Aku Terkenang Ben Mboi, Pemimpin Inspiratif

Foto Kenangan : Mantan Gubernur NTT Ben Mboy bersama istrinya, Ny. Nafsiah Mboy di Kamp Pengungsian Desa Ulu Dala, Ropa Kecamatan  Maurole Kab. Ende, Jumat  (6/09/2013). Foto Dokumentasi FBC/Nando Watu

Foto Kenangan : Mantan Gubernur NTT Ben Mboy bersama istrinya, Ny. Nafsiah Mboy di Kamp Pengungsian Desa Ulu Dala, Ropa Kecamatan Maurole Kab. Ende, Jumat (6/09/2013). Foto Dokumentasi FBC/Nando Watu

Oleh : Melky Koli Baran

Suatu pagi di restoran Hotel Sasando Kupang tahun 2006. Perlahan ia memasuki restoran Hotel di kota Kupang itu. Dibantu sebuah tongkat, ia melangkah maju didampingi seorang perawat pribadinya. Tak seorangpun di restoran itu menyangka jika sosok tua itu adalah mantan orang nomor satu di Nusa Tenggata Timur (NTT).

Melky Koli Baran, Kontributor FBC

Melky Koli Baran, Kontributor FBC

Pagi itu kraeng tua, pak Ben Mboi, mantan gubernur NTT memasuki restoran hotel untuk sarapan pagi. Satu hal yang menarik dari orang tua ini di pagi itu adalah ingatannya yang sangat kuat tentang NTT. Dalam ceritanya di pagi itu menggambarkan bahwa ia mengenal wilayah ini dengan baik. Sampai ke hal-hal detail, bahkan sampai ke tempat-tempat terpencil sekalipun di seantero NTT.

Ia bisa ingat semuanya karena dia pernah pergi ke sana. Ia pergi untuk rakyat. Ia pergi ke sana bukan untuk membawa sekarung uang Dana Alokasi Umum (DAU) atau dana Bansos seperti saat ini. Dia pergi ke ke pelosok-pelosok Nusa Tenggara Timur untuk membangunkan spirit hidup masyarakat NTT sebagai negeri bukan dengan label Nasib Tak Tentu (NTT) tetapi negeri yang hijau dan makmur. Membawa semangat “Nusa Hijau dan Nusa Makmur”. Ia menyemangati, memotivasi, bahkan menggertak gaya militer agar masyarakat di seluruh NTT bangun dari keterpurukan menjadikan NTT ini nusa hijau dan nusa makmur agar keluar dari kemiskinan.

Untuk sukseskan cita-cita NTT jadi nusa hijau dan nusa makmur ia serius menelusuri Provinsi kepulauan ini pada masa dengan transportasi yang buruk serta penginapan dan hotel di daerah-daerah yang minim. Mengenang kondisi riil waktu itu seakan menghidupkan kembali komitmen dan jiwa kerakyatan seorang prajurit Angkatan Darat Bintang Satu yang tidak peduli dengan berbagai keterbatasan anggaran pembangunan, anggaran perjalanan dinas dan anggaran lainnya.

Membagi Biji Kemiri

Ketika mantan gubernur NTT asal Manggarai-Flores ini menunggu pesanan makanannya di pagi itu, sejumlah tamu hotek itu memberi salam kepadanya. Ada yang bertanya, “apakah ini bapak Ben Mboi mantan Gubernur NTT”? Spontan ia menjawab santai. “Ya, kalau Ben Mboi, tentu mantan Gubernur. Masa ada Ben Mboi lain di NTT?”. Semua kami tertawa menyemaraki suasana pagi itu. Kami semua juga senang karena orang tua ini bisa bersenda gurau lepas. Padahal mengingat masa ia menjabat sebagai Gubernur, walau rajin ke desa-desa dan kecamatan ia tetaplah orang yang sangat disegani.

Kembali pada ingatannya yang luar biasa. Beberapa orang yang mengerumuninya di restoran itu masih ia ingat walau samar-samar jika sebelumnya pernah bertemu. Kepada saya dia bertanya, “Engkau wartawan”? Ia masih ingat ketika saya mewawancarainya tahun 1993 di Hotel Permatasari Maumere untuk Surat Kabar Mingguan Dian.

Ia teringat pertanyaan “apakah bapak ini Ben Mboi yang mantan gubernur NTT”. Ia berkisah tentang seorang mahasiswi di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Ini berhubungan dengan seringnya ia berkunjung ke daerah-daerah yang tidak sebatas datang ke kantor bupati setempat tetapi sampai ke masyarakat.

Ia memulai ceritanya katanya, “saat ini uang sangat limpah di negara ini. Di mana-mana uang mengalir ke daerah. Banyak proyek yang membawa masuk uang ke daerah bahkan desa-desa tetapi kurang menghasilkan uang untuk daerah. Beda dengan masa saat saya menjadi gubernur”.

Kebetulan di Hotel Sasando pada hari itu ada lokakarya tentang Kehutanan. Ia mengatakan, ada spanduk di hotel ini tentang lokakarya kehutanan. Ini contoh tentang uang banyak. Menurutnya, banyak sekali uang untuk membangun kehutanan di NTT tetapi ada yang dihabiskan untuk diskusi di hotel bintang.

Dari pengalamannya semasa menjadi gubernur NTT, mengurus hutan itu sangat gampang. “Suatu kesempatan saya ke Unika Widya Mandira Kupang. Saya berjalan menyusuri selasar dan lorong kampus. Saya leluasa berjalan karena saya bukan lagi gubernur. Kalau masih gubernur tentu dijaga ketat sehingga tidak leluasa bertemu masyarakat”.

Ketika berkunjung ke Unika saat itu, hampir tidak ada mahasiswa yang mengenalnya. Menurutnya, mungkin anak-anak mahasiswa itu pikir dia adalah salah seorang kakek yang sedang mencari cucunya yang kuliah di kampus itu.

Tiba-tiba, seorang mahasiswi menghampirinya, walau ragu-ragu mahasiswi itu meraih dan mencium tangannya sambil bertanya. “Apakah benar ini bapak Ben Mboi”?

Sambil tersenyum, ia berkata megulangi kejadian itu. “Saya jawab, ya, saya Ben Mboi”. Tetapi mahasiswi itu belum puas lalu bertanya lagi. “Apakah bapak Ben Mboi yang mantan gubernur”?

“Ya, di NTT hanya satu Ben Mboi dan dia itu mantan gubernur”. Sekali lagi mahasiswi itu meraih tangannya dan menciumnya sambil berkata, “untung bapak jadi gubernur sehingga saat ini saya bisa hadir di sini sebagai mahasiswi. Jika tidak, mungkin saya tidak bisa kuliah karena tidak punya uang untuk biaya kuliah”.

Mendengar pengakuan yang jujur ini, pak Ben Mboi berpikir sejenak. Menurutnya, semasa menjadi gubernur ia tidak pernah membagi-bagi uang kepada siapapun, termasuk kepada anak perempuan ini.

Sebelum ia mengatakan hal itu, mahasiswi itu melanjutkan celotehnya. Saat itu bapak tidak memberi saya uang untuk kuliah ini. Tapi ada hal luar biasa yang bapak lakukan saat itu. Ketika kami masih di bangku Sekolah Dasar, bapak berkunjung ke desa kami. Bapak juga datang ke sekolah kami dan bicara tentang program Nusa Makmur Nusa Hijau. Setelah itu bapak mengambil sebuah karung dari mobil. Isinya biji kemiri. Bapak membagi-bagikan biji kemiri kepada kami untuk ditanam. Saya bisa kuliah di sini karena puluhan biji kemiri dari bapak yang saya tanam itu hidup.

Menghargai Potensi Milik Rakyat

Cerita tentang pertemuannya dengan seorang mahasiswi di kampus Unika Kupang tidak sekedar sebuah nostalgia yang ingin menonjolkan dirinya. Cerita ini sesungguhnya punya pasan sangat penting tentang bagaimana seorang pemimpin memotivasai rakyatnya untuk membangun dari apa yang dimilikinya. Pemimpin yang menyemangati rakyat untuk tumbuh sebagai masyarakat yang bertanggungjawab atas diri dan masa depannya. Pemimpin yang tidak sudi menjadikan rakyatnya sebagai orang yang cengeng dan bermental meminta.

Program Nusa Makmur dan Nusa Hijau pada masa itu tanpa embel bagi-bagi uang ke rakyat. Yang ia minta adalah lanjutkan pendahulunya pak El Tari dengan semboyan “Taman, Sekali Lagi Tanam!”. Dengan menanam, masyarakat sedang berinvestasi di atas tanah leluhur di bumi Timor, Sumba, Flores dan pulau-pulau kecil lainnya.

Membaca berita tentang berpulangnya pemimpina yang merakyat ini, saya terkenang akan progam Nusa Hijau Nusa Makmur. Program yang sekaligus jadi spirit mengubah NTT yang gersang dan miskin ini menjadi hijau dan makmur. Melalui program ini, tersirat sangat kuat upaya mengolah tanah NTT yang kering ini menjadi hijau dan makmur.

Saat ini sangat berbeda. Masih menggantungkan harapan pada investor . Bukan berpijak pada upaya sadar mengolah tanah NTT yang gersang ini menjadi hijau dan produktif. Justru para pemimpin yang termandat untuk mengurus tanah gersang Flobamora ini membiarkan sekaligus menyerahkan tanah ini kepada para investor untuk mengurusnya. Lenbih parah lagi adalah investor pertambangan yang dari sisi ekologi punya daya rusak sangat dasyat terhadap ekosistem.

Model pendekatan pembangunan yang mengejar kemakmuran dengan cara merusak alam NTT justru dilawannya. Ben Mboi melalui program Nusa Hijau Nusa Makmur mengajar rakyat untuk membangun kemakmuran melalui investasi di atas tanah leluhur dengan cara menanam dan menghijaukan Flobamora. Pendekatan yang populis dan sadar bahwa apa yang dilakukan sendiri oleh rakyat adalah investasi kehidupan bagi rakyat sendiri. Sedangkan jika investasi yang dilakukan oleh investor luar itu hanya untuk memakmurkan investor sendiri dan rakyat sekedar menjadi buruh kasar di pertambangan.

Ketika kondisi Negara masih belum kuat secara finansil, orang seperti Ben Mboi menggebrak kesadaran rakyat untuk menanam “uang” di tanah leluhur. Seorang mahasiswi telah bercerita tentang pengalaman ini. Pak Ben Mboi membagi biji kemiri, dan dari biji kemiri itu seorang anak petani bisa duduk di kursi Perguruan Tinggi. Sebuah kenangan yang inspiratif. Lain ceritanya jika saat itu pak Ben Mboi membagi uang. Mungkin hasilnya lain. Bisa saja masyarakat terpecah dan tercerai berai karena pengelolaan keuangan ini kurang bijak di tangan rakyat.

Lusilame, Konstruksi Identitas

Next Story »

Atawolo: Gereja “Gemohing” dan Rekonsiliasi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *