Ekowisata, Pariwisata Flores Kian Menjadi Besar

Citra keasliaan Pantai Koka di Kabupaten Sikka. (Foto : FBC/Nando Watu)

Citra keasliaan Pantai Koka di Kabupaten Sikka. (Foto : FBC/Nando Watu)

Oleh : Nando Watu

Pulau Flores nama yang resmi digunakan pada tahun 1544 oleh S.M. Cabot, pelaut dari semenanjung Iberia, Portugis ini memiliki landscape yang unik, dari segi geologi, dan memiliki kondisi yang kompleks karena terbentuk dari kegiatan vulkanis.

Pulau yang terbentuk dari busur magmatik dengan 13 gunung berapi yang masih aktif (ring of fire) ini memiliki kekayaan flora fauna endemik yang masih alami. Daya eksotik nusa bunga (nama lain pulau Flores) telah menjadikannya sebagai peraih predikat the most unique of Destination di ajang Indonesia Toursim Award pada tahun 2010.

Sebelumnya tahun 2005 TIME mengakui sebagai Destinasi Eksotik terbaik, kemudaian tahun 2008 Luxury Travel Megazine menganugerahinya sebagai Pulau wisata Terbaik, dan oleh CEI Asia Megazine (2009) Flores dijuluki Pulau Tujuan Wisata Terbaik di Asia Pasifik.

Wartawan FBC dan Alumnus Sustainable Tourism Miami Dade College-Florida USA

Wartawan FBC dan Alumnus Sustainable Tourism Miami Dade College-Florida USA

Pada 11 November tahun 2011, Komodo ditetapkan UNESCO sebagai salah satu dari New Seven Wonders Of Nature. Selain itu, Mbaru Niang, rumah kerucut suku Manggarai yang berada di desa Wae Rebo, Flores, berhasil mendapatkan penghargaan UNESCO Asia-Pacific Awards tahun 2012 mengalahkan 42 kandidat lainnya dari 11 negara di Asia Pasifik.

Di Australia nama Flores menjadi tidak asing lagi untuk wisatawan yang suka berlibur ke Indonesia. Akhir Februari kemarin, The Age, salah satu surat kabar ternama Australia bahkan menyebut pariwisata Flores sebagai “the next big thing” (sesuatu yang besar ke depannya).

Sementara itu, Team Flicker, seorang wisatawan Australia yang baru saja kembali dari Flores menulis di majalah Ozip Australia, edisi April 2014, “Flores is an amazing island full of astonishing natural beauty and some amazing people”(Flores adalah pulau yang menakjubkan penuh dengan keindahan natural dan orang-orang yang menyenangkan).

Lonely Planet memasukan Flores dan Komodo sebagai Best Travel in 2015, serta satu satunya destinasi di Indonesia yang masuk dalam 2014 Sustainable Destination Global Top 100.

Berbagai peghargaan ini tentu membawa kebangan tersendiri, namun tidak bisa disangkal di balik prestasi masih terbentang berbagai persoalan yang diakibatkan oleh aktivitas pariwisata. Penjulan pulau di beberapa lokasi di Labuna Bajo, konflik privatisasi pantai pede semaraknya aksi penjualan tanah, tergusurnya masayrakat lokal akibat meningkatnya pembangunan areal pariwisata, adalah rentetan persoalan yang perlu disikapi bersama.

Dengan dasar pertimbangan karaktersitik geografis, keunggulan budaya, warisan historis, autentik dan eksotik alam dan potensi laut, keramahtamahan penduduk lokal maka pariwisata Flores perlu didesign dalam suatu konsep yang integral dan terintergrasi, yang memberikan kenyamaan bagi wisatawan di satu sisi dan juga membawa keuntungan bagi masyarakta lokal dan profit bagi pelaku pelaku wisata sembari tetap menjaga kelesatarian alam dan budaya.

Asal usul Eco-Tourism (eko wisata)

Istilah “ekowisata” atau “eco-tourism” adalah topik yang cukup banyak diperdebatkan, pada umumnya para ahli sepakat bahwa eco-tourism itu lahir di Yucatán Peninsula Meksiko. Ceballos-Lascurain dikatakan telah mempopulerkan istilah ekowisata saat Pronatura sedang melobi untuk konservasi lahan basah di bagian utara Yucatán sebagai lokus berkembang biaknya Flamingo Amerika pada musim panas 1983. Dia kemudian dikenal juga sebagai bapak dari “ekowisata”.

Ceballos-Lascurain sudah yakin bahwa pariwisata bisa memainkan peran penting dalam meningkatkan ekonomi pedesaan lokal, menciptakan lapangan kerja baru dan melestarikan ekologi daerah, dan mulai menggunakan kata “ekowisata” untuk menggambarkan fenomena ini.

Satu ahli lainnya mengklaim istilah itu sudah digunakan sebelumnya, Dr. Claus-Dieter (Nick) Hetzer, seorang pendiri akademik dan petualang dari Forum Internasional di Berkeley, CA, dan salah satu pencetus dari ““environ-mentally-conscious” sudah menggunakan terminology Ecotorism pada tahun 1965 ketika ia berlari pertama di Yucatán pada awal 1970-an

Selanjutnya, “definisi yang diterima” ekowisata bervariasi tergantung pada stakeholder, untuk lingkungan, kelompok kepentingan khusus, dan pemerintah mendefinisikan ekowisata berbeda.

Para pegiat lingkungan umumnya menekankan bahwa ekowisata harus berbasis alam, yang dikelola secara lestari, mendukung konservasi dan pendidikan lingkungan. Lebih lanjut, banyak istilah yang digunakan di bawah rubrik ekowisata. Wisata alam (Nature tourism) wisata dampak rendah (low impact tourism,) wisata hijau (green tourism), bio-tourism, pariwisata ekologis bertanggung jawab (ecologically responsible tourism), wisata hutan (jungle tourism), green travel, petualangan (adventure travel), wisata liar (wild life tourism).

Pada tahun 1990, the International Ecotourism Society (TIES), organisasi ekowisata pertama di dunia, menciptakan apa yang telah menjadi definisi yang paling populer dan ringkas, ekowisata: “perjalanan bertanggung jawab ke suatu daerah dengan mengedepankan alam pelestarian alam dan lingkungan, meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat.

Ekowisata tidak memiliki definisi universal, ada unsur-unsur umum dalam konsep yang melekat bahwa setiap orang tampaknya setuju, sebagaimana ditentukan oleh TIES, yaitu: (1) “meminimalkan dampak”; (2) “membangun kesadaran lingkungan dan budaya dan rasa hormat”; (3) “memberikan pengalaman positif untuk pengunjung dan tamu”; (4) “memberikan manfaat dan keutungan secara langsung untuk konservasi alam dan lingkungan setempat”; (5) “memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat lokal”; dan (6) “respect yang tinggi dari pengunjung terhadap tata aturan, politik, dan iklim lingkungan social di Negara yang menjdai destinasi kunjugannya ‘.” Dan yang ketujuh, (7)”Mendukung perjuangan hak asasi manusia dan gerakan demokrasi.” Ini tujuh poin penting membentuk definisi kerja ekowisata bagi banyak risalah tentang ekowisata.

Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan atau dalam dunia internasional disebut sebagai Sustainable Development didefinisikan sebagai pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan masa depan secara sinambung untuk memenuhi kebutuhan generasi penerusnya.

Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan World Wide Fund for Natuter (WWF) pada tahun 1980. Selanjutnya konsep Pembangunan Berkelanjutan dipopulerkan melalui laporan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commssion on Enviroment and Development, WECD) dengan judul “Our Common Future” (Hari Depan Kita Bersama) yang diterbitkan pada tahun 1987.

Laporan ini mendefinisikan bahwa Pembangunan Berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi generasi mendatang untuk memenuhi generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Upaya masyarakat internasional untuk penyelamatan lingkungan melalui KTT Bumi, yang dikenal dengan Wold Summit on Sustainable Development di Johanesburg, Afrika Selatan (2002) telah merumuskan deklarasi politik pembangunan berkelanjutan dengan agenda bahasan dokumen berisi program aksi (the programe of action) dan deklarasi politik (the political declaration) tentang pembangunan berkelanjutan yang merupakan pernyataan kelanjutan dukungan terhadap tujuan agenda 21.

Agenda 21 berisi kesepakatan mengenai program pembangunan berkelanjutan, yang harus ditinjaklanjuti oleh negara-negara peserta konferensi Rio de Janeiro tahun 1992. (Bersambung)

Guru yang Menulis?

Next Story »

Wisata Flores Jadi Besar, Apa yang Mesti Dilakukan?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *