FP2L: Desak Bongkar Kasus Laurens Wadu, Bukan Upaya Menjatuhkan Bupati Lembata

LEWOLEBA, FBC- Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L) menegaskan kalau tekanan kepada pihak polisi untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan mantan kepala dinas perhubungan, informasi dan komunikasi, Aloysius Laurentius Wadu bukanlah sebuah skenario untuk menjatuhkan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, karenanya FP2L menghimbau Bupati untuk tidak menebar isu dan membuat pernyataan yang bersifat provokatif.

Konfresi Pers FP2L di aula Damian Lewoleba, tampak dalam gambar Bernadus Sesa Manuk, Pater Vande Raring, Koordinator KPK2, Pater Michael Pruhe OFM, Romo Frans Amanue Pr dan Silvester Singa Wutun. (foto FBC/Yogi Making)

Konfresi Pers FP2L di aula Damian Lewoleba, tampak dalam gambar Bernadus Sesa Manuk, Pater Vande Raring, Koordinator KPK2, Pater Michael Pruhe OFM, Romo Frans Amanue Pr dan Silvester Singa Wutun. (foto FBC/Yogi Making)

Himbauan FP2L yang disampaikan saat menggelar konfrensi pers, Selasa (23/6/2015) di aula Damian, Lewoleba itu guna menanggapi Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur.

Sebagai gambaran, Harian Umum Pos Kupang edisi Senin 22 Juni 2015, merilis berita soal Eliaser Yentji Sunur geram lantaran ada oknum yang berupaya melengserkan dirinya dari jabatan selaku Bupati Lembata dengan cara membuat skenario bahwa drama pembunuhan Laurens Wadu berlangsung di Rumah Jabatan Bupati (RJB) Lembata.

Pos Kupang menulis, skenario itu terus menyudutkan dan menuding Bupati Lembata terlibat dalam kasus itu. bahkan Bupati juga merasa kalau ada upaya menggalang kekuatan massa untuk menyerang rumah jabatan yang ditempatinya selama ini.

Terkait pernyataan itu, salah satu pentolan FP2L Pastor Vande Raring, SVD dalam konfresi pers yang juga dihadiri oleh Koordinator Koalisi Perdamaian Keadilan dan Kebenaran (KPK2) Jakarta, Pastor Michael Pruhe OFM itu, menilai pernyataan bernada provokatif itu disampaikan Bupati Lembata untuk menutupi rasa ketakutannya.

Menurutnya, desakan FP2L baik melalui aksi unjuk rasa maupun melalui berita media massa adalah upaya untuk membuat terang peristiwa pidana pembunuhan Laurens Wadu.

Menurutnya, dugaan RJB sebagai TKP pembunuhan Laurens Wadu, bukanlah sebuah isu melainkan keterangan saksi yang disampaikan ke hadapan penyidik.

“Justru pernyataan Bupati soal ada upaya menggalang kekuatan massa untuk menyerang rumah jabatan bupati itulah yang disebut sebagai isu. Kita menduga, pernyataan itu disampaikan untuk menutupi rasa ketakutan dari Bupati Lembata. Dan kami menghimbau agar Bupati jangan membuat pernyataan yang bernada provokatif,” kata pastor yang dikenal sebagai pejuang kemanusiaan itu.

Senada dengan Vande Raring, Bernardus Sesa Manuk salah satu tokoh Lembata yang terlibat aktif dalam mengadvokasi berbagai persoalan hukum di Lembata bersama FP2L, dalam konfrensi pers tersebut mengatakan, masyarakat terus menguatkan dugaan kalau RJB sebagai TKP pembunuhan karena beberapa alasan.

Sesa mengurai, Terpidana Marsel Welan, Arifin Maran dan Nani Ruing di hadapan sidang Pengadilan Negeri Lembata pernah menyebut lima nama lain yang diduga sebagai orang yang ikut menghabisi nyawa Laurens Wadu. Malam harinya setelah sidang, Marsel Cs dijemput polisi dari Rutan Lembata guna melakukan penyidikan lanjutan. Dalam penyidikan di ruang sidik Polres Lembata, Marsel merubah keterangannya dengan mengatakan kalau nama-nama yang disebut dalam sidang pengadilan itu ia dapat dari mimpi. Dan anehnya, pemeriksaan penyidik polisi yang direkam dengan menggunakan kamera itu dibawa seorang polisi untuk ditonton bersama Bupati Lembata di RJB.

Dugaan masyarakat juga kian menguat kala Surva Uran mengaku pernah menonton sebuah film pendek dari HP Irwan Paokuma yang adalah seorang penjaga rusa di RJB. Film pendek itu menurut Surva diduga sebagai drama pembunuhan Laurens Wadu di sebuah tempat yang diyakini Surva sebagai ruang belakang RJB.

Selain itu, adanya informasi mobil merah yang dilihat Romo Yeremias Rianghepat, Pr, terpakir di halaman Dekenat Lembata, juga adanya pengakuan Surva Uran kepada Tokoh Lembata Petrus Boliona Keraf bahwa setelah membeber berita terkait video pembunuhan, dirinya terus di dekati oleh oknum tertentu sebagai orang suruhan Bupati Lembata guna menawarkan sejumlah jabatan.

“Tawaran-tawaran itu datang bertepatan dengan Surva memberi kesaksian terkait film pendek ke penyidik Polres Lembata, untuk apa itu? Hal-hal inilah membuat masyarakat semakin menguatkan dugaan kalau RJB sebagai TKP Pembunuhan Laurens Wadu,” beber Sesa Manuk.

Seperti disaksikan, konfrensi pers ini dihadiri juga oleh Koordinator FP2L Alex Murin dan Sekertarisnya Ali Kedang, juga beberapa orang anggota FP2L masing-masing, Romo Frans Amanue Pr, dan Silvester Singa Wutun. (Yogi Making)

Pemprov NTT Perjuangkan Ben Mboy Dimakamkan di NTT

Next Story »

Pelabuhan Larantuka Rusak Berat, Syahbandar Hanya Diam

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *