Mencumbu Pasir Putih Pulau Meko

Pantai dengan pasir putih di Pulau Meko termasuk 10 pulau berpasir putih terbaik di Indonesia. Meski demikian, Pulau Meko lebih akrab di telinga wisatawan mancanegara daripada pelancong domestik. Mengapa?

PAGI itu baru menjelang terang tanah. Mentari masih tertidur saat 28 anak muda penikmat wisata lokal yang terdiri dari berbagai profesi bersiap di Pelabuhan Larantuka. Meski rasa kantuk masih menyerang, dengan ransel di bahu satu persatu mulai mendatangi titik start perjalanan (trip) menuju pulau berpasir putih, Meko. Akhir pekan itu merupakan jadwal Fam Trip One Day Around Adonara Island.

Pulau pasir putih Meko dan beberapa gugusan pulau kecil di sekitarnya masuk dalam wilayah Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur. Kalau menggunakan kapal motor, rute yang dituju ada dua pilihan yakni dari dermaga Larantuka melintasi arus Gonsalu berputar ke Adonara Barat menyisir Desa Wure, Waiwadan, dan pesisir utara hingga ujung timur Pulau Adonara wilayah Sagu dan berbelok ke Barat.

Dari Utara, kapal melintasi Tanjo Gemo (Tanjung Gemuk) berbelok ke Timur menyisiri pesisir Selatan hingga ke Waiwerang, Adonara Timur, membelah arus Watawoko melewati wilayah Witihama hingga bersua Meko. Perjalanan darat relatif lebih lama sebab medan jalannya berbatu dan berlubang di sana-sini selepas Witihama.

Pulau Ipet dan Kelelawar di bagian barat pulau pasir putih Meko. ( Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Pulau Ipet dan Kelelawar di bagian barat pulau pasir putih Meko. ( Foto: FBC/Ebed de Rosary )

Ada dua pilihan bila ingin membawa sepeda motor. Pertama dari dermaga Larantuka menyeberang ke Pelabuhan Tobilota dan berpacu dengan motor hingga Waiwerang, Witihama terus ke arah Timur hingga Desa Pledo di Dusun Meko 3. Bisa juga turun di dermaga Waiwerang dan mengendarai sepeda motor ke Witihama hingga ke Dusun Meko 3.

Untuk perjalanan darat, wisatawan terpaksa harus menginap di Waiwerang yang ada penginapan. Sementara di Witihama maupun di Desa Pledo tak ada penginapan dan harus mengandalkan rumah penduduk yang bisa ditempati semalam. Disarankan bila bertolak dari Waiwerang atau Witihama waktu start dimulai saat subuh sekitar pukul 04.00 wita agar bisa menikmati matahari terbit dan seluruh pasir putih Pulau Meko.

Selepas mengarungi ganasnya arus Watawoko, tepat pukul 09.15 wita kapal memasuki perairan sekitar Pulau Meko. Semakin besar karena angin mulai bertiup kencang dan kapal mulai mendekati ujung timur Pulau Adonara. Sejauh mata memandang hanya lautan lepas yang tampak.

Rombongan peserta Fam Trip saat menginjakan kaki di Pulau Meko meski air laut sudah beranjak pasang dan menutupi sebagian pulau. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Rombongan peserta Fam Trip saat menginjakan kaki di Pulau Meko meski air laut sudah beranjak pasang dan menutupi sebagian pulau. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

“Meski ombaknya tinggi namun jarak antar gelombang jauh sehingga tidak terlalu berbahaya. Daerah ini kemungkinan merupakan pulau karang atau atol sehingga gulungan ombak terlihat memanjang, “ ucap Faustinus Kolin sang nahkoda kapal.

Kapal berlayar ke arah Timur melewati pulau (Nuha) Watan Peni dan menyisir masuk ke Barat hingga mendekati pulau pasir putih Meko. Kecepatan kapal diperlambat mencari tempat untuk membuang sauh. Saat saya tanya kenapa tidak langsung memotong masuk melewati sisi Utara melewati Pulau Gambus dan harus memutar jauh, Faustinus sang nahkoda mengatakan, dirinya harus mengambil jalur jalan memutar untuk menghindari karang dan gugusan atol guna mencegah kapal karam.

Memotret Lumba – Lumba

Jauh ke arah timur terlihat celah kecil menyempit. Semakin ke ujung, jarak antara pulau Flores dan Pulau Adonara bagai menyatu. Tempat yang sering terkenal dengan sebutan Selat Gonsalu ini kerap ditakuti kapal motor yang melintas akibat derasnya arus yang bukan saja mengalir tapi berputar membentuk pusaran. Terkadang kapal dibuat berguncang bahkan sedikit berputar akibat terseret arus.

Gunung Ile Mandiri terlihat samar dari kejauhan. Momen indah ini jadi rebutan anggota bak sesi pemotretan baru dibuka. Emphi Lamanepa, Simon Nani, Hexsa Saputra dan anggota rombongan lainnya asyik bermain dengan kamera mencari angle dan obyek yang menantang dan menarik.

Kapal pun berbelok melintasi tenangnya laut selepas Tanjo Gemo (Tanjung Gemuk) menuju ujung Timur Pulau Adonara. Dari kejauhan matahari terbit mulai samar terlihat. Arah Utara kapal terlihat beberapa pelampung dan bola-bola apung berbaris lurus dan melingkar. Itu tempat memelihara mutiara, terang Jody Felik, saat ditanyai beberapa peserta.

Selang beberapa menit selepas kapal melewati budidaya mutiara, dari depan buritan sebelah utara dua ekor lumba-lumba berukuran besar berwarna kehitaman melompat hanya beberapa meter dari kapal. Momen ini tak disia-siakan. Kamera pun dirahkan ke lumba-lumba. Saat sang ikan yang kerap dijuluki “ penolong “ ini melompat ke permukaan laut peserta berteriak kegirangan. “Lumba-lumba kerap terlihat di perairan sekitar sini bahkan sering mereka bergerombol berenang mengapit kapal,”tutur Felik penuh semangat.

Pulau Gambus dan pulau Umar yangberada di sebelah barat pulau pasir putih Meko. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Pulau Gambus dan pulau Umar yangberada di sebelah barat pulau pasir putih Meko. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Tak butuh waktu lama, usai menaiki perahu Ketinting, semua peserta menjejakan kaki di pulau impian, Meko. Semua berhamburan mencari posisi buat bergaya saat dijepret kamera. Pasir putih Meko saat dipijak hanya menyisakan sekitar 100 meter saja sebab air laut sudah mulai pasang. Beberapa bagian sudah tertutup air asin dan namun pasir putihnya masih nampak terlihat jelas.Tak ada sebatang pohon pun tumbuh di sini.

Air laut baru beranjak naik beberapa meter saja sebab dasar pasir putih masih terlihat jelas. Arus laut sekitar pulau pasir putih juga relatif kencang meski aman untuk berenang, snorkling maupun diving. Hanya ada ikan-ikan kecil di sekitar rumpun rumput yang tumbuh di laut.

Keindahan Pulau Meko terkenal hingga mancanegara. Beberapa turis asing dengan kapal pesiar pribadi sering merapat ke sini bahkan bermalam di pulau ini dengan mendirikan tenda. Bulan Juli dan Agustus menjadi waktu teramai pulau ini dikunjungi wisatawan asing. (*)

Penulis : Ebed de Rosary

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Berziarah Dahulu, Berwisata Kemudian

Next Story »

Lingko Ratung, Ekowisata Manggarai yang Tersembunyi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *