Gunung Batutara Masih Berstatus Normal

Petrus Tupen Taran, petugas pemantau Ile Lewotolok di ruang pemantauan. (Foto : FBC/Yogi Making)

Petrus Tupen Taran, petugas pemantau Ile Lewotolok di ruang pemantauan. (Foto : FBC/Yogi Making)

LEWOLEBA, FBC-Kendati terus memuntahkan material pijar dalam waktu 20 sampai 30 menit sekali, namun pantauan visual petugas Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, gunung di pulau komba, Kabupaten Lembata itu masih berstatus normal.

Hal ini di jelaskan petugas Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Petrus Tupen Taran di kantor Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunungapi, Gunung Ile Lewotolok, desa Laranwutun, Senin (8/6/2015).

Dikatakannya, pantauan terhadap gunung Batutara hanya di lakukan secara visual karena di pulau Komba tidak di tempatkan alat pemantau gunung.

“Untuk sementara berdasarkan pantauan kami dari desa Bungamuda, status gunung Batutara normal dengan tinggi asap 200 meter dari atas puncak, dengan asap tebal berwarna kelabu. Sifat letusannya strombolian, memang terlihat aktif namun durasi muntahan material pijar dalam 20 sampai 30 menit sekali, kondisi sekarang tidak seperti di tahun 2007, dimana durasi letusan 5 menit sekali,” jelas Tupen Taran.

Ditanya mengenai alasan tidak ditempatkan seismometer alat pemantau gunung, Tupen menjelaskan, tujuan utama dalam penempatan alat pemantau adalah untuk keselamatan penduduk. Terhadap gunung yang terletak di pulau tak berpenghuni seperti gunung batutara, pemantauan dilakukan untuk keselamatan transportasi laut dan udara.

Menurutnya, jika Batutara menunjukan peningkatan aktivitas, rekomendasi petugas diarahkan untuk jalur penerbangan dan pelayaran melalui pulau komba sedapat mungkin dihindari.

“Dulu pernah terpasang alat seismometer disana (pulau komba) tetapi getaran ombak yang kuat membuat petugas tidak bisa bedakan mana itu getaran yang ditimbulkan oleh aktifas gunung atau getaran akibat hempasan gelombang pada tebing,” jelasnya lagi.

Sementara mengenai sejarah erupsi Batutara, petugas yang mengaku selalu memantau setiap 1 kali dalam seminggu itu menjelaskan, Batutara tercatat pertama kali meletus pada 6 Oktober 1849, tujuh bulan kemudian atau tepatnya di tanggal 23 Mei 1850 Batutara kembali memuntahkan material pijar. 2 Agustus 1850, juga 1852 sampai 1888 di kisahkan sebagai letusan terdasyat yang menyebabkan dinding kawah sebelah timur hancur.

Data Pos Pengamatan Gunung Ile Lewotolok menyebutkan, meski tahun 1888 sampai 1932 Batutara meletus namun tidak menimbulkan guncangan separah periode sebelumnya, gunung yang berjarak 48 Km dari pulau Lembata itu baru kembali meletus pada 18 Maret 2007.

“Iya, sejak 2007 sampai sekarang gunung batutara terus aktif. Perlu juga saya jelaskan kendati sudah saya jelaskan bahwa status batutara normal, tetapi bisa berubah sewaktu-waktu,” pungkas Tupen Taran. (Yogi Making)

Baliho Bertebaran, 11 Bakal Calon Bupati Siap Bertarung di Pilkada Manggarai

Next Story »

Romo Wili : Selama Masih Ada Kemunafikan, Keadilan Tak Pernah Datang

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *