Anselmus Wayong Langkamau

Menyulap Sawah Jadi Kebun Kakao

Kakao asal Indonesia menjadi salah satu primadona industri coklat di dunia. Sehingga banyak daerah di Nusantara berlomba mengembangkan komoditas ekspor ini. Namun menyulap areal sawah menjadi kebun kakao merupakan hal baru dan jarang ditemukan di beberapa daerah sentra kakao. Bagaimana Anselmus Wayong Langkamau melakukannya?

MENJADI seorang petani sudah menjadi cita-cita Anselmus Wayong Langkamau. Semenjak tamat Sekolah Teknik (ST) di Larantuka tahun 1971, Selmus -sapaan akrabnya- hendak melanjutkan pendidikan pertukangan di Ambag School milik Misi ( Katolik ) di Larantuka.

Perkakas pertukangan yang mahal dan lama pendidikan yang empat tahun, membuat Selmus mengurungkan niat menjadi tukang. Selmus akhirnya memantapkan niat untuk kembali ke tanah kelahirannya di Konga dan bergelut dengan lumpur sawah.

“Saat itu banyak teman yang mengajak merantau, tapi saya berpikir lebih baik saya membangun desa saja daripada membangun kampung halaman orang. Apalagi saya masih muda. Akhirnya saya terjun jadi petani, “ujar Selmus mengawali obrolan di pondok sederhananya di tengah kebun kakao.

Anselmus Langkamau diantara pohon Kakao yang ditanam di bekas areal sawah . ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Anselmus Langkamau diantara pohon Kakao yang ditanam di bekas areal sawah . ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Tahun 1975 ada sosialisasi dari kantor Dinas Peternakan Flores Timur untuk penerimaaan bantuan sapi. Selmus pun menawarkan diri dan mendapat bantuan lima ekor sapi. Modal awal ini dikembangkannya hingga menjadi 10 ekor sapi sampai tahun 1980 ada pengucuran bantuan lagi dan dirinya kembali mendapat lima ekor sapi lagi.

“ Kalau saya pelihara hanya beberapa ekor kan rugi karena tiap pagi dan sore harus cari rumput untuk makanan sapi. Saya terima lagi lima ekor sehingga sekali ambil makanan banyak dan saya sudah berpikir bahwa setiap tahun harus jual beberapa ekor, “ kata suami dari Fransiska Jepa Fernandez ini.

Sambil beternak sapi Selmus pun tetap melakoni pekerjaan sebagai petani sawah. Hasil dari menjual sapi dipergunakan untuk membeli areal sawah dan kebun, seluas satu hektar lebih. Rasa capek dalam mengolah sawah dirasakan Selmus sehingga saat ada tawaran teman di tahun 1982 untuk membeli kerbau di Magepanda, Kabupaten Sikka, dirinya tidak menyia – nyiakan kesempatan ini.

Saat tiba di Magepanda, lelaki kelahiran 21 April 1952 ini merasa sedih, kesal dan sakit hati ketika melihat kerbau membajak sawah dengan hanya dikomando saja. Ternyata selama 10 tahun, sebut Selmus, tenaga sudah terbuang percuma untuk bajak sawah. Selmus langsung membeli dua ekor kerbau seharga Rp 1,6 juta sehingga menjadikan dirinya petani pertama di Konga bahkan Flores Timur, yang mempergunakan kerbau dalam membajak sawah. Tahun 90-an traktor sudah mulai tersedia dan Selmus pun terpaksa menjual lima ekor kerbaunya guna membeli traktor.

“Saya sedih saat menjual kerbau tapi situasinya serba sulit. Kalau tidak jual kerbau saya harus cari makanan dan yang paling menyakitkan kerbau saya sering talinya diputusi orang saat malam. Saya sering dimarahi petani lain yang sawahnya rusak akibat diterjang kerbau. Saya hanya mengalah saja, tetap sabar meski dimarahi dan mengganti biaya kerugian, “ kenang ayah lima orang anak ini dengan raut wajah sedih.

Sempat Terpuruk

Tahun 1982 harga vanili meningkat, sehingga Selmus pun tergiur menanamnya. Satu lahan sawah seluas seperempat hektar diubah jadi kebun vanili selepas keliling Flores membeli bibit vanili. Waktu hendak panen, harga vanili anjlok. Selmus menanggung kerugian Rp 10 juta. Lelaki berumur 63 tahun ini sempat putus asa tapi untung ada saudara yang menasihatinya agar lahan yang ada diubah jadi kebun kakao saja.

“Kau tidak usaha, putus asa lebih baik tanam kakao saja. Saya sudah siap anakan kelapa tapi saudara bilang lebih baik pakai tanaman pelindungnya mahoni. Sekarang mahoni sudah ratusan pohon, “ bebernya.

Lahan sawah pun diubah. Setiap dua pohon kakao dibuat satu saluran air. Seminggu sekali air dialirkan ke kebun kakao miliknya. Bila tetap tanam padi Selmus merasa kesulitan karena ketika musim kemarau sawah tidak bisa diolah akibat peresapannya tinggi. Tanahnya pun berpasir. Daripada selalu mete ( begadang ) jaga pintu air, dan ribut dengan petani lain rebutan air untuk dialiri ke sawah, lebih baik areal sawah diubah.

Anselmus Wayong Langkamau sedang mengupas kakao di kebun miliknya. ( Foto ; FBC : Ebed de rosary )

Anselmus Wayong Langkamau sedang mengupas kakao di kebun miliknya. ( Foto ; FBC : Ebed de rosary )

“ Setiap dua baris pohon dibuatkan aliran air. Ini model baru, apalagi di sini air irigasi terbuang percuma. Saya izin ke teman – teman saya seminggu sekali satu hari saya pakai air untuk aliri ke sawah saya, apalagi sawah saya berada paling belakang jadi sering tidak dapat air “ tuturnya.

Pertama menanam kakao di tahun 2005, Selmus menanam sebanyak 500 pohon dan setiap tahun rutin ditanam dengan jumlah sama sampai empat tahun. Tahun 2014 ada proyek percetakan kebun baru dari pemerintah dan dirinya pun ikut mendaftar sehingga tahun 2015 menanam kakao kembali dijadikan rutinitas olehnya. Kebun jambu mente seluas satu hektar setelah tahun kelima panen hasil sudah mulai menurun sehingga Selmus mengubahnya dengan menanam jati dan mahoni memakai sistem petak dan irigasi seperti kakao.

Lebih Sehat

Dari kebun mente saja, sekali setahun Selmus mendapat uang sebanyak belasan juta rupiah sementara dari kakao sebulan bisa dapat hingga Rp 5 juta. Memasuki puncak panen bulan April sampai Juni bisa dua kali lipat pemasukan yang didapatnya. Uang sebanyak ini belum termasuk pohon mahoni dan jati yang juga sudah siap dijual.

Sapi miliknya pun hanya tersisa tujuh ekor saja di mana dari sekitar 30 ekor semuanya dijual untuk membiayai kuliah anak dan keponakan serta dipakai juga membangun rumah dan membeli lahan sawah. Sawah seluas satu hektar miliknya pun hanya ditanam padi dua kali setahun dimana sekali panen bisa menghasilkan enam ton gabah kering. Dirinya tidak bisa memaksa empat kali tanam sebab prinsipnya tanah juga perlu istirahat .

Saat ditanyai FBC alasan menjadi petani, Selmus katakan karena situasi di desa waktu itu memberi peluang untuk jadi petani. Bagi Selmus, bila tekun, ulet dan kerja keras bisa meraih sukses yang penting bisa atur waktu kerja dan istirahat agar tubuh tetap sehat. Saat bertemu dengan teman – teman seangkatan di kota Larantuka, paparnya, sang teman memuji dirinya yang terlihat lebih sehat dan awet muda.

“ Saya katakan saya petani jadi saya konsumsi hasil kerja saya sendiri. Saya selalu menghindari memakai pestisida berlebihan dan lebih memilih memakai pupuk organik. Kata orang bila kita banyak menanam pohon kita bersahabat dengan alam sehingga kita juga dilindungi oleh alam,“ pungkasnya. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Bekas Napi yang Berderma Lewat Karya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *