Puluhan Wisatawan Asal Australia Kunjungi Danau Kelimutu dan Kampung Adat Rada Ara

Para wisatawan asal Australia berkunjung ke Taman Bung Karno Ende. Mereka tampak mendengar penjelasan dari guide Dominggus persis dibawah pohon sukun. (Foto : FBC/Ian Bala)

Para wisatawan asal Australia berkunjung ke Taman Bung Karno Ende. Mereka tampak mendengar penjelasan dari guide Dominggus persis dibawah pohon sukun. (Foto : FBC/Ian Bala)

ENDE, FBC-Sekitar 88 wisatawan asal negara Australia berkunjung ke dua tempat wisata di Ende yakni Danau Kelimutu dan Kampung adat Rada Ara Ndona. Para wisatawan ini menggunakan kapal pasiar Australia Caledonian Sky Nassau dan berlabuh di Pelabuhan Ippi Ende pada Rabu (3/6/2015).

Sebelumnya, ke Ende, para wisatawan berkunjung di Pare-Pare Pulau Sulawesi dan Pulau Komodo Labuan Bajo. Dari Ende, wisatawan akan menuju Larantuka, Lamalera dan Kupang.

Seperti yang disaksikan FBC, Rabu (3/6/2015). sekitar pukul 09.15 Wita wisatawan mulai berangkat dari Pelabuhan Ippi Ende dibagi dalam dua kelompok, 62 wisatawan menuju Danau Kelimutu menggunakan lima bus sedangkan 26 wisatawan menuju kampung adat Rada Ara Ndona menggunakan empat bus.

Menurut informasi yang diperoleh, rute perjalanan untuk 62 wisatawan Danau Kelimutu, dari Pelabuhan Ippi menuju Detusoko dan berkunjung ke Panti Susteran di Detusoko. Mereka didampingi guide Ferdinandus Watu bersama beberapa guide lainnya.

Para watawan asal Australia membeli tenun ikat milik ibu-ibu di kampung adat Rada Ara Ndone (Foto : FBC/Ian Bala)

Para watawan asal Australia membeli tenun ikat milik ibu-ibu di kampung adat Rada Ara Ndone (Foto : FBC/Ian Bala)

Sementara, rute wisatawan Kampung adat Rada Ara, sebelumnya menuju Taman Permenungan Bung Karno, Rumah Pengasingan Bung Karno lalu menuju Kampung Adat Rada Ara yang berada di Kelurahan Onelako, Kecamatan Ndona.

Di Taman Bung Karno, para wisatawan tersebut didampingi guide Dominggus Koro dari Maumere bersama guide dari Destination Management Organization (DMO) Flores-Ende, Ferdinandus Rada Wara, Maksi Wolo dan Irwan Mahmud.

Dominggus selaku leader guide para wisatawan tersebut menjelaskan tentang sejarah perjuangan Soekarno pada masa penjajahan Belanda. Beberapa wisatawan serius mendengar penjelasan itu, sementara yang lainnya asyik berfoto selfie di bawah pohon sukun dan di depan patung Bung Karno.

Dari Taman Bung Karno, para wisatawan menuju Rumah Pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira. Disana diterima oleh penjaga kunci Syafrudin Puan Tia.

Para wisatawan tampak meneliti beberapa benda pusaka milik bung Karno. Beberapa wisatawan lain menuju ke belakang lalu memandang satu per satu mulai dari rak buku, dapur, kamar mandi hingga sumur air.

Sekitar 25 menit kemudian, perjalanan kembali menuju kampung adat Rada Ara yang jarak sekitar 8 kilometer dari pusat kota. Disana wisatawan disambut dengan tarian “Wanda Pa’u” yang dbawakan para Mosalaki dan tarian “Jeku Bebu” oleh gadis-gadis setempat. Para wisatawan pun, ikut menari bersama.

Wisatawan asal Australia mengunjungi rumah pengasingan bung Karno sebelum menuju kampung adat Rada Ara (Foto : FBC/Ian Bala)

Wisatawan asal Australia mengunjungi rumah pengasingan bung Karno sebelum menuju kampung adat Rada Ara (Foto : FBC/Ian Bala)

Dominggus menjelaskan keberadaan kampung itu, karena memang dia berasal dari kampung Roworeke tetangga kampung adat Rada Ara. “Ini kampung adat. Mereka itu adalah para Mosalaki atau tua-tua adat di kampung ini,”kata Dominggus sambil mengarakan pandangan ke para Mosalaki yang duduk persis dibagian barat gubuk itu.

Setelah itu, para wisatawan mencicipi hidangan lokal berupa nasi jagung tumpeng,masakan dari ubi kayu kering, sayur serta beberapa makanan lokal lainnya. “Wow, enak sekali,,nice,,nice,”ungkap seorang perempuan lanjut usia asal Australia yang sedang mencicipi makanan lokal itu.

Wisatawan itu juga berkunjung tempat ibu-ibu yang sedang menenun di halaman rumah sebelah barat gubuk itu. Mereka tampak senang melihat ibu-ibu itu.

“Wah senang sekali melihat ini. Saya sangat senang,”kata Llianne wanita yang mengenakan topi putih dan berkaca mata hitam yang didampingi guide Irwam Mahmud. Llianne pun membeli satu kain tenun motif Lio yang dipajangkan disekitar itu.

Beberapa tenun ikat pun terjual. Seperti halnya, tenun ibu Katarina Mbulu terjual 1,2 juta dan selendang ibu Apolonia Ganda 250 ribu.

Para wisatawan juga berkunjung ke rumah adat. Mereka masuk dan melihat kondisi rumah adat. “Rumah adat ini berumur ratusan tahun,”ujar guide Maksi kepada touris seperti yang diungkapkan masyarakat setempat.

Pemimpin rombombongan, Jane Wilson mengungkapkan terima kasih atas pelayanan para Mosalaki dan masyarakat setempat. Mereka berjanji akan berkunjung lagi di kampung adat Rada Ara.

“Kami mengucapkan terima kasih atas ramah tamah sederhana. Kami berjanji akan kembali lagi.”kata Jane seperti yang diterjemahkan guide Dominggus.

Sementara itu, salah seorang Mosalaki, Mikhael Wedho, melalui media ini mengucapkan terima kasih berlimpah atas kehadiran para tamu asing. Ia mengharapkan dapat mengunjung kembali sesuai yang dijanjikan. “Kami ucap terima kasih sudah berkunjung ke sini. Kami harap, mereka bisa datang lagi,”ujarnya.

Sekitar pukul 14.00 Wita, para touris ini harus kembali dan berkumpul di Pelabuhan Ippi. Mereka harus berlayar lagi menuju Lamalera-Larantuka dan Kupang.

Pantauan FBC, para touris ini dihantar dengan tarian “Wanda Pa’u” menuju jalan raya. Sepanjang jalan tamu asing itu menari bersama masyarakat. (Ian Bala)

TNI Gelar Lomba Lari Ekspedisi NKRI

Next Story »

Dana Bos Tahap Pertama Belum Cair, Sekolah Terpaksa Pinjam Dana dari Pihak Lain

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *