Ritus Wuat Wa’i

Memohon Berkah Keberhasilan di Perantauan

Torok Sedang memberikan Hang Helang sesajen buat arwah leluhur. Foto Alex Taut

Torok Sedang memberikan Hang Helang sesajen buat arwah leluhur. Foto Alex Taut

Agar keberhasilan bisa direngkuh, perantau butuh restu dari leluhur. Dia bisa berharap perlindungan selama di perantauan dan kelak pulang sebagai orang sukses.

Tepat di pertengahan tahun biasanya banyak keluarga di Manggarai mengadakan ritual Wuat Wa’i. Mereka berharap para leluhur memberi bekal bagi anggota keluarga yang hendak berangkat merantau meninggalkan kampung halaman.
Usai tahun ajaran, para pelajar yang menamatkan pendidikannya banyak yang berniat melanjutkan di studinya di sekolah dan kampus pilihan di daerah lain. Saat itulah banyak warga yang menyelenggarakan ritual ini. Mereka berharap anak-anak mereka akan berhasil menimba ilmu di perantauan.

Sesungguhnya ritual itu mula-mula dilakukan orang warga Manggarai bukan untuk para pelajar. Dahulu warga Kampung Tenda banyak yang perlu mencari penghidupan di daerah lain. Keluarga mereka selalu mengharap para perantau bisa berhasil mendapat penghidupan yang baik. Untuk itu mereka perlu memohon Wuat artinya bekal dari leluhur, sedang wa’i sendiri berarti kaki.

Dari tahun ke tahun sejak tahun 1960an ritus ini bukan lagi berlaku bagi para perantau tetapi bagi generasi penerus hendak melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi

‘’Sekarang Ritus Wuat Wa’i di Tenda lebih banyak dilaksanakan bagi anak kita yang hendak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi’’kata Alex Taut, tokoh adat masyarakat KampungTenda kepada FBC. Menurut dia, kecenderungan keluarga pelajar perantau mengadakan ritual itu mulai ada pada dekade 1960-an.

Ayam Jantan
Selain berkah dari leluhur, dalam ritus ini keluarga pemohon memberikan dana bagi anak yang akan melanjutkan sekolahnya. “Sumbangan dari ase kae dijadikan dana pendukung pada kehidupan awal ketika anak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau perantau, “urai Alex

Karena tahun ajaran baru sekolah-sekolah mulai di sekitar bulan Juli maka ritual ini pun banyak berlangsung mulai bulan Juni hingga Agustus di Kampung Tenda. Secara bersamaan warga memandang bulan-bulan itu cuaca cerah panen kopi sedang berlangsung. Sebagian hasilnya dapat disumbangkan kepada keluarga yang menyelenggarakan ritual

Saat FBC berkesempatan menyaksikan ritual Wuat Wa’i pada Minggu (14/5) di Kampung Tenda, keluarga pemohon menyiapkan seekor ayam jantan berbulu putih sebagai lambag kesucian dalam meminta berkah.

‘’Lalong bakok du lakom lalong rombeng koe du kolem” yang berarti bekal awal sebelum kita pergi sekolah atau pergi merantau adalah ayam jantan putih maknanya perantau/pelajar sudah dibekali dengan niat hati yang putih bersih.
Dengan niat suci keluarga berharap sang anak bakal kembali lagi kelak sebagai Lalong Rombeng (ayam jago) melambangkan orang sukses atau orang yang berguna bagi kehidupan masyarakat.

Dalam ritual ini, mula-mula seorang seorang Torok (juru bicara dalam ritus ini) menyapa arwah nenek moyang dengan menyuguhkan mereka sirih pinang. Kemudian mereka dilayani dengan moke atau sopi sebagai sapaan awal memanggil arwah leluhur sesuai tata nilai adat.

Sang Tarok pun lalu mempertunjukkan ayam jantan putih kepada arawah nenek moyang dan kemudian dibunuh persis di tengah para ase kae (keluarga ) yang hadir. Darah ayam dioleskan pada jari jempol kaki bagi pelajar/perantau. Darah tersebut adalah tanda proses pendidikanya akan terus dilindungi arwah leluhur atau perantau memperoleh nasib baik di tanah orang.

Torok kemudian Rahi meminta restu keluarga dan merekapun menyatakan restu dalam rupa memberikan seng kukut wuwung agu ndeng wai dana bekal dalam perjalanan dan awal kehidupan di tanah rantau.

Ayam kemudian dibakar dan diperlihatkan urat hatinya sebagai tradisi seorang Torok melihat nasib kelak dari pelajar/perantau. Paha dan hati ayam dibakar untuk dijadikan hang helang makanan sesajen bagi arwah leluhur.

“ Biasanya daging paha dan hati ayam yang sudah dibakar dipotong hingga kecil dan dicampurkan dengan nasi baru dalam keadaan panas atau matang,” tutur Alex.

Sesajen disuguhkan menggunakan mangkok lalu pelajar/perantau tadi mengambil satu atau dua sendok sesajen tersebut untuk dimakan. Makanan itu akan menyatukan dirinya agar dapat perlindungan arwah leluhur ketika melanjutkan pendidikan atau bekerja di tanah rantau.

Pengumpulan Dana
Ritual tak selesai malam itu. Keesokan harinya, beberapa keluarga mengadakan acara pengumpulan dana ase kae pang olo ngaung musi keluarga besar ataupun kenalan dalam satu kampung ,proses lanjutan ini tergantung kesepakan KK sendiri bersama ase kae.

Pada proses lanjutan Wuat Wai, para undangan dikepok atau disapa oleh Torok dengan menggunakan satu botol bir atau moke meminta dukungan dana.

Dulang sebuah nampan kemudian disodorkan kepada para undangan untuk meletakan uang sumbangan diatas dulang dilayani oleh anggota keluarga yang sudah dipercayakan.

“Dulangpun berjalan disetiap tempat duduk para undangan’’ada yang menyumbang Rp 50.000 hingga 200.000 per undangan, “ ujar Alex lagi.

Bentuk sumbangan lain dari para tamu membeli moke dan rokok yang sudah disiapkan panitia. Para tamu membelinya dengan harga dua kali lipat dari harga aslinya.

Misalnya sebungkus rokok kretek seharga Rp.13.000 setidaknya akan dibayar antara Rp.20.000 ataupun Rp.25.000. Demikian pula sopi. Bila warga kampung sehari-hari membelinya Rp 25.000 sebotol, maka dalam ritual itu tamu membayar Rp 50.000 per botol.

Mulai Luntur
Kampung Tenda, di Ruteng, Kabupaten Manggarai bukan tak terpengaruh perkembangan jaman. Saat ini tak semua yakin akan ritual-ritual tradisi. Warga mulai berpikir dengan cara berbeda.

“Kadang di dalam amplop isi uang tidak sesuai dengan standar apa yang diharapkan keluarga,’’kata Alex soal kemurnian ritual itu sekarang.

Beli moke dan rokok sudah mulai hilang. Ini berbeda jika kita mengikuti ritus Wuat Wai di luar kota Ruteng di mana pengunjung tidak cukup datang berbekal uang Rp 200.000. Mesti lebih dari itu karena kadang panitia menjual menu daging sate babi di tempat acara.

‘’ Di Kampung Tenda cukup Rp 50.000 atau Rp100.000 sudah cukup untuk mengikuti ritus ini,’ tutur Alex mengakhiri perbincangan dengan FBC.

Penulis Hironimus Dale
Editor: Donny Iswandono

Dari Nita yang Mendunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *