Otda dan Pusat Inovasi Daerah

Oleh : Canisius Maran

Mengubah suatu kebiasaan memang tidak semudah membalik telapak tangan, meski lingkungan strategik sudah berubah. Seperti UU Otda dan Perimbangan Keuangan Pusat Daerah sudah direvisi sesuai jiwa reformasi. Namun hasil yang dicapai bagi masyarakat sesuai tujuan otda belum maksimal. Padahal, dalam perspektif desentralisasi dan otonomi daerah, kata kuncinya adalah kepercayaan. Namun terkadang, pusat (kementerian) masih men-drive (mengendalikan) daerah melalui proyek-proyek “titipan pusat” yang dilaksanakan oknum daerah.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Jika di masa pemerintahan yang sentralistik, bentuk pemerintahan dilihat seperti piramida. Di zaman otda dan reformasi, kita memang tidak membalik piramida itu tetapi menciptakan ratusan piramida baru dalam bentuk kabupaten dan kota, dimana pilkada adalah bumbu penyedapnya.

Dalam perkembangan otda, fakta menunjukkan tidak semua daerah bisa menjamin kesejahteraan bagi masyarakatnya. Ada daerah gersang dengan jumlah penduduk banyak, ada daerah subur dengan jumlah penduduk sedikit. Ada wilayah subur tapi sulit terjangkau transportasi, dan ada daerah tidak subur dan penduduknya banyak namun bertebaran penyakit sosial KKN. Sementara masih ada ketimpangan antara Indonesia Bagian Timur dan Indonesia Bagian Barat.

Dalam kondisi seperti ini, yang paling diperlukan adalah daya kreasi kepala daerah menciptakan terobosan baru. Antara lain seperti yang dilakukan pemda Sikka membentuk sebuah embrio “pusat inovasi” yang diberi nama Sikka Innovation Center (Floresbangkit.com). Suatu terobosan penting dalam era otda, yang selalu didambakan masyarakat untuk mengubah nasib hidupnya.

Pendirian Sikka Innovation Center (SIC) memang sudah pernah kita dengar. Dikatakan embrio karena belum pernah ada kepala daerah di Flores, bahkan daerah lain, memikirkan hal semacam ini. Di tingkat nasional pun, pusat inovasi, atau pusat kreativitas, masih jadi bahan perbincangan karena kesulitan struktural dalam melanjutkan karya inovasi anak bangsa. Padahal, secara nasional, kita memiliki Bussines Innovation Center, Inkubator Teknologi di Cibinong Science Center yang dibangun LIPI, juga Komite Inovasi Nasional.

Namun, gagasan pemerintah daerah Sikka membangun Sikka Innovation Center perlu diapresiasi terutama dalam era otonomi. Juga pengalaman ketika krisis multidimensi menerpa bangsa ini, banyak tenaga kerja termasuk tenaga kerja ahli kehilangan pekerjaan.

Pada sisi lain, harus diakui, masih ada budaya kita yang kurang menghargai teknologi dan inovasi teknologi. Para pengambil keputusan di daerah pun relatif masih belum memiliki visi memadai dalam bidang teknologi bahkan belum menilai teknologi sebagai unsur penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Sementara masih kental budaya melanggengkan “harmoni” menyebabkan lemahnya semangat inovasi yang merupakan motor dinamika perubahan.

Seperi ditulis Floresbangkit.com, dalam rangka persiapan, pemerintah daerah Sikka telah melibatkan lembaga pendidikan Cristo Rei dari Keuskupan Maumere, LIPI, ATMI (Akademi Teknik Mesin) Solo, juga dukungan dari DPRD Sikka, Muspida, birokrat, Bappenas dan Kementerian Koordinator Perekonomian.

Persoalannya adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk mendapatkan berbagai ijin antara lain, izin usaha penyediaan tenaga listrik, izin Amdal, dan izin hak atas tanah. Dan seberapa jauh kesiapan SDM Sikka menyiasati hadirnya teknologi canggih?

Kita tentu berharap, niatan pemerintah daerah Sikka, seperti dikemukakan Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera, kiranya SIC bisa sejalan dengan sektor unggulan seperti pertanian, perkebunan dan perikanan. Apalagi, Sikka mendapat jatah pembangunan Techno-Park. Sesuatu yang menjadi impian tiap daerah untuk mengangkat martabat daerahnya melalui kerja sama dengan pihak asing, yang tentunya ada proses alih teknologi untuk meningkatkan kapabilitas SDM daerah. Sebagai contoh, keinginan pemerintah Perancis membangun Marine Techno-Park di Kabupaten Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur, bisa dijadikan perbandingannya.

Dengan kata lain, modal sumber daya alam non tambang, sudah tersedia di alam Sikka, tinggal bagaimana menyiapkan SDM berbasis iptek berikut technopreneurship yang merupakan unsur paling utama keberhasilan SIC. Mengapa?

Tak dapat disangkal, bahwa inovasi adalah kunci pertumbuhan ekonomi dan penentu arah perkembangan teknologi. Hampir setiap daerah mempunyai potensi beragam. Mulai dari kekayaan alam, letaknya yang strategis secara ekonomi, potensi pariwisatanya. Karena itu, perlu cara yang tepat menerapkan iptek untuk mengelola berbagai potensi tersebut.

Pada sisi yang lain, pengalaman telah memberi contoh, eksploitasi sumber daya alam di sektor tambang, ternyata tidak mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat, karena hasilnya diambil kelompok tertentu melalui pemerintah pusat. Suatu kebijakan pembangunan yang berakibat hilangnya hak masyarakat atas potensi alam miliknya. Sementara kemiskinan yang terjadi di daerah bukan karena kemalasan atau kebodohan melainkan juga akibat dari pembangunan yang tidak berpihak pada daya dukung lingkungan dan kebutuhan masyarakat daerah.

Karena itu, adalah tugas pemerintah daerah memberi ruang kepada masyarakat untuk mengolah dan memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal. Untuk keperluan itu, diperlukan kualitas SDM yang handal terutama dalam penguasaan iptek. Rendahnya kualitas SDM dan kurangnya SDM berbasis iptek serta tidak tersebar secara merata merupakan kendala.

Menurut Dr. Ir. G. M. Tampubolon, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) dalam bukunya Mobilisasi Kemampuan Teknologi, Report to The Country (Center for Technology and Industry Development, 2000), penguasaan iptek bukanlah satu-satunya kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Perlu disadari, tidak semua proses teknologi berikut implementasinya berkontribusi bagi kesejahteraan manusia. Akan tetapi teknologi sebagai satu proses, memberi daya kreasi dan inovasi, menjadi cermin kemampuan SDM dalam mengelola potensi yang dimiliki. Diperlukan kedewasaan berpikir dan berdialektika dengan potensi SDM dan sumber daya alam dalam menentukan penerapan iptek sebagai prioritas kebijakan.

Pada dataran yang sama, menempatkan iptek sebagai bagian dari budaya masyarakat pun tidaklah mudah. Banyak faktor saling mempengaruhi satu sama lain, misalnya karakteristik geografis dan penduduk, taraf hidup dan kegiatan perekonomian, tingkat pendidikan dan kehidupan sosial budaya, juga kebijakan pemerintah daerah dalam hal pengembangan iptek.

Kita berharap, pembangunan SIC dapat dikawal masyarakat karena merekalah pilar pendukung utama rencana pemerintah. Mengedepankan masyarakat daerah, melalui pelibatan tenaga profesionalnya dalam program ini, tidak lain adalah penerapan otonomi daerah secara penuh.

Lagipula, dalam era otda, kontrol masyarakat terhadap kebijakan dan proses pembangunan akan efektif karena merekalah yang merasakan langsung dampak pembangunan. Dengan terjadinya perubahan iklim politik di Indonesia saat ini, yang diharapkan masyarakat adalah semakin baiknya kehidupan ekonomi mereka. Hidup keseharian yang selama ini terabaikan kondisi ekonominya diharapkan mulai bangkit dengan harapan baru akan masa depan lebih baik.

Seperti pula harapan masyarakat di daerah pada umumnya, agar mereka dapat segera keluar dari kemelut kemiskinan. Karena bukan lagi rahasia umum bahwa setiap tahun, selalu saja ada berita gagal panen yang berujung pada rawan pangan, kelaparan dan penyakit. Hadirnya SIC diharapkan dapat memberi jalan keluar sekaligus wadah pengembangan kreativitas SDM untuk menghasilkan produk yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga menempatkan Sikka sebagai pusat keunggulan produk di bidang pertanian, perikanan dan perkebunan.

Apalagi menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) atau AEC (ASEAN Economic Community) yang akan dimulai pada 31 Desember 2015. Suatu kesepakatan antar sepuluh negara anggota ASEAN, di bidang ekonomi dalam upaya peningkatan perekonomian kawasan dan taraf hidup masyarakat serta mengurangi kemiskinan.

Karena itu, meski masih dalam gagasan, SIC diharap dapat menjadi prime mover (penggerak utama) pola pikir kebijakan daerah di sektor unggulan, sebagai fasilitas proses pembelajaran secara terorgansasi dan merupakan lokus penghasil inovasi dan pengetahuan.

Dengan kata lain pula, SIC dapat menjadi tempat untuk menghasilkan dan menyimpan berbagai pengetahuan dan jika digabungkan dengan cara-cara yang berbeda (trans-disiplin) dalam bentuk kolaborasi, maka jadilah apa yang disebut inovasi. Berikut dukungan infrastruktur memadai bagi SIC, kita berharap akan tercipta wirausaha berbasis teknologi dalam proses yang tersiklus (reengineering) agar dapat menciptakan pertumbuhan dan pemerataan berkelanjutan.

Sejalan pula dengan tuntutan kompetisi di abad 21 untuk menghasilkan produk sesuai pasar global, maka gagasan ini perlu dipertimbangkan secara matang, karena tidak ada jalan pintas kecuali investasi SDM. SDM berwawasan iptek akan terus berinovasi, memberi input teknologi terhadap produk yang dihasilkan agar tetap selalu mampu bersaing di pasar global.

Untuk itu, diperlukan langkah nyata dari Bupati Sikka setelah mendapat persetujuan rakyat Sikka melalui wakilnya di DPRD berupa sebuah keputusan politik yang dituangkan dalam Peraturan Daerah. Bahwa SIC yang akan dihadirkan, bukan hanya bermanfaat bagi masyarakat tetapi juga kemandirian daerah. Ketegasan sikap politik Bupati Ansar Rera menjadi hal yang sangat penting karena merupakan substansi strategis bagi keberlangsungan SIC sebagai penggerak utama dalam memajukan sektor-sektor unggulan yang diharapkan para stakeholders.

Jangan sampai masyarakat hanya jadi penonton, ketika hasil dari semua yang dikembangkan itu dibawa keluar seperti yang terjadi di sektor tambang. Sebuah tantangan bagi Sikka Innovation Center bersama pemerintah daerah Sikka untuk memberi yang terbaik bagi rakyat Sikka, sekaligus ukuran keberhasilan sebuah pusat inovasi daerah. Semoga!!!

Pers yang Mencerahkan

Next Story »

Jelang Pilkada Mabar, Pemimpin Antara Ada dan Tiada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *