7 Jam KMP Sirung Kandas di Dermaga Deri, 178 Penumpang Dievakuasi

Proses evakuasi penumpang KMP Sirung ke pantai Deri memakai perahu nelayan milik warga.( Foto : Goris Pugel )

Proses evakuasi penumpang KMP Sirung ke pantai Deri memakai perahu nelayan milik warga.( Foto : Goris Pugel )

LARANTUKA, FBC - Kapal motor penyeberangan (kapal feri) Sirung milik PT. Flobamora, Kamis (9/07/2015) sekitar pukul 09.00 wita karam di dermaga feri Deri, Adonara kabupaten Flores Timur.

Kapal yang mengangkut 178 penumpang dari Lewoleba kabupaten Lembata menuju Kupang tersebut karam di pasir saat hendak berlabuh di pelabuhan.

Kapolres Flotim, AKBP Dewa Putu Gede Artha menyampaikan hal itu kepada wartawan usai apel gelar pasukan terkait pengamanan menjelang lebaran, Kamis ( 09/07/2015 ) di Mapolres Flotim.

Dikatakan Gede Artha, berdasarkan informasi yang diterima dari aparat kepilisian di Adonara, kapal tersebut karam saat hendak bersandar untuk menaikan penumpang. Para penumpang lanjutnya masih berada di dalam kapal menunggu proses evakuasi ke area dermaga.

Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan ( KSOP )Larantuka, Robby. S kepada FBC yang menemuinya di kantornya, Kamis  (09/07/2015 ) membenarkan hal ini.

Menurut Robby kapal feri tersebut milik PT.Flobamora- pemerintah propinsi NTT,  mengangkut 178 penumpang dari Lewoleba tujuan Kupang. Kapal kandas di pasir karena air laut surut.

“ Kapal masih berada di lokasi dan masih menunggu air laut pasang sehingga bisa terapung kembali dan bisa berangkat kembali “ sebutnya.

Saat ditanyai FBC apakah pihak Syahbandar sudah melakukan evakuasi, Robby mengatakan, pihak Syahbandar hanya menyumbangkan tenaga dan melakukan pengawasan saja sementara evakuasi merupakan kewajiban pemilik kapal dan harus menanggung semua biaya evakuasi.

Ketika ditanya FBC, apakah para penumpang sudah dievakuasi ke darat, Robby menjawab para penumpang sudah diselamatkan ke dermaga menurut informasi yang diterimanya dari dinas perhubungan propinsi.

“ Staf saya di lapangan mengatakan para penumpang masih berada di kapal hingga pukul 11.00 wita dan belum dievakuasi “ ralatnya.

Dari pembicaraan telepon yang dilakukan bersama stafnya di lokasi kejadian, Robby meyakini kapal bisa berlayar kembali saat air laut mulai pasang.

Dalam kejadian ini Robby menduga ada 3 penyebab terjadinya kesalahan pendaratan ini yakni human eror, kondisi kapal dan yang terahkir force major atau alam. Hingga pukul 13.00 wita, kapal feri tersebut sementara masih di lokasi dan menunggu air pasang.

“ Jika tidak ada gangguan mesin maka kapal bisa dioperasikan kembali dan langsung berlayar menuju pelabuhan tujuan “ tegasnya.

Baru Dua Kali

Ama Lego Rianghepat warga desa Riangduli, kecamatan Witihama yang dihubungi FBC via telepon mengatakan, saat kapal feri mau bersandar, nahkoda mengambil haluan dari arah timur terlalu dekat dengan pelabuhan.

Saat itu sebut Ama Lego, arus laut sedang kencang dari arah Boleng ( arus Watawoko ) di sisi timur dermaga dan menghantam lambung kapal dari bagian depan dan belakang sehingga feri terseret ke pantai Sada dan kandas.

Semua penumpang sambungnya, turun memakai perahu milik warga kampung Deri desa Dua Blolong yang ada di sekitar pantai pukul 13.00 wita

“ Kapal feri ini baru dua kali sandar di pelabuhan ini dan selama ini feri Ile Boleng yang selalu masuk di pelabuhan ini karena KMP Ile Boleng sedang dok maka digantikan oleh KMP Sirung “ ujarnya.

Untuk turun ke darat, beber Ama Lego, setiap penumpang harus membayar 5 ribu dan sepeda motor 25 ribu rupiah. Lamanya proses evakuasi sambungnya memakan waktu 7 jam dan sekitar jam 16.00 wita feri pun bisa bertolak ke Waijarang setelah air laut pasang. Terdapat dua puluhan sepeda motor juga turut di evakuasi.

Goris Pugel, kepala urusan pemerintahan ( kaur ) desa Tuwagoetobi kecamatan Witihama, yang dihubungi FBC juga menyebutkan, KMP Sirung ini baru dua kali bersandar dan saat pertama bersandar juga terseret arus di pinggir pelabuhan dan menyebabkan badan kapal menghantam pelabuhan. Kejadiannya saat air laut sedang surut jauh sehingga kapal ini bisa keluar setekah air pasang dan kapal pun terapung.

“ Proses feri sandar yang kami lihat tidak seperti saat KMP Ile Boleng bersandar di dermaga ini. Dia tidak berbelok ke kiri dahulu dan saat mendekati pelabuhan baru berbelok ke kiri sehingga terseret ke pantai dan sempat menabrak karang dan kandas “ papar Goris.

Untuk diketahui, pelabuhan penyeberangan Feri ini dibangun sejak tahun 20l0 hingga 2013 menggunakan dana dari APBN sebesar Rp 47 miliar lebih. Pengerajaannya dilakukan selama empat tahun anggaran. Pelaksana pengerjaan pembangunan pelabuhan ini oleh PT Bumi Indah. Pelabuhan penyeberangan Feri di Deri, Kecamatan Ile Boleng, Adonara, Kabupaten Flores Timur. Ini diresmikan gubernur Nusa Tenggara Timur ( NTT ) Frans Lebu Raya, Rabu (02/042014 ) ( ebd )

Ben Mboi Diusulkan jadi Nama Pelabuhan Tenau

Next Story »

Bandara El Tari Buka Posko Lebaran

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *