Imam yang Berpikir Global, Mengonsumsi Secara Lokal

Oleh: Sefri Juhani, SVD

Persoalan lingkungan hidup merupakan problema yang menyita atensi dari berbagai insan saat ini. Hal ini juga yang menjadi fokus perhatian Paus Fransiskus. Dalam ensikliknya yang dikeluarkan pada tanggal 18 Juni 2015, Lodato Si (Merawat Rumah Kita Bersama), Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik ini mengupas secara gamblang mengenai persoalan ekologi.

Sefri Juhani, SVD,  Tinggal di Roma, Italia

Sefri Juhani, SVD, Tinggal di Roma, Italia

Beliau mengeritik proses produksi yang mengeliminasi kekayaan hayati. Uskup Roma ini juga mengingatkan semua pihak mengenai posisi manusia di hadapan alam. Manusia bukanlah pemilik dan pemegang otoritas atas alam. Setiap kita merupakan saudara dari saudari-saudari ciptaan lain yang berbagi eksistensi dan mendapatkan segala sesuatu untuk menyokong hidup dari ibu bumi (Lodato Si, 3).

Tindakan manusia yang mengeliminasi dan menjadikan alam sebagai hamba, yang dipaksa untuk melayani nafsu ketamakannya, menimbulkan reaksi tak terduga dari bumi di mana kita berpijak dan hidup. Bentuk protes itu terejahwanta dalam berbagai jenis penyakit yang memporak-poranda kenyamanan hidup manusia. Sering kali kelompok kaum miskin menjadi pihak yang rentan terhadap imbas dari aktus manusia tersebut.

Terhadap persoalan ini, kita semua dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawaban. Kita semua harus melakukan pertobatan. Pertobatan tersebut mesti bermuara pada pembaharuan konsep tentang diri dan gaya hidup. Juergen Moltmann memberi alternatif jalan keluar. Beliau meminta kita untuk memahami diri sebagai imam dan melatih gaya hidup: berpikir global, mengonsumsi secara lokal.

Dalam keyakinan Kristen, semua orang beriman merupakan imam (Bdk. Moltmann, God in Creation, 92-93). Mereka mendapatkan imamat umum (melalui sakramen pembaptisan) dan sebagian kecil orang mendapatkan imamat khusus melalui sakramen imamat. Jika semua manusia yang percaya menyandang predikat sebagai imam, maka mereka harus tahu menempatkan diri di tengah ciptaan-ciptaan lain.

Sebagai imam, manusia harus memposisikan dirinya sebagai wakil Allah untuk semua ciptaan di satu sisi dan wakil dari ciptaan-ciptaan di hadapan Tuhan pada sisi lainnya. Sebagai wakil dari semua ciptaan, manusia harus berdoa atas nama semua ciptaan itu. Manusia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas nama matahari, cahaya, langit dan tanah yang subur. Selain itu, manusia juga meneriakan tangisan alam yang terluka.

Dalam tataran ini, model doa yang dipraktekkan adalah doa dengan mata terbuka. Artinya doa itu merupakan permohonan yang lahir dari aktus melihat dan merefleksikan realitas yang terjadi di sekitar kita. Juga doa yang tumbuh dari keprihatinan kita terhadap kehancuran kosmos. Selain itu doa yang merupakan ungkapan harapan akan kemahakuasaan Allah yang berdaya memulihkan semuanya. Bukan doa dengan mata tertutup yang hanya fokus melihat diri dan tak peduli dengan keadaan di sekitar.

Sebagai wakil Allah untuk saudari ciptaan lain dan ibu bumi, manusia hendaknya meneladani Allah yang adalah cinta. Allah yang menginginkan kebaikan bagi semua ciptaan. Allah yang bersolider dan berkorban demi kebahagiaan ciptaannya. Predikat sebagai wakil Allah juga menuntut kita berlaku adil dan benar terhadap alam.

Selain memahami diri sebagai imam, kita juga hendaknya menghidupi gaya hidup berpikir global, mengonsumsi secara lokal. Moltmann dalam bukunya Ethic of Hope, 195, menyerukan kepada semua insan untuk turut terlibat memikirkan dan mencari jalan keluar untuk memulihkan kosmos yang terluka. Juga manusia perlu mempertimbangkan tawaran sistem ekonomi global, yang menekankan persaingan dan mengadopsi motto carpe diem, yang menjadikan makanan cepat saji (fast food) sebagai produk utama.

Teolog ini melihat bahwa produksi makanan cepat saji yang secara instan dikonsumsi telah menghapus sistem ekonomi lokal, yang pada dasarnya selaras dengan alam. Makanan cepat saji telah menggeser produk lokal yang tidak memiliki casing yang berdaya jual tinggi. Fast food bisa juga menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Hal ini terjadi karena berbagai penyebab seperti soal higienis, penggunaan zat pengawet, dll.

Menghadapi kenyataan ini, menurut Moltmann, kita harus kembali ke gaya hidup yang mencintai makanan slow food. Makanan slow food adalah makanan lokal yang kita kelola sendiri. Ada banyak keuntungan yang diperoleh dari makanan buatan sendiri: Pertama, soal higienis. Kita bisa menjamin kebersihan dari makanan yang kita buat sendiri bila dibandingkan dengan fast food. Kedua, kita terbebas dari berbagai zat kimia yang dipakai untuk mengawet makanan. Ketiga, kita akan lebih menghargai sebuah proses.

Pembuatan makanan slow food tentu melewati banyak tahap dan membutuhkan banyak waktu. Hal ini tentu bertentangan dengan motto dari ekonomi liberal yaitu time is money. Bagi orang yang mengagungkan sistem ekonomi ini, segala sesuatu diukur dengan uang, termasuk waktu. Uang menjadi segala-galanya. Kehidupan dari ciptaan lain bisa dikorbankan demi uang.

Bagi Moltmann, setiap makhluk adalah ciptaan yang terbentuk dalam waktu. Setiap waktu yang dilewati selalu merangkai kisah. Kisah-kisah tersebut akan membentuk sejarah. Masing-masing ciptaan memiliki sejarahnya tersendiri. Ketika kita berbicara tentang sejarah, kita sebenarnya berbicara tentang proses yang telah dilewati oleh semua ciptaan untuk menjadi sesuatu. Proses-proses itu bermuara pada pemenuhan diri dari semua ciptaan, sebagaimana yang telah ditakdirkan oleh Empunya eksistensi mereka. Atas dasar pemahaman ini, tindakan mengabaikan proses berarti perbuatan melupakan sejarah. Hal ini juga berarti penolakan terhadap Allah yang telah menghadirkan kita semua untuk bergerak dalam alur proses yang Dia ciptakan.

Agar penolakan ini tidak terjadi, kita hendaknya beralih dari semboyan time is money kepada time is life. Dengan semboyan ini kita mau nyatakan bahwa kehidupanlah yang menjadi ukuran dari nilai sebuah waktu. Waktu itu berguna sejauh kita memberi makna atas kehidupan. Di sini hidup adalah di atas segala-galanya. Uang hanya sebagai salah satu sarana yang mendukung kehidupan itu.

Motto ini sejalan dengan keberadaan Allah sendiri yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Allah yang selalu menghendaki kehidupan bukan kematian. Karena itu, segala tindakan manusia yang berdaya mematikan kehidupan ciptaan lain adalah bentuk kurang respek terhadap waktu dan terhadap Allah sendiri.

Mari kita berjuang untuk menjadi seorang imam yang bertindak secara benar sebagai wakil alam di hadapan Allah dan wakil Tuhan di tengah ciptaan lain. Juga mari kita jadikan diri kita masing-masing sebagai pribadi yang berpikir global, mengonsumsi secara lokal.

Pastor Vande Raring, Korban Tunggal?

Next Story »

Cunca Wulang : Pundi Duit yang Terabaikan

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *