Wisata Flores Jadi Besar, Apa yang Mesti Dilakukan?

Kampung Wolotopo saat dikunjungi para wisatawan. (Foto : FBC/Nando Watu)

Kampung Wolotopo saat dikunjungi para wisatawan. (Foto : FBC/Nando Watu)

Oleh: Nando Watu

Tahun 2012 laporan “The Travel Foundation and Forum for the Future”, mengemukakan, 75 persen pelanggan menginginkan Liburan Yang yang bertanggungjawab. Tahun 2012 studi yang dilakukan oleh “TripAdvisor” menyatakan bahwa 71 persen dari mereka yang disurvei mengatakan mereka akan membuat pilihan tour yang ramah lingkungan. 2011 studi yang dilakukan oleh “Conde Nast Traveler” mengatakan bahwa 58 persen dari pelanggan meminta hotel pilihan wisatawan dipengaruhi oleh dukungan hotel memberikan kepada masyarakat lokal.

Pada tahun yang sama studi oleh “Kuoni” menemukan bahwa 22 persen responden mengatakan bahwa faktor keberlanjutan (sustainabel) adalah satu dari tiga faktor yang mempengaruhi ketika memesan liburan. Semantara itu tahun 2010 studi yang dilakukan oleh “Mass Tour Operator” menemukan bahwa: 44 persen pelanggan dari AS dan Eropa  mengatakan bahwa jika sebuah perusahaan menawarkan pilihan liburan yang berkelanjutan, mereka akan tertarik.  Sebanyak 44 persen juga mengatakan mereka memiliki citra yang lebih baik dari sebuah perusahaan yang secara aktif berinvestasi dalam inisiatif peletarian lingkungan dan sosial.

Wisata Flores

Apa yang dilihat dan dikerjakan oleh wistawan selama di Flores akan sangat menentukan lama tinggal (length of stay). Survei tahun 2006 diperoleh hasil bila dominasi aktivitas wisatawan masih di kawasan pulau (97 persen) sedangkan kegiatan di wilayah (mainland 3 persen) namun dua tahun kemudian ada perubahan 57 persen berwisata di pulau pulau dan 41persen berakativitas di daratan seperti kegiatan di kampung , hutan dan lainnya.

Wartawan FBC dan Alumnus Sustainable Tourism Miami Dade College-Florida USA

Nando Watu, Wartawan FBC dan Alumnus Sustainable Tourism Miami Dade College-Florida USA

Salah satu daya tarik mainland adalah hutan Mbeliling yang memiliki Luas 257.935 kiometer dan Danau Sano Nggoang Manggarai Barat.

Survei tahun 2014 yang dilakukan Swisscontact Wisata menggambarkan bahwa minat tertingi dengan Flores adalah pada people and culture (manusia dan budaya), nature (alam) melihat Komodo, Kelimutu, Diving, Pulau, pantai, snorkeling, Relaxing, tour lintas Flores Trekking hiking dan mendaki gunung, scuba diving, air terjun dan danau, melihat gua, pengamatan burung, pertunjukan budaya, sea kayaking, biking.

Dari hasil survei memperlihatkan  96,8 persen wisatawan merekomendasikan untuk keluarga dan teman untuk kunjungi Flores, 95 persen baru pertama kali kunjungi Flores, wisatawan yang membeli sovenir 52, 2 [ersen.

Dari sisi umur responden 18-29 (44,5 persen), 30-39 (32,8 persen), 40-49 (12,6 persen), 50-59 (7,6 persen)60-69 (2,5 persen) wisatawan yang datang 85 persen mengatur sendiri (self organize), 7-8 persen yang diatur oleh tour operator atau booking dari tour international. Sementara itu model transportasi menuju Flores dengan pesawat melalui Bali, 40 persen, dengan Ferry dari Lombok dan Sumbawa ke labuna bajo 32 persen .

Jika Eco-wisata Flores dalam kerangka pembangunan berkelanjutan
yang menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari konsep pembangunan, maka  kita akan bersentuhan dengan “pilar pembangunan berkelanjutan” yang disajikan oleh Niko Roorda dalam bukunya ““Fundamentals of Sustainable Development”: “: people, planet dan profit, “triple P ” seperti yang disebut oleh Roorda,”triple bottom line”. Pembangunan berkelanjutan berorientasi jangka panjang sehingga selaras, serasi dan seimbang antara 3 (tiga) pilar tersebut ekonomi (profit), lingkungan (planet) dan sosial (people).

Pertama, People: secara ringkas konsep 3P itu digambarkan bahwa pembangunan harus mengutamakan pembangunan masyarakatnya. Prinsip Eco-wisata dalam ranah 3P berarti memberikan peluang pemberdayaan lebih besar kepada masyarakat lokal untuk berperan aktif, fokus pada peningkatan peran serta masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Hal ini amat penting agar terciptanya rasa kepemilikan (sense of belonging) dan pemahaman bersama (mutual understanding). Karena itu ketika sebuah daerah ditentukan sebagai desa wisata misalnya, yang diutamakan pembangunan adalah pemberdayaan masyarakatnya melalui berbagai pertemuan, diskusi, shering informal demi menjaring berbagai ide dan gagasan dari komunitas setempat, berdasarkan ide ide dan temuan lapangan. Inilah kemudian dirancang dengan berbagai edukasi, pelatihan, transfer skill, pemberdayaan, workshop dan cross-training.

Dalam pendekatan eco wisata yang digaungkan adalah pendekatan arus dari bawah ke atas (button-up) dengan kata lain lebih memberikan peluang komunitas setempat untuk menetukan arah pembangunan pariwisatanya, pemerintah dan lembaga pemberdayaan hadir sebagai fasilitator dan pendukung kebijakan maupun finansial.

Dalam upaya pemberdayaan komunitas ini, biarkan masyarkat lokal yang menyediakan berbagai kebutuhan dasar wisata, mulai dari akomodasi, atraksi, trasportasi hingga pada makan dan minum, atau bisnis dikelola oleh masyarakt setempat. Dengan demikian dalam ecowista kita tengah membangun pariwisata berbasiskan masyarakat (community based tourism)

Kedua Planet: Pembangunan harus memperlihatkan minumnya dampak lingkungan hidup, dan mengutamakan pelestarian alam dan biodiversitas. Aktivitas yang dilakukan atas nama ecowisata, berarti mengedepankan aksi aksi yang ramah lingkungan.

Karena itu di area konservasi seperti TN Komodo, Hutan Mbliling, TNK Kelimutu, Taman Laut Riung, perlu diproteksi, potensi alam yang ada di sekitar lingkungan dimanfaatkan, misalnya mengunakan materil bamboo atau kayu untuk membangun eco-lodge atau penginapan, menyediakan makanan dari hasil produktivitas komunitas setempat, memanfaatkan sampah sampah untuk didaur ulang menjadi bahan yang produktif berupa tas, gantungan kunci, komunitas lokal diberdayakan dengan menjual berbagai hasil olahan bahan organik.

Perusahan jasa ecowisata perlu memperhatikan bahwa operasional usaha mereka perlu memperhatikan prosedur baku yang ramah lingkungan seperti analisi dampak, audit lingkungan (green audit) begitu juga dengan restoran dan hotel.

Tidak hanya satu sisi, bagi wisatawan yang datang juga harus diupayakan untuk tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan, mereka diajak untuk besama warga lokal untuk menanam bamboo atau pohon yang dikamas dalam sebuh paket wisata. Dalam dan melalui aktivitas wisata kita tengah menciptakan sebuah pengalaman saling berbagi untuk menyelamatkan alam serentak memperkaya kehidupan.

Di sinilah sebenarnya kita menyediakan produk produk atau paket-paket wisata yang ramah lingkungan, seperti wisata alam (Nature tourism) wisata dampak rendah (low impact tourism,) wisata hijau (green tourism), bio-tourism, pariwisata ekologis bertanggung jawab (ecologically responsible tourism), wisata hutan (jungle tourism), green travel, petualangan (adventure travel), wisata liar (wild life tourism).

Ketiga, Profit, atau keuntungan. Profit atau keuntungan ini tidak sebatas keuntungan secara ekonomis dari pelaku pelaku yang bergerak langung dalam dunia eco-wisata tetapi juga oreintasi keuntungan yang dibuat lebih merata, kuntungan juga harus kepada warga lokal, para pelaku wisata dan juga tamu.

Akirnya eco-wisata yang berkelanjutan akan mengedepankan terjaminnya kualitas lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang lestari (Environement Sustainability), ketelibatan masyarkat lokal yang lebih besar (Social Sustanability), terjaminnya kelestarian budaya masyarakat (culture sustainability).

Secara ekonomis tidak hanya menguntungkan para pihak yang terkait tetapi secara nyata dialokasikan dana untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan kawasan dan masyarakat sekitarnya (Economic Sustainability).

Ekowisata, Pariwisata Flores Kian Menjadi Besar

Next Story »

Demi Mendongkrak Pariwisata, Jangan Asal Memberi Nama

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *