Lingko Wae Mata yang Memanjakan Mata

Setelah Lingko Ratung dan Lingko Cancar yang tersohor di manca negara, di Manggarai Barat juga terdapat lingko yang sangat memanjakan mata. Ya…Lingko Wae Mata yang merupakan salah satu pusat kebudayaan masyarakat adat Tado, sungguh elok ditatap dari bukit Golo Wesa. Seperti apa?

DARI bukit Golo Wesa, Anda dapat menikmati sensasi Lingko Wae Mata, pembagian tanah sawah khas Manggarai Raya berbentuk jaring laba-laba. Terletak di pinggir jalan raya Trans Flores, tepatnya di Kampung Dahot, Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Lingko Lodok (sawah) Wae Mata dan bukit Golo Wesa menawarkan panorama alam yang tiada tara.

Untuk sampai ke Lingko Wae Mata dan bukit Golo Wesa hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan darat dengan kendaraan sewaan dari Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Desa yang masih kental dengan nuansa kebudayaan asli Tado ini berada persis di jalan raya Trans Flores yang diapit oleh gugusan perbukitan yang permai. Setiap pengunjung akan merasakan nuansa alam dan keramahan penduduknya. Desa ini merupakan pusat kebudayaan Tado, sebutan untuk komunitas adat setempat, yang dipimpin oleh seorang tua golo yang membawahi 12 suku (mukang), 10 batu (sub klan) dari satu garis keturunan yang melingkupi dua desa yakni Nampar Macing dan Golo Leleng.

Panorama alam Lingko Lodok Wae Mata dipandang dari bukit Golo Wesa. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Panorama alam Lingko Lodok Wae Mata dipandang dari bukit Golo Wesa. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Menelusuri Lingko Wae Mata relatif mudah. Pengunjung dapat langsung datang ke area lodok (areal persawahan) atau melakukan treking ke bukit Golo Wesa yang terletak sekitar 750 meter dari pusat Lodok Wae Mata. Namun, untuk lebih menikmati sensasi Lingko Wae Mata, pengunjung dianjurkan untuk melakukan treking ke Golo Wesa dahulu. Dari bukit Golo Wesa para pengunjung akan menikmati sensasi alam Lingko Wae Mata yang dikitari beberapa perkampungan adat di sekitarnya. Apalagi bila perjalanan dilakukan antara bulan Februari-Maret pada saat padi sedang menghijau.

Sejam Perjalanan

Bukit Golo Wesa dapat dicapai kurang lebih satu jam perjalanan dari Kampung Pusut atau sekitar 45 menit dari Kampung Kumbek. Perjalanan menyusuri jalan setapak sambil menikmati udara sejuk ala pegunungan. Beberapa tanaman herbal untuk obat-obatan tradisional dapat ditemukan di sepanjang perjalanan menuju puncak. Selain bisa menikmati pemandangan alam yang indah, pengunjung disuguhi pula beberapa jenis flora dan fauna yang unik. Ada ubi hutan atau raut, makanan lokal yang kerapkali dikonsumsi sebagai cemilan di kala sarapan pagi.

Usai melakukan treking ke Golo Wesa sekaligus menikmati panorama alam Lingko Wae Mata, untuk melengkapi perjalanan, sejumlah paket tour dapat dinikmati oleh para pengunjung seperti atraksi seni budaya Caci, wisata kuliner, menyaksikan kerajinan tangan seperti anyaman dari bambu, pembuatan periuk tanah atau tembikar, tenun ikat hingga pengobatan tradisional.

Menurut penuturan Tua Golo Pusut, Yohanes Djehabu, kebudayaan Tado merupakan tradisi asli yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini kebudayaan Tado masih terpelihara dengan baik. Tidak heran bila beberapa tahun belakangan ini, banyak wisatawan berkunjung ke Tado. “Kami bangga, banyak wisatawan mulai berkunjung ke sini. Tapi kami berharap, mereka harus menghormati adat istiadat kami,”ujarnya.

Informasi Awal

Selain para pengunjung dapat menikmati panorama alam dan beragam kebudayaan asli Tado, setiap wisatawan atau pengunjung yang hendak berwisata ke Tado diharapkan untuk memberikan informasi awal kepada pihak pengelola setempat. Mengingat rata-rata penduduk bermatapencaharian sebagai petani yang saban hari beraktivitas di sawah atau ladang. “Infornasi awal itu penting agar kami bisa menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan tamu. Maklum sebagian besar warga adalah petani,”ujar Yeremias Uril, pengurus Lembaga Adat Tado (LETA).

Setiap tamu atau wisatawan yang datang  ke Kampung Tado diterima secara adat oleh tua-tua adat setempat sebelum melanjutkan aktivitas lainnya. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Setiap tamu atau wisatawan yang datang ke Kampung Tado diterima secara adat oleh tua-tua adat setempat sebelum melanjutkan aktivitas lainnya. (Foto: FBC/Kornelius Rahalaka)

Urin mengatakan, komunitas adat Tado dan sanggar budaya setiap saat siap melayani para pengunjung yang hendak berwisata ke Kampung Tado. Para pengunjung dapat menikmati aneka atraksi budaya, kerajinan tangan seperti anyaman tikar, topi dan keranjang serta menikmati kuliner tradisional khas Tado suguhan kaum ibu-ibu. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai ritual adat seperti ritual penyimpanan padi di lumbung, ritual adat di pusat lodok, menyaksikan proses pembuatan api secara tradisional, pengobatan ala masyarakat lokal hingga berbagai atraksi seni dan budaya.

Kini Lingko Wae Mata dan Gunung Golo Wesa kian diminati para pelancong. Beberapa bulan belakangan ini puluhan wisatawan mulai menikmati sensasi alam Tado berserta pesona kebudayaan Tado yang hingga kini masih terpelihara dengan baik. Keberadaan Lingko Wae Mata kian menarik minat wisatawan lantaran bukan hanya Lingko Cancar yang namanya sudah mendunia, tetapi Lingko Wae Mata dalam bilangan wilayah adat Tado juga tak kalah sensasinya. (*)

Penulis : Kornelius Rahalaka

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Tanpa Alat, Ikan pun Menghampiri Manusia

Next Story »

Merekam Komodo

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *