Pastor Vande Raring Tolak Diperiksa Penyidik Reskrim Polres Lembata

LEWOLEBA, FBC-Pastor Vande Raring, SVD, Imam Katolik yang dipolisikan Pemerintah Kabupaten Lembata atas tuduhan pemfitnaan, karena menyebut Rumah Jabatan Bupati (RJB) Lembata diduga sebagai TKP pembunuhan Laurens Wadu menolak untuk bersaksi di hadapan penyidik Polres Lembata.

Pastor Vande menyampaikan sikapnya itu saat datang memenuhi panggilan polisi untuk bersaksi dalam kasus dugaan pemfitnaan yang dituduhkan kepada dirinya, juga kepada koordinator Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L), Alex Murin dan Surva Uran, Rabu (24/6/2015).

Pastor Vande Raring (Juibah putih) dan Alex Murin di ruang penyidikan. Tampak Alex Murin, sedang memberikan keterangan di hadapan penyidik. (foto FBC/Yogi Making)

Pastor Vande Raring (Juibah putih) dan Alex Murin di ruang penyidikan. Tampak Alex Murin, sedang memberikan keterangan di hadapan penyidik. (foto FBC/Yogi Making)

Seperti disaksikan, sekitar pukul 10.30 Vande datang ke Polres ditemani Romo Fransiskus Amanue, Pr dan belasan orang anggota FP2L. Pukul 12.00 wita, Pastor Vande yang mengenakan jubah putih itu terlihat keluar dari ruang penyidik. Selain Pastor Vande, polisi juga memanggil dan memeriksa Alex Murin dan Surva uran.

Sebagaimana diketahui, Imam Katolik yang getol dalam memperjuangkan HAM ini, dalam orasi di mimbar bebas yang digelar FP2L dalam rangka mengenang dua tahun kematian Laurens Wadu pada, Senin 8 Juni 2015, menyebut Rumah Jabatan Bupati diduga sebagai TKP pembunuhan Laurens Wadu.

Atas pernyataan itu, Pemkab Lembata melalui Kabag Hukum Petrus AW Edang Loba dan Kabag Umum Setda Kabupaten Lembata Mikhael Bala, Senin (9/5/2015) mengadukan Vande Raring, Alex Murin dan Surva Uran ke pihak Penyidik Polres Lembata dengan tuduhan pemfitnaan.

“Berdasarkan surat panggilan, hari ini saya diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut. Tetapi, di hadapan penyidik saya nyatakan saya menolak untuk bersaksi, dengan alasan saya tidak percaya dengan Reskrim Polres Lembata,” kata Vande yang dikonfirmasi usai menemui penyidik.

Selain itu menurut Vande, Mikhael Bala dan Petrus Edang Loba tidak berhak untuk mengadukan dirinya, apalagi dalam kapasitas mereka sebagai Pemerintah Daerah. Di tambahkannya lagi, menyebut Pemkab artinya melibatkan seluruh struktur pemerintahan di Kabupaten Lembata. Dirinya mau bersaksi kalau yang bertindak sebagai pelapor adalah Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam ini sebagai orang yang menempati RJB.

“Apakah dengan pernyataan saya itu Wakil Bupati, Sekda juga pejabat-pejabat lainnya ikut tersinggung? Saya kira tidak juga, karena itu menurut saya Kepala Bagian Umum Mikhael Bala dan Kabag Humas Petrus Edang Loba tidak punya wewenang untuk melapor saya, dan jangan bawa-bawa nama Pembab Lembata dalam kasus Laurens wadu, dan menurut saya, harusnya yang dirugikan adalah Bupati Lembata karena dia (Bupati) yang tempati RJB,” ujar Vande.

Lebih jauh terkait kasus Laurens Wadu, Vande mengatakan, Kasus Laurens Wadu penuh rekayasa dan manipulasi, dengan demikian kalaupun dilanjut mestinya penyidikan dimulai dari awal, terutama terkait motif dan pelaku juga TKP pembunuhan.

Sementara itu, Kapolres Lembata AKPB. Wresni H.S Nugroho melalui Kasubag Humas Polres Lembata, Yusuf Dharmawan saat menjawab wartawan terkait tanggapan polisi terhadap sikap Pastor Vande yang menolak diperiksa mengatakan, polisi punya kekuatan hukum untuk memanggil dan memeriksa seseorang.

“Hak dia (Vande) untuk tidak percaya dan dan tidak mau memberikan kesaksian, itu sah-sah saja. tetapi polisi punya kekuatan hukum untuk memanggil seseorang,” jawab Yusuf.

Menurutnya, Pastor Vande, Alex Murin juga Surva Uran dipanggil dalam kapasitas mereka sebagai saksi dalam kasus dugaan pemfitnaan yang diadukan Pemerintah Kabupaten Lembata. (Yogi Making)

Polisi Sebut Video Pembunuhan Laurens Wadu Tidak Terbukti

Next Story »

DKP Flotim Baru Miliki Alat Tes Formalin Tahun 2016

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *