Kepemimpinan : Perubahan atau Lanjutkan?

Oleh : Kornelius Rahalaka

Pada ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Manggarai Barat tahun 2010 lalu, pasangan Calon Bupati Agustinus Ch. Dula dan Calon Wakil Bupati Maximus Gasa menjanjikan “perubahan” dengan slogan “Gusti hadir membawa perubahan”.

Janji perubahan itu seolah menghipnotis masyarakat Manggarai Barat untuk kemudian menjatuhkan pilihan pada paket pasangan ini. Agustinus Ch. Dula dan Maximus Gasa akhirnya meraih dukungan suara terbanyak dan menjadi pemimpin Manggarai Barat.

Kornelius Rahalaka, Aktivis Sosial, Wartawan Flores Bangkit

Kornelius Rahalaka, Aktivis Sosial, Wartawan Flores Bangkit

Dalam ajang Pilkada 2015, misi perubahan kembali didengungkan oleh semua pasangan kandidat. Meskipun belum memasuki masa kampanye namun, semua kandidat yang bakal mencalonkan diri dalam Pilkada kali ini akan mengusung misi perubahan.

Namun, bagi pasangan incumbent atau kandidat yang masih tengah memimpin, tetntu bukan hanya slogan perubahan yang akan disampaikan kepada publik tetapi hampir dipastikan kandidat incumbent akan menambah slogan yakni “lanjutkan”.

Penulis khawatir, rakyat terutama pemilih sebagai pemilik kedaulatan tertinggi cuma menyalurkan hak pilihnya tanpa memahami apa arti sebuah perubahan dan apa sesungguhnya yang diinginkan untuk diubah. Dengan kata lain jika ingin perubahan maka sepatutnya ditelusuri agenda-agenda apa saja yang perlu dirubah.

Perubahan dan Aktualisasinya

Pada tahun 2015, tepatnya tanggal 9 Desember, masyarakat Manggarai Barat akan menyelenggarakan pemilukada. Hampir dipastikan semua kandidat yang akan bertarung memeperebutkan kursi bupati dan wakil bupati Manggarai Barat untuk lima tahun ke depan menjanjikan perubahan.

Dengan demikian, judul tulisan di atas sangat tepat dikaitkan dengan perkembangan politik di Manggarai Barat. Tulisan ini mengajakmasyarakat terutama para pemilih agar memiliki pemahaman yang baikdan benar tentang perubahan agar dapat memilih pemimpin mereka dengantepat.

Perbaikan pengelolaan pembangunan di Manggarai Barat seyogianya dipertimbangkan sebagai sebuah agenda penting dan genting. Berbagai langkah perubahan pun mendesak untuk dilakukan.

Oleh karena itu, perubahan pengelolaan pembangunan di Manggarai Barat setidaknya meliputi enam pilar yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Pilar pertama, aktor atau pelaku utama. Meminjam istilah sejarawan Inggris,Arnold Toynbee, aktor diterjemahkan sebagai ‘pelopor’ atau ‘perintis’. Aktor atau pelaku utama memainkan peranan yang sangat sentral dalam setiap perubahan. Tanpa peran keaktoran atau kepeloporan, sebuah perubahan tidak mungkin dapat berjalan.

Dalam kaitan dengan perubahan pengelolaan pembangunan baik di tingkat nasional maupaun daerah, peran keaktoran diperlukan dari kalangan lembaga eksekutif, legislatif danyudikatif. Peran keaktoran juga diperlukan dari kalangan usaha bisnis swasta serta masyarakat madani.

Tentu saja, semakin besar otoritas dan sumber daya yang dimiliki oleh sang pelopor atau perintis, semakin besar pula dampak atau pengaruh yang bisa dihasilkannya dalam kerangka perbaikan pengelolaan pembangunan.

Dengan kata lain, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula dampak atau cakupan dari kepeloporannya. Seorang Presiden untuk tingkat nasional, misalnya, berpotensi untuk melakukan perbaikan atau perubahan berskala besar dengan jangkauan nasional sehingga bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat secara nasional.

Masyarakat tentu saja membutuhkan kemajuan dan oleh karena itu perlu ada perubahan dalam pengelolaan pembangunan. Kepeloporan tidak berbanding lurus dengan kualitas SDM karena kualitas SDM yang tinggi belum tentu memiliki kepeloporan atau keperintisan yang bagus.

Sebaliknya, seseorang yang tingkat pendidikannya relatif rendah, namun bisa saja yang bersangkutan memiliki kepeloporan yang jauh lebih baik yang dapat berdampak bagi masyarakat di sekitarnya. Kepeloporan dan atau keperintisanlah yang dibutuhkan dalam merubah Manggarai Barat ke depan. Dan bukan orang-orang yang hanya bisa berteriak dan saling menuduh, menjilat, menyalahkan, saling berbohong dan enggan untuk mendengar suara rintihan masyarakat kecil.

Pilar kedua, aturan. Aktor saja tentulah tidak cukup untuk membawa perubahan. Diperlukan aturan dari mulai konstitusi hingga aturan-aturan tingkat rendah dan operasional yang menyokong dan mendesak agenda-agenda perubahan pembangunan yang memerlukan dukungan aturan yang memadai.

Dalam koridor aturan-aturan inilah para aktor atau pelopor akan bekerja. Tanpa dukungan aturan, para aktor tersebut akan sulit memainkan peranannya secara operasional dengan hasil optimal.

Aturan yang dibutuhkan bukan saja yang berbentuk hukum formal saja melainkan juga kesepakatan-kesepakatan mengenai kepatutan atau etika, termasuk hukum adat. Bukan saja aturan-aturan formal yang perlu disiapkan melainkan juga etika pembangunan yang memandu semua pihak untuk menjaga segenap kepatutan yang disepakati.

Pilar ketiga, institusi atau organisasi. Aktor dan aturan saja tidaklah memadai. Diperlukan institusi atau organisasi beserta segenap aspeknya. Perbaikan pengelolaan pembangunan membutuhkan penguatan aspek-aspek institusional seperti kelembagaan, pengorganisasian, manajemen dan mobilisasi sumber daya, sumber daya manusia yang memadai dan sokongan dana yang layak.

Tanpa berbagai aspek institusional, sulit membayangkan perbaikan pengelolaan pembangunan daerah dapat diwujudkan secara seksama. Oleh karena itu, dibutuhkan penataan institusional secara layak. Ketersediaan dukungan institusi atau organisasi yang kuat akan membuat para aktor dapat bekerja secara optimal dalam koridor aturan yang tersedia.

Selain itu, dalam manajemen pembangunan modern baik nasional maupun daerah diperlukan organisasi pembelajar. Dalam organisasi pembelajar dalam arti yang luas perlu belajar baik dari kesuksesan maupun belajar dari kegagalan. Tanpa hal tersebut, maka sulit dibayangkan terjadinya perubahan.

Dengan demikian, Prahalad, seorang ahli manajemen terkemuka, menyatakan : “if you don’t learn, you don’t change, and if don’t change, you will die,’(jika anda tidak belajar, maka anda tidak akan berubah, dan jika anda tidak berubah, maka siap-siaplah untuk mati).

Begitu pentingnya pembelajaran dan perubahan, sehingga diharapkan masyarakat Manggarai Timur perlu membuka telinga, mata, terutama mata hati untuk melihat realita di sekitar sehingga pada ujungnya dapat menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.

Pilar keempat, mekanisme. Mekanisme adalah sinergi saling sokong antara aktor, aturan dan institusi. Tanpa adanya mekanisme, agenda-agenda perubahan akan terbengkelai. Dalam kerangka inilah diperlukannya mekanisme. Mekanisme-lah yang mentransformasikan ketiga aspektersebut menjadi energi kinetik untuk menggerakkan roda-roda pembangunan ke arah yang diharapkan bersama.

Pilar kelima, publik. Setiap perubahan pasti membutuhkan publik ataustakeholders. Perbaikan pengelolaan pembangunan memerlukan terbangunnya kesadaran publik yang betul-betul sadar akan pentingnya pembangunan. Tanpa adanya kesadaran publik yang proaktif memelihara dan memperbaiki kualitas pengelolaan pembangunan, maka perubahan pembangunan hanya akan menjadi agenda yang elite, atau hanya berkembang pada tataran elite saja.

Semakin tinggi kesadaran publik, dalam jangka panjang akan menjadi “bahan bakar” bagi agenda perbaikan pengelolaan pembangunan yang berkesinambungan.

Seorang aktor yang memiliki kepeloporan yang tinggi selalu membuka diri untuk mendengar masukan dari publik termasuk kritikan yang pedas sekalipun. Kritikan jangan selalu dibaca dari sudut pandang yang negatif, sebaliknya seorang aktor atau pelopor harus belajar dari kritikan karena kritikan ibarat “pisau” yang selalu diasah untuk lebih tajam membuat kebijakan-kebijakan yang pro kesejahtraan bersama.

Pilar keenam, sistem. Di dalam UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), judul dari UU tersebut diawali dengan kata sistem. Sistem pengelolaan pembangunan, baik nasional maupun daerah hanya dapat berjalan dengan baik bilamana terbangun kelima pilar sebelumnya yakni : aktor, aturan, institusi, mekanisme dan publik.

Sistem ini terbangun perlahan-lahan manakala kelima pilar sebelumnya bekerja antar waktu dan melewati berbagai ujian dalam perkembangannya. Dengan demikian, perubahan pada tataran sistem dapat didefinisikan sebagai hasil perubahan dari kelima pilar sebelumnya.

Dalam buku “The Fifth Discipline” yang ditulis oleh Peter F. Sengemengemukakan bahwa pendekatan pembangunan haruslah dilihat secara sistemik, yakni pengelolaan pembangunan dilihat secara holistik dengan memperhatikan keterkaitan yang erat antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Pembangunan ekonomi di Manggarai Barat misalnya, perlu dilihat secara holistik antar berbagai aspek yang terkait erat antara satu subsistem dengan subsistem yang lainnya, antara masyarakat dan pemerintah daerah.

Ekonomi perlu dilihat dari sudut pandang infrastruktur wilayah, agrowisata, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan (kualitas SDM), ideologi dan lain sebagainya. Apakah semua stakeholders ekonomi sudah mengarah kepada peningkatan kualitas pengelolaan perekonomian?

Jika jawabannya adalah belum, maka cepat atau lambat perekonomianManggarai Barat akan semakin kerdil. Salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan perekonomian kita adalah cara berpikir yang parsial atau ego sektoral. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri dengan agenda perubahan masing-masing yang terkadang tanpa didukung oleh visi dan misi yang jelas.

Dengan demikian, selama beberapa tahun terakhir masyarakat ManggaraiBarat dapat mengevaluasi, apakah Manggarai Barat sudah memiliki aktor yang memiliki kepeloporan atau belum? Jika ada yang bertanya : dari manakah perbaikan atau perubahan itu harus dimulai? Jawabannya adalah perubahan atau hanya dapat diwujudkan manakala  tersedia aktor atau pelopor yang memulai langkah perubahan, sekecil apapun langkah itu.

Aspek krusial berkaitan dengan aktor adalah pemilihan dan penunjukkan aktor baru yang akan dilangsungkan pada Pemilukada bulan Desember mendatang.

Selamat mempersiapkan pilihan!!!

Cunca Wulang : Pundi Duit yang Terabaikan

Next Story »

Desa Memanggil Kaum Muda

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *