Pemkab Lembata Dukung Konservasi Perikanan Lokal

LEWOLEBA, FBC-Pemerintah Kabupaten Lembata memberikan dukungan penuh terhadap upaya konservasi perikanan lokal sebagaimana yang dilakukan di desa Lamatokan kecamatan Ile Ape Timur, desa Watodiri Kecamatan Ile Ape, desa Dikesare kecamatan Lebatukan dan di Kalikur kecamatan Omesuri. Cara masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian alam lautnya itu patut dicontoh oleh desa-desa lainnya.

Athanasius Aur Amuntoda, Kepala DKP Lembata di ruang kerjanya. (Foto : FBC/Yogi Making)

Athanasius Aur Amuntoda, Kepala DKP Lembata di ruang kerjanya. (Foto : FBC/Yogi Making)

Hal ini diutarakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lembata, Atanasius Aur Amuntoda, Senin (29/6/2015) saat dijumpai di ruang kerjanya.

Alam pesisir kampung Lewolein desa Dikesare yang jauh dari hinggar bingar penangkapan ikan dengan cara modern, ternyata memberi kenyamanan hidup untuk jenis ikan tertentu. Tidak hanya ikan Lamuru atau ikan tembang dalam nama lokalnya, namun menjadi habitat baru bagi ikan duyung. Menurut Kadis DKP, di Lewolein ikan duyung di ketahui hidup di kedalaman laut 4 sampai 5 meter.

Dia menuturkan, kehadiran ikan-ikan duyung itu sering menjadi tontonan warga, bahkan beberapa ekor sempat dijaring dan dibawa pulang dalam keadaan hidup, namun setelah didekati oleh pihak DKP Lembata, nelayan akhirnya bersedia melepas ikan langka itu.

Di tambahkannya lagi, Lewolein juga menjadi destinasi pariwisata. Alam lautnya yang kaya ikan itu merupakan pemikat utama dan menjadi tempat pagelaran lomba mancing tahunan yang diprakarsai oleh Pemkab Lembata.

Hal serupa terjadi juga di desa lainnya. Di desa Kalikur misalnya, pesisir pantainya di jaga ketat oleh warga setempat. Akfitas melaut hanya diperbolehkan bagi nelayan mancing. Warga mengharamkan penangkapan dengan bom ikan atau dengan cara lain yang dipandang tidak ramah lingkungan. Dan menariknya, warga yang menjaga adalah warga nelayan yang dulunya menangkap ikan dengan mengunakan bom.

Amuntoda menjelaskan, kepatuhan warga Kalikur untuk menjaga alam lautnya berbuah manis. Terumbuh karang yang dulunya rusak total akibat di bom kembali hidup dan menjadi rumah bagi beragam jenis ikan hias, belut, ikan kerapu, gurita juga jenis ikan dasar lainnya.

“Jadi memang pemerintah memberi dukungan penuh kepada desa-desa yang melakukan konservasi lokal seperti itu. Cara perlindungan alam pesisir laut yang diwariskan secara turun temurun sebagaimana yang di terapkan oleh empat desa tersebut, patut dicontoh oleh desa-desa lain,” katanya.

Amuntoda mengatakan, kampanye tentang penangkapan ikan dengan cara ramah lingkungan baru dikatakan berhasil kalau mendapat dukungan penuh dari warga setempat kata Amuntoda.

Sebagai gambaran, konservasi perikanan lokal di kabupaten Lembata dikenal dengan “Badu” dalam bahasa setempat bahasa lamaholot, atau “Puru larang, Poang Kemer” dalam bahasa Kedang. Dengan cara ini, nelayan dilarang menangkap ikan pada daerah sekitar kampungnya dalam waktu tertentu. Warga yang melanggar akan dikenakan sangsi adat, bahkan dipercaya bisa mengakibatkan kematian. Larangan seperti ini berlaku untuk umum. (Yogi Making)

SMA Demon Pagong Dapat Ijin Operasional

Next Story »

Surva Uran Terpaksa Tarik Keterangan, Pater Vande Diancam Polisi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *