “penjaga suara hati”, “penjaga kesadaran hati” (the walking conscience of the nation).Namun ketika mereka mulai berbeda pendapat, maka tanggung jawab terakhir ada pada gubernur.

Itulah sebagian “daftar cucian” yangdikemukakan Ben Mboi dalam“kuliah terbuka”tentang pengalaman sebagai Pamong Praja (Gubernur NTT), pada ulang tahun ke-20 Institut Pembinaan dan Pendidikan Manajemen (IPPM) di Jakarta tahun 1987.Sebuah fakta yang mencerminkan problem pembangunan di NTT saat itu juga ada dalam diri seorang gubernur.(bersambung)

Kisruh di Lembata: Takdir Atau Salah Urus?

Next Story »

Ben Mboi-Nafsiah, Sinergi Kekuatan Dua Citra

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *