Lingko Ratung, Ekowisata Manggarai yang Tersembunyi

Sebagai kabupaten yang mempunyai areal persawahan terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kabupaten Manggarai dikenal dengan ekowisata persawahan (lodok) berbentuk sarang laba-laba. Seperti apa?

SEJAUH ini wisatawan domestik atau mancanegara hanya mengenal lingko, sawah yang dibentuk atau dibagi seperti jaring laba-laba di Desa Cara, Kecamatan Cancar, Kabupaten Manggarai. Bahkan kemasyuran lingko Cancar sudah mendunia, dan menjadi karya ‘kanonik’ fotografi, membicarakan lingko kurang tepat tanpa menyinggung lingko Cancar.

Meski tidak selegendaris lingko Cancar, di wilayah Kabupaten Manggarai masih terdapat beberapa lingko. Salah satunya adalah persawahan Lingko Ratung milik petani di Kelurahan Carep, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Lingko ini tidak terlalu jauh dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.  Dari puncak Golo Cador bagian Timur Bandara Frans Sales Lega, lingko ini terpampang bak lukisan naturalis raksasa. Menghampar kehijauan yang diselimuti kabut tipis saat pagi dan petang menjelang. Sangat menarik menjadi lokasi ekowisata, kita bisa melakukan trekking sembari menghirup segarnya oksigen di daerah ini.

Selain keindahan sawah bak jaring laba-laba tersebut, kita juga merasakan sejuknya udara dari rerumputan yang tumbuh di sekitar puncak Golo Cador dan  bonus pemandangan berupa ratusan hektar areal persawahan  berbentuk terasering  di bagian Utara lingko.

Diterangi sinar matahari, bagian pusat lingko terlihat dari kejauhan yang merupakan jantung  aliran air kemudian mengalir ke dalam empat jalur untuk  mengaliri petak-petak sawah dari pusat koordinat lingko.

Semakin ke luar petak-petak sawah semakin membesar dan bagian luar membetuk lingkaran yang dalam bahasa Manggarai disebut cicing, bagian terluar dari sawah (lodok).

 

Lodok  Lingko Ratung saat sawah masih hijau. (Foto: FBC/Hironimus)

Lodok Lingko Ratung saat sawah masih hijau. (Foto: FBC/Hironimus)

Alosius Aput warga Kelurahan Carep yang juga memiliki lahan persawahan di  lingko tersebut menjelaskan kepada saya, telah puluhan tahun lalu  Lingko Ratung  menurut tradisi adat pembagian lingko mese /lingko rame tanah dalam ukuran besar orang Manggarai dibagi dalam bentuk lodok yang mana ukuran pembagian mulai dari pusat berdasarkan filosofi ukuran jari: jari kelingking  lime kinde bagian untuk anak laki-laki sulung dalam keluarga. Lime Rempa tiga jari tengah (jari telunjuk, tengah dan manis)  bagian dari keluarga biasa dan Lime Ponggo ibu jari atau jari jempol dikhususkan untuk Tua Teno (pemimpin pembagian tanah warisan dalam satu kampung) dan Tua Golo (kepala kampung).

Keunikan bentuk sawah ini merupakan sebuah gambaran pelestarian dari budaya masyarakat adat Manggarai  dipertahankan oleh masyrakat Kampung Carep sebagai tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur sebelumnya.

Diceritakan Emanuel Human warga Kelurahan Tenda, Kecamatan Langke Rembong, Lingko Ratung merupakan  lahan milik masyarakat Kampung Carep  yang merupakan wilayah terluar dari kota Ruteng  yang berbatasan dengan Kecamatan Wae Ri’i

Meskipun termasuk dalam  wilayah kota, sudah berpuluh tahun model petak sawah ini tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman. Cara mengelola pertanian sawah masih menggunakan cara tradisional di mana sawah dibajak menggunakan kerbau bukan traktor. “Sudah puluhan tahun bentuk sawah tidak berubah,”katanya.

Sayangnya obyek wisata alam satu ini masih tersembunyi, dan hanya diketahui oleh beberapa orang  sebagai tontonan gratis bagi masyarakat kota Ruteng yang hendak berolahraga sore hari di Bandara Frans Sales Lega. Atau masyarakat yang dengan sengaja ingin refreshing di akhir pecan untuk menghirup udara segar. “Sayang objek wisata ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja,” kata Emanuel.

Pemandangan lain di arah utara dari Puncak Golo Cador. (Foto: FBC/Hironimus)

Pemandangan lain di arah utara dari Puncak Golo Cador. (Foto: FBC/Hironimus)

Dengan tidak jauhnya lokasi wisata tersembunyi ini dari pusat kota Ruteng, memudahkan pengunjung untuk bertandang ke Puncak Golo Cador apalagi jalan aspal sudah masuk ke wilayah tersebut. Hanya saja pemandangan tidak sempat terpintas dalam bayangan pengendara karena kondisi rumput dan semak belukar  sudah meninggi sehingga pemandangan keindahan lodok tidak terlihat dengan jelas. “Jika kondisi semak belukar di Golo Cador dibersihkan pastinya para pengendara akan sejenak berhenti disini,’’kata Emanuel lagi.

Hingga sekarang wisata Lingko Ratung  hanya menjadi tontonan gratis bagi warga lokal di Ruteng.  Kemungkinan  informasi perihal objek wisata ini belum sampai  ke telinga pemerintah setempat, sehingga tidak menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Manggarai. “Mungkin pemerintah belum mengetahui, hanya orang-orang tertentu  saja yang tahu dan berkunjung setiap hari Minggu,” pungkas Emanuel. (*)

Penulis: Hironimus Dale

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Mencumbu Pasir Putih Pulau Meko

Next Story »

Batutara, Gunung yang Terus Memuntahkan Lahar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *