Jelang Pilkada Mabar, Pemimpin Antara Ada dan Tiada

Oleh: Erik Sabini

Masih ingatkah anda dengan buku yang ditulis Pengamat Energi Marwan Batubara berjudul “Ramai-Ramai Merampok Negara? Buku tersebut diluncurkan tahun 2008 silam yang di dalamnya mengupas skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mengakibatkan raibnya uang negara sekitar Rp.650 triliun.

Praktisi Pers dan Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Esa Unggul Jakarta

Praktisi Pers dan Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Esa Unggul Jakarta

Yah, bahasa tren saat ini ialah 11, 12. Di kekinian dua angka ini kerap dijadikan sebagai ungkapan untuk menyatakan kemiripan. Tinggal pilih, mana yang 11 dan mana yang 12. Hal itu pulalah yang mau diangkat dalam tulisan ini.

Tidak bermaksud melanjutkan karya Marwan. Jika Marwan dalam bukunya menuliskan ada “segerombolan” (pejabat dan pengusaha) di balik mega skandal ini maka dalam tulisan ini saya lebih mengangkat serombongan. Semoga saya tidak salah, segerombolan lebih kearah negatif dan rombongan ialah positif.

Tentu, anda masih ingat tentang paket Joker (John Kadis dan Efan Refael) yang membuat suasana baru dalam peta politik di Manggarai Barat (Mabar) jelang Pilkada akhir tahun nanti.

Paket ini mengawali langkahnya dengan membuat konsep bupati-bupatian yang tentunya cukup unik. Sebab, sepintas kita berpikir kok kenapa harus bupati-bupatian dan bukan bupati saja? (Sekedar menduga, jawaban paket ini: suka-suka gue dong, masalah buat lu?).

Perlawanan Kaum Bisu

Yang pasti kata bisu dalam konteks ini bukan merujuk pada orang yang tak mampu mendengar dan berbicara. Elisabeth Noelle-Neumann, ilmuwan politik asal Jerman melalui tulisannya The Spiral of Silence (1980) memunculkan teori baru tentang spiral keheningan. Dalam karyanya, Neumann mengelompokan dua reaksi massa dengan sebutan mayoritas dan minoritas.

Yang mayor merupakan representase dari kelompok yang sepakat. Ia antitesa dengan kelompok minoritas yang tidak sepakat. Dalam menyikapi kebijakan Pemerintah misalnya, kelompok mayor cenderung sepakat. Tidak ambil pusing, apakah itu benar atau tidak.

Jika yang mayor mengedepankan ABS (asal bapa senang). Lain halnya dengan kelompok minoritas. Ia tak sepakat jika kebijakan itu tidak benar. Anehnya, meskipun tidak sepakat kelompok minor memilih diam. Neumann menyebutnya sebagai lingkaran kebisuan.

Kelompok yang tak mau mengungkapkan ide kontrasnya atau minor ini jelas Neumann kerap terjadi pada orang yang kurang berpendidikan,kurang kritis dan irasional.

Ia tak sadar bahwa semakin lama ia berada dalam lingkaran kebisuan maka bergaining power-nya semain melemah. Ia hanya sebagai manusia pelengkap bukan pemain.

Apa yang diperagakan oleh paket Joker di Mabar sangat menarik bila dikaitkan dengan dengan teori spiral keheningan. Hanya bedanya, Neumann tidak menuliskan kemungkinan-kemungkinan lain seperti bangkitnya perlawanan kelompok bisu dan itulah yang dibuat oleh paket Joker melalui konsep “ganjilnya” bupati-bupatian.

Bagi saya, gebrakan bupati-bupatian itu merupakan ungkapan kekesalan dan kemarahan masyarakat Mabar terhadap bupati-bupati yang dari dahulu hingga kini kinerja-nya sama saja. Atau jika ke pengertian lebih luas lagi bagi keseluruhan pemerintah termasuk DPR yang kerjanya hanya bagi-bagi proyek.

Artinya, itu representasi ungkapan kolektivitas masyarakat Mabar yang semakin cerdas dan berani mengkritisir kekosongan peran pemerintah. Bahwa selama ini pemimpin kita antara ada dan tiada. Kita tak punya sopir yang cerdas mengendarai mobil Mabar.

Dari sebelum menjadi kabupaten dan ketika menjadi kabupaten ketersediaan air di ibu kota tidak pernah dijamin. Hal serupa juga untuk infrastrktur jalan ke wilayah-wilayah potensi ekonomi seperti di Terang yang dari sebelum bumi ada hingga ada kondisi jalannya tetap sama. Hal serupa terjadi pada kasus lainnya.

Intinya, sebagai rakyat kita puas telah ramai-ramai menampar bupati. Kita harus sadar kita adalah rombongan penumpang yang mencari kebenaran bukan segerombolan orang yang tahunya hanya menikmati kekuasaan. Jadi, puaskan?

(Cat: Kemudian, ketika Paket Joker kini melampaui prediksi Neumann dengan maju sebagai calon bupati maka itu urusan beliau. Kita tak mau ikut campur karena urusannya pasti lebih ribet. Sebagai sesama kaum bisu, saya hanya berpesan perkuatlah infrastruktur paket anda, sebab semakin tinggi pohon terpaan angin makin kuat pula)

Otda dan Pusat Inovasi Daerah

Next Story »

Belajar Pancasila? (Ya ke Flores!)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *