Pastor Vande Raring, Korban Tunggal?

Oleh : Yoseph Bruno Dasion SVD

Seorang putera Lembata, atas nama Pastor Vande Raring SVD, telah melakukan sebuah pernyataan publik pada kesempatan aksi damai mengenang kematian Lorens Wadu, pada Senin 8 Juni 2015, dengan menyebutkan Rumah Jabatan Bupati Lembata adalah tempat di mana almarhum Lorens Wadu dibunuh. Hal ini menuai kritik dari sementara pihak yang merasa bahwa pernyataan publik Vande tidak beralasan karena kurangnya bukti-bukti legal.

Yoseph Bruno Dasion SVD, Imam-Misionaris. Bertugas di Jepang

Yoseph Bruno Dasion SVD, Imam-Misionaris. Bertugas di Jepang

Pernyataan berani Vande Raring tentu saja dapat kita terima sebagai yang mewakili perasaan hati banyak orang Lembata yang telah menanti selama dua tahun tetapi tidak memperoleh jawaban yang pasti dari pihak berwajib tentang perkembangan proses penyelesaian masalah pembunuhan yang dirasa semakin ditenggelamkan ke dalam kelam misteri.

Apa yang diutarakan oleh Vande dan kawan-kawannya seharusnya diterima sebagai ajakan bagi semua pihak untuk lebih tekun dalam mengolah berbagai informasi dan data secara profesional dan bertanggungjawab agar dapat menguak rekaman akhir penyebab kematian almarhum Lorens Wadu.

Dari sisi lain, kita juga dapat menerima tindakan pihak lain yang melaporkan Vande Raring SVD ke pihak kepolisian. Kehadiran pihak lain ini penting untuk mengingatkan Vande dan kawan-kawan untuk selalu komit pada misinya melayani kebenaran dan keadilan sejati.

Vande dan kawan-kawan tidak cukup hanya menjadi “orator” yang pintar dan berani berbicara. Tetapi juga harus bisa membantu menciptakan suasana kondisif agar proses menguak tabir misteri pembunuhan ini dapat berjalan lancar.

Oleh karena kematian Lorens Wadu adalah sebuah persoalan kemanusiaan, maka keberanian melakukan pernyataan publik oleh Vande dan kawan-kawan adalah hal yang patut didukung. Apalagi Vade Raring, yang adalah seorang imam katolik, sepantasnya terlibat penuh dalam penyelesaian masalah ini, dengan resiko dipenjara atau dibunuh sekalipun.

Hanya perlu diperhatikan agar sebagai seorang imam Vande Raring SVD harus tampil elegan dan berwibawa dalam membela kebenaran dan keadilan. Termasuk di dalam membuat pernyataan publik, yang diharapkan adalah Vande Raring SVD dan kawan-kawan harus memiliki data-data legal dan akurat, dan bukannya hanya berkutat pada “dugaan” atau “perkiraan” tentang adanya data dan informasi.

Kalau toh, sebagaimana yang diberitakan oleh media massa, bahwa ada pihak-pihak tertentu telah mengantongi data dan informasi, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk mendugakan seseorang sebagai pelaku atau sebuah tempat sebagai TKP. Karena di dalam sebuah proses hukum yang resmi, yang berhak untuk menyatakan validitas sebuah data atau informasi adalah pihak kepolisian (penyidik). Anggota masyarakat hanya bisa bekerjasama membantu pihak kepolisian dengan memberikan data dan informasi yang mereka miliki.

Melakukan sebuah pernyataan publik hanya dengan berdasarkan data dan informasi sendiri adalah sebuah kekonyolan karena tidak punya dasar hukum. Dan bahkan menjadi bumerang yang menciptakan kebingungan dan kekacauan di dalam masyarakat.

Seruan bagi Vande Raring SVD dan kawan-kawan, serahkan segera semua data dan informasi yang telah dikantongi kepada pihak kepolisihan dengan syarat kalian tetap diberi kesempatan untuk bekerjasama dan memantau setiap langkah hukum yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Rasa kesal atas proses hukum yang tidak memadai selama dua tahun adalah juga tanggungjawab kita semua. Bukan murni kelalaian pihak lain. Sikap bersikeras sementara orang untuk tidak bersedia menyerahkan berbagai data dan informasi kepada polisi dan mau menyimpannya dikantong sendiri adalah penghalang besar yang menjegal langkah proses hukum yang lebih baik.

Selama kita bersenang-senang dan tunjuk gaya di depan publik pada setiap kesempatan ber-orasi sebagai pemegang data dan informasi tanpa siap bekerjasama dengan pihak kepolisian, masa penantian dua tahun akan menjadi empat tahun, delapan tahun, atau selamanya.

Siapa yang harus kita salahkan?  Dan, apakah semua yang ikut berorasi siap masuk penjara dan tidak membiarkan Vande Raring SVD menjadi korban tunggal?

Demi Mendongkrak Pariwisata, Jangan Asal Memberi Nama

Next Story »

Imam yang Berpikir Global, Mengonsumsi Secara Lokal

One Comment

  1. June 22, 2015

    Sebuah refleksi seimbang. Kl ingin kisah ini dibongkar maka perlu ada data akurat. Kl blm kuat jangan terlalu gegaba diungkapkan sebab nantinya justeru tidak produktif. Misi pofetis krn itu perlu dikemas secara sangat bijak.

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *