Revolusi Mental Dimulai dari “Rumah Pancasila”

JAKARTA, FBC-Krisis kebangsaan yang seringkali melanda perjalanan negara Indonesia, mengharuskan setiap warga kembali  ke “Rumah Pancasila” untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Judul : Rumah Pancasila, Penulis : Aloysius B.Kelen, M.Si., Kata Pengantar : Prof. Kondrad Kebung,Ph.D., Penerbit : Nusa Indah Ende 2015.

Judul : Rumah Pancasila, Penulis : Aloysius B.Kelen, M.Si., Kata Pengantar : Prof. Kondrad Kebung,Ph.D., Penerbit : Nusa Indah Ende 2015.

Demikian halnya dengan revolusi mental yang kian menjadi kebutuhan saat ini, dapat dimulai dengan tindakan konkrit yakni membangun Rumah Pancasila dari tingkat kampung hingga tingkat propinsi.

Drs. Aloysius B Kelen, M.Si dalam bukunya “Rumah Pancasila”, terbitan Nusa Indah Ende 2015, menguraikan tentang pentingnya masyarakat membangun rumah Pancasila  di setiap kampung, desa , kecamatan dan provinsi.

“Dalam bahasa sederhana , kita tidak cukup hanya memiliki aula seremonial yang ada di seluruh pelosok tanah air termasuk DPR-MPR yang mewah, tetapi kedepan kita mesti mempunyai rumah bersama yang berakar dari budaya bangsa yakni Pancasila,” tulis Alo Kelen dalam buku setebal 105 halam ini.

Buku yang diluncurkan pertama kali saat kunjungan Menteri Pariwisata Arief Yahya ke Ende dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila , Senin (1/6/2015) ini, mengemukakan alasan yang kuat betapa pentingnya membangun rumah Pancasila baik dalam pengertian fisik berupa bangunan, maupun dalam pengertian abstrak berupa nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Alo Kelen  yang ditemui FBC di Jakarta, Sabtu, (13/6/2015), mengatakan gagasan “Rumah Pancasila” telah diproses melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) tingkat kelurahan Kelimutu, tingkat kecamatan Ende Tengah dan kemudian  tingkat kabupaten Ende 2013.

Drs.Aloysius B.Kelen, M.Si berpose bersama Menteri Pariwisata, Bupati Ende dan Kadis Pariwisata NTT. (Foto : FBC/Ian Bala)

Drs.Aloysius B.Kelen, M.Si berpose bersama Menteri Pariwisata, Bupati Ende dan Kadis Pariwisata NTT. (Foto : FBC/Ian Bala)

Menurut Alo Kelen, aplikasi konsep Rumah Pancasila adalah rumah yang penuh simbol dan kaya makna, digunakan seluruh lapisan masyarakat, tempat warga belajar nilai-nilai Pancasila dan kehidupan universal, tempat belajar hal-hal positif dan konstruktif, serta wujud konkrit berdaulat secara politik.

Bertolak dari hakekat dasar dan filosofi rumah dalam setiap kebudayaan, menurut pengajar Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) St. Ursula-Ende ini, buku tersebut mencoba memberikan solusi konkrit pengamalan Pancasila melalui kehadiran “Rumah Pancasila”.

Alasan yang diuraikan  adalah di dalam Rumah Pancasila (Rumah bersama bangsa ) setiap warga negara duduk dan ada bersama untuk berdialog dengan Yang Maha Esa, bermusyawarah dengan sesama dalam kebersamaan, saling menghargai, saling menghormati dalam semangat persatuan dan kesatuan, serta menemukan model-model kehidupan bersama yang lebih adil , damai sejahtera , solider, toleran , demokratis dan lain-lain.

“Pancasila yang dikenal selama ini sebagai ideologi bangsa dan berkutat pada ranah teoritis tetapi kini menghadirkan Pancasila dalam bentuk rumah., yang lebih menyentuh , menyapa dan akrab dengan masyarakat akar rumput.Hal ini karena nilai Pancasila pertama kali disemaikan di dalam rumah atau keluarga di setiap budaya,” kata Alo Kelen.

Dalam kata pengatar buku ini, Prof Kondrad Kebung, Ph.D mengatakan Musrembang Kabupaten Ende periode 2013 tentang rumah Pancasila yang akan dibangun di desa, kelurahan , kecamatan, kabupaten bahkan di institusi pendidikan merupakan suatu program strategis yang luar biasa dan patut diapresiasi.

“Kabupaten Ende tampil sebagai suatu cahaya yang memberikan secercah sinar tidak hanya untuk Flores sendiri, tapi juga untuk NKRI dan bahkan untuk dunia internasional, yaitu dengan cara membangun dan melestarikan nilai-nilai luhur bangsa sebagaimana tersurat dan tersirat dalam ideologi Pancasila,” tulis Prof. Kondrad. (Ben)

 

Lima Pelabuhan Laut di Flores Timur dan Lembata Siap Layani Pemudik

Next Story »

Masyarakat Lewobunga Adonara Mengadu ke Kapolda NTT

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *