Guru yang Menulis?

Foto Ilustrasi : Salah satu kegiatan para guru di kecamatan Larantuka-Kabupaten Flores Timur (Foto Tahun 2012/ FBC/Eman Fernandez)

Foto Ilustrasi : Salah satu kegiatan para guru di kecamatan Larantuka-Kabupaten Flores Timur (Foto Tahun 2012/ FBC/Eman Fernandez)

Oleh : Robert Bala

Menjelang pelatihan guru di Lerek pada tanggal 2 – 3 Juli 2015, seorang guru SD-ku ‘doeloe’, saya kontak. Intinya, untuk mendapatkan ide tentang kendala dalam menulis. Pada hemat penulis, menanyakan masalah di lapangan akan menjadi sebuah titik berangkat dalam refleksi agar bisa tepat sasar.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta.

Saya terkejut, tidak sedikit pelatihan yang sudah diikuti. Hal itu sejalan dengan progam pemerintah untuk dapat meningkatkan profesionalisme guru, juga mengingat bahwa kenaikan pangkat dari IVA ke atasnya harus didasarkan pada karya tulis.

Lalu, di manakah kendalanya? Apa yang semestinya dilakukan agar guru yang mengajar siswa menulis dapat juga menulis?

Dari Atas?

Tidak sedikit pelatihan menggunakan pendekatan deduktif dalam melatih guru untuk menulis. Aneka teori dibeberkan sebagai acuan. Selanjutnya dideretkan aneka cara detail yang mendukung. Cara mengutip, membuat daftar isi, kata pengantar, isi, dan penutup ditunjuk cukup jelas. Tujuannya agar setelah selesai pelatihan, guru dapat menulis. Tidak saja menulis, tetapi agar karyanya itu dapat menjadi nilai tambah.

Sesungguhnya metode demikian baik adanya. Sayangnya, ia bertolak pada acuan yang terlampau tinggi. Karena itu tidak banyak orang yang mampu mencapainya. Yang terjadi, kadang muncul karya ilmiah, tetapi orisinalitasnya dipertanyakan. Hal itu bisa memunculkan dugaan bahwa karya itu ‘dibuatkan’ dan bukan ‘dibuat’ olah guru.

Sebagian besar guru akan ‘menyerah’. Ketidaknaikan ke golongan berikutnya tidak menjadi tantangan besar. Apalagi di tengah kekurangan guru, mereka yakin pemerintah tidak mungkin mengambil jalan drastis yang merugikan mereka. Singkatnya, pelatihan menulis akhirnya mandek.

Berdasarkan pengalaman ini, team Workshop 50 Tahun SMP Lerek mengambil jalan lain. Latihan menulis yang dilakukan lebih bertolak dari apa yang sudah dimiliki. Guru misalnya, telah memiliki dalam perbendarahaannya aneka kisah tutur lisan (tutu – mari) yang didengar.

Kisah asal – usul suku, dongeng, hingga kisah sejarah yang didengar dari nenek moyong menjadi perbendaharaan yang bisa dijadikan titik berangkat. Lebih lagi karena dalam karya ini, yang ditampilkan adalah karya putera daerahnya yang sudah diwujudkan.

Singkatnya, sebuah upaya menuliskan apa yang sudah ada dalam pikiran dan bukannya sebuah imperatif untuk melakukan apa yang masih dalam angan. Jelasnya, menulis tidak bisa sukses ketika hanya didasarkan pada teori tetapi lebih pada apa yang sudah dimiliki.

Penelitian Sederhana

Proses menghasilkan sebuah karya hanya bisa terwujud ketika ada rasa penasaran atau rasa ingin tahu dalam diri para guru. Keadaan di sekitar akan menadi bahan menarik ketika sang pencari (guru) punya kerinduan untuk mengembangkannya lebih jauh.

Kenyataan, rasa tertarik pada hal di sekitar terkendala karena guru yang menulis telah lahir dalam kondisi itu. Bila tidak ada otokritik diri yang cukup maka apa yang ada dianggap lazim dan diterima sebagai sebuah kebenaran.

Terhadap hal ini maka semangat membaca merupakan hal yang sangat penting. Guru mestinya terdorong untuk dapat membaca buku (selain buku pelajaran). Hal itu mestinya tidak menjadi kendala berarti. Tidak sedikit guru, terutama yang telah menerima sertifikasi guru, menerima uang yang tidak sedikit.

Sayangnya, dana yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme guru itu nyaris dialokasikan untuk menambah pengetahuan guru. Sisi konsumtif lebih diberi ruang sementara profesionalisme yang harusnya jadi tujuan peruntukkan nyaris mendapatkan perhatian.

Singkatnya, dengan membaca, guru punya pengalaman pembanding dari daerah lain. Di sana tidak sedikit orang menuliskan pengalamannya yang bisa jadi inspirasi. Dari sana, guru akan terpacu untuk dapat menguliskan pengalamannya juga, dan siapa tahu dapat dikelola secara ilmiah untuk jadi sebuah tulisan.

Kesadaran inilah yang akan menjadi titik berangkat dalam latihan menulis. Thomas B. Ataladjar, penulis tidak sedikit buku sejarah di Indonesia (antara lain: Tokoh Merah, Sejarah Jakarta dan Si Jagur) akan menggunakan pendekatan ini dalam latihan menulis.

Kenyataan yang sama akan menjadi sharing dari Domi Unaradjan, M.M. Mantan Dekan FIA Atmajaya akan menghadirkan pemikiran tentang penelitian sederhana, bertolak dari pengalaman membimbing dan mendampingi guru di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai alumni SMP Tanjung Kelapa, Unaradjan ingin mendedikasikan waktunya untuk mendampingi guru-gurunya yang pernah mengajarnya menulis, sehingga mereka pun dapat menulis secara profesional.

Guru, Melawan Otak

Next Story »

Ekowisata, Pariwisata Flores Kian Menjadi Besar

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *