NTT Peringkat Tiga Balita Gizi Buruk

KUPANG. FBC - Salah satu tantangan pelayanan kesehatan di NTT adalah masih tingginya persentase balita gizi buruk yang masih menempatkan NTT pada nomor urut tiga tertinggi di Indonesia. Karena itu, upaya kesehatan yang bersifat kuratif menjadi prioritas dalam alokasi anggaran pemerintah.

Sekretaris Fraksi Partai Demokrat, Leonardus Lelo menyampaikan hal ini  kepada wartawan di Kupang, Kamis (18/6/2015). Dia menyebutkan, tantangan lain yang dihadapi dalam pelayanan kesehatan adalah masih tingginya angka kematian ibu, bayi, dan balita. Masih kurangnya tenaga kesehatan yakni bidang dan perawat. Bahkan untuk tenaga dokter umum dan dokter ahli, rationya tiga berbanding 100. 000 penduduk. Selain itu, sulitnya akses pada sarana kesehatan dan masih rendahnya mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

“Pelayanan kesehatan dari pemerintah yang berkenaan dengan cara hidup sehat berupa kegiatan- kegiatan yang bersifat promotif dan preventif belum menjadi kebijaksanaan prioritas,” kata Leonardus.

Menurut wakil rakyat asal daerah pemilihan Sikka, Ende, Nagekeo dan Ngada ini, kelengkapan dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat seperti puskesmas dan pustu harus dilengkapi, karena belum memadai dan masih jauh dari harapan. Akibatnya, masih banyak ibu ibu hamil di perdesaan yang tergantung pada dukun beranak untuk membantu kelahiran bayi dengan risiko kematian yang tinggi.

Lebih lanjut dia mengaku sangat menyayangkan bahwa sampai dengan saat ini masih saja kekurangan dalam hal penyediaan perlengkapan dan peralatan, tenaga dokter, dan tenaga paramedis. Akibatnya, puskesmas dan pustu di perdesaan tidak hanya menjalankan fungsi yang berkenaan dengan tindakan promotif dan preventif, tapi juga difungsikan untuk melakukan kegiatan pengobatan atau kuratif.

Ia menambahkan, mengingat pelayanan kesehatan masih memprihatinkan maka budaya dan paradigma sehat harus jadi primadona NTT. Sehingga intervensi kebijakan program, keuangan dan kelembagaan pemerintah harus lebih banyak pada aspek promosi dan preventif daripada kuratif. Secara khusus perlu diberikan untuk memperkuat puskesmas dan pustu karena mengemban misi promotif dan preventif serta peningkatan jumlah bidan dan tenaga kesehata yang dibiayai APBD.

Ilustrasi balita penderita gizi buruk

Ilustrasi balita penderita gizi buruk

Gubernur Frans Lebu Raya ditemui terpisah menyampaikan, persoalan gizi buruk yang dialami seorang bayi lebih banyak setelah sang bayi kembali ke rumah dari pusat pelayanan kesehatan. Karena selama menjalani perawatan di tempat pelayanan kesehatan, asupan gizi untuk bayi dimaksud sangat diperhatikan.

Kenyataan ini berbanding terbalik ketika mereka harus kembali ke rumah pasca perawatan. Untuk itu, asupan gizi di masing- masing rumah tangga harus diperhatikan secara serius agar persoalan gizi buruk bisa ditekan

Dia mengakui, pemerintah terus berjuang dengan berbagai stake holder di daerah ini untuk terus memperbaiki derajat kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya adalah meperhatikan dan memperbaiki masalah gizi buruk yang diderita anak-anak balita di daerah ini. (Oni)

Masyarakat Lewobunga Adonara Mengadu ke Kapolda NTT

Next Story »

Jangan Paksakan Pembangunan Hotel di Pantai Pede

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *