Polisi Sebut Video Pembunuhan Laurens Wadu Tidak Terbukti

LEWOLEBA, FBC-Dugaan tentang drama pembunuhan Laurens Wadu yang direkam dengan HP oleh penjaga rusa di Rumah Jabatan Bupati (RJB), sebagaimana informasi yang disampaikan Surva Uran dinyatakan tidak terbukti oleh Penyidik Polres Lembata.

Hal ini disampaikan Kasubag Humas Polres Lembata, Yusuf Dharmawan yang dijumpai FBC, Rabu (24/6/2015) di Mapolres Lembata.

Romo Frans Amanue Pr, dalam sebuah kesempatan di halaman Polres Lembata (Foto : FBC/Yogi Making)

Romo Frans Amanue Pr, dalam sebuah kesempatan di halaman Polres Lembata (Foto : FBC/Yogi Making)

Menurut Yusuf, penyidikan mengenai informasi tersebut dilakukan polisi setelah informasi tentang adanya rekaman video yang diduga adegan pembunuhan mantan guru Aljabar SMP St. Pius X Lewoleba, Aloysius Laurensius Wadu itu tersebar di media massa. Menurut informasi itu, adegan pembunuhan terjadi di Rumah Jabatan Bupati Lembata.

Dia mengatakan, setelah memeriksa Surva Uran sebagai orang yang mengaku pernah menyaksikan rekaman juga memeriksa Irwan Paokuma yang disebut Surva sebagai orang yang menyimpan vedeo pembunuhan, polisi berkesimpulan informasi itu tidak terbukti.

“Jadi keterangan Surva tidak dapat dibuktikan, tetapi polisi berharap kalau ada bukti lain yang menguatkan keterangan Surva tolong diserahkan, karena memang video seperti yang diterangkan Surva tidak ada,” kata Yusuf.

Sementara itu, Romo Frans Amanue dalam konfrensi pers yang digelar FP2L, Selasa (23/6/2015) mendesak polisi untuk menghentikan penyidikan terhadap delik pemfitnaan sebagaimana yang diadukan dua pejabat pemeritahan Kabupaten Lembata dan mendalami terlebih dahulu informasi tentang rekaman pembunuhan, sebagaimana yang disampaikan Surva Uran.

Dia mengaku kesal dan tidak percaya dengan Penyidik Polres Lembata, karena tidak serius mendalami informasi pembunuhan tetapi kembali menjerat Surva dengan pasal pemfitnaan.

Dia mengatakan, pasal 310 dan 311 KUHP sebagaimana yang dikenakan kepada Surva Uran, Alex Murin dan Pastor Vande Raring mengisyaratkan, terhadap sebuah informasi semestinya dibuktikan terlebih dahulu di hadapan pengadilan sebelum informasi itu dikatakan sebagai tindakan pemfitanaan.

“Saya kira dalam kasus ini polisi ceroboh dan gegabah dalam pemeriksaan. Semestinya penyidikan itu diarahkan untuk mencari kebenaran, bukan untuk menciptakan kasus baru. Polisi juga punya banyak cara untuk menelusuri sebuah informasi, jadi tidak sekedar periksa Surva dan Irwan,” kata Amanue.

Karena tidak percaya dengan penyidik Polres Lembata, Amanue mendesak Kapolda NTT untuk segera mengirim tim penyidik guna menangani lanjutan proses hukum kasus Laurens Wadu, termasuk sebagai tim untuk memeriksa Pater Vande, Surva Uran dan Alex Murin. (Yogi Making)

Pelabuhan Larantuka Rusak Berat, Syahbandar Hanya Diam

Next Story »

Pastor Vande Raring Tolak Diperiksa Penyidik Reskrim Polres Lembata

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *