Firdaus yang Terancam – Menelaah Tradisi Secara Ilmiah

Oleh : Yoseph Bruno Dasion SVD

Menarik sekali membaca artikel Yogi Making dalam Flores Bangkit.Com yang berjudul “Lewolein, Firdaus Yang Kembali.” Ternyata Lembata kaya dengan aset budaya penangkapan ikan, selain Lamalera dengan penangkapan ikan paus tradisionalnya yang telah terkenal di seluruh dunia.

Yoseph Bruno Dasion SVD, Misonaris. Tinggal di Jepang

Yoseph Bruno Dasion SVD, Misonaris. Tinggal di Jepang

Seluruh anggota masyarakat budaya Lewolein yang terporos pada 3 suku Paliwala tentunya harus bangkit bersama mengemas tradisi kultural ini menjadi sebuah aset pariwisata yang terbuka bagi dunia luas. Inilah kesempatan membangun otonomi desa yang benar-benar mandiri, tanpa harus menunggu campurtangan pemerintah kecamatan atau kabupaten.

Yogi Making sudah menulis, kurang-lebih, lengkap tentang pemahaman masyarakat Lewolein atas tradisi ini, yang pada prinsipnya masih menekankan pemahaman mitis-magisnya, sebagaimana halnya terjadi dengan pemahaman sebagian besar tradisi kebudayaan di hampir semua wilayah di Lembata.

Saya tidak bermaksud menyepelehkan model pemahaman ini, karena penting juga menjaga aspek mitis-magis dari setiap budaya, yang selalu berperan memberikan pendidikan mental-spiritual (moral dan agama) bagi manusia, agar selalu menjaga hubungan yang harmonis, baik secara horizontal dengan manusia dan alam sekitar, maupun secara vertikal dengan Yang Maha Kuasa dan Arwah para Leluhur.

Tanpa maksud untuk menggurui saudara dan saudari saya di kampung Lewolein, Desa Dikesare, saya menulis untuk membantu kita semua untuk coba melihat fenomena kehadiran rombongan ikan tembang ini dalam kacamata yang lebih ilmiah. Benar, seperti apa yang dikatakan oleh pemangku adat kampung Lewolein, bahwa ikan-ikan itu adalah rezeki atau berkat yang dikirim oleh Lera wulan tanah ekan dan ama opo koda kewokot. Tetapi yang patut kita pertanyakan bersama, apakah kehadiran ikan-ikan tembang ini, semata-mata hanya untuk ditangkap dan dikonsumsi, ataukah ada tujuan lain yang harus kita simak dengan akal yang lebih sehat.

Kehadiran ikan-ikan dalam kelompok besar seperti ini tidak hanya menjadi sebuah keajaiban unik di kampung Lewolein, Lembata, tetapi adalah bagian dari peristiwa alam yang juga selalu terjadi di tempat lain di dunia. Laut di teluk Lewolein dengan keadaan laut dan arus yang tenang boleh dilihat sebagai sebuah kondisi terbaik yang memungkinan peristiwa alam ini terjadi.

Kehadiran ikan-ikan laut dalam romobongan yang besar ini biasanya berhubungan dengan musim kawin dan bertelur(akitivitas reproduksi). Ikan-ikan laut seperti salmon, ikan terbang, cumi(juga penyu yang bertelur di pantai berpasir) dan beberapa jenis lainnya, selalu bertelur pada peraian teluk yang dangkal atau juga sungai dengan kondisi aliran air laut/sungai dan arus yang tenang. Menurut analisa ilmiah, hal ini untuk menghidari telur-telur ikan dari sergapan ikan-ikan besar yang memangsai telur-telur tersebut.

Ikan Salmon

Foto 1 : Ikan Salmon

Di Jepang, saya sendiri pernah menyaksikan sendiri bagaimana rombongan besar ikan-ikan salmon, yang selalu hidup di laut lepas, pada musim bertelur berenang masuk ke sungai untuk bertelur(lihat foto 1). Dan juga menyaksikan rombongan besar sejenis cumi-cumi( disebut Cumi Kunang-Kunang, karena di malam hari bercahaya seperti kunang-kunang) bertelur di pantai teluk Toyama, di pulau Honshu(foto 2).

Bagi orang-orang Hokkaido dan Toyama, kehadiran ikan-ikan salmon dan cumi kunang-kunang pada musim bertelur juga diterima sebagai berkat alam bagi mereka. Olehnya, mereka juga menangkap dan mengumpulkan ikan dan cumi ini untuk dikonsumsi. Tetapi ada aturannya. Yakni, manusia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam sungai atau laut. Hal ini untuk menjaga supaya telur-telur ikan atau cumi yang ditelurkan di antara rumput-rumput laut atau di dalam pasir dan di antara batu-batu karang tidak dirusakkan oleh injakan kaki-kaki manusia.

Biasanya ikan salmon atau cumi akan mati secara alamiah setelah bertelur, sehingga manusia bisa mengumpulkannya segera sesudah mereka bertelur. Jadi, biasanya, orang-orang Jepang tidak akan segera menangkap setelah melihat ikan-ikan atau cumi itu datang, tetapi membiarkannya untuk bertelur dalam suasana yang tenang dan bebas beberapa hari tanpa mengganggunya dengan berbagai kegaduhan buatan manusia.

Gambaran tentang peristiwa alam dan sikap manusia dalam menyikapinya perlu juga dipikirkan oleh saudara dan saudari kita di kampung Lewolein, Lembata terhadap kehadiran romobongan ikan tembang di teluk pantainya.

Foto 2 : Cumi-cumi

Foto 2 : Cumi-cumi

Saudara dan saudari kita di kampung Lewolein sudah memiliki kesadaran untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam tempat mereka ada dan hidup. Kebijaksanaan hidup patut kita syukuri dan acungi jempol. Namun berjalan masuk ke dalam laut untuk menangkap ikan-ikan tembang adalah satu tindakan yang bisa menyebabkan hancurnya telur-telur ikan yang boleh jadi telah ditelurkan di dalam pasir atau rumput laut dan batu-batu karang di teluk yang damai ini.

Perlu adaanya penelitian atau pengamatan ilmiah untuk memastikan tujuan sebenarnya dari kehadiran ikan-ikan tembang yang unik ini. Peraian teluk sedamai dan seaman teluk Lewolein selalu menjadi rahim yang aman bagi ikan-ikan tembang dan ikan-ikan lainnya untuk bertelur, menetas dan membesarkan anak-anaknya. Dari teluk Lewolein yang seindah Firdaus itu ikan-ikan akan lahir dan bertumbuh sebelum merenangi lautan seputar pulau Lembata, termasuk teluk Lewoleba yang terkenal kaya dengan ikan-ikannya itu.

Kita perlu berhati-hati supaya tidak melakukan kesalahan dengan merusak Firdaus dengan ketidaktahuan kita sendiri.

Salam Manis ke Lewolein.

Desa Memanggil Kaum Muda

Next Story »

UU Guru, Dosen dan Guru Non Sarjana

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *