Bagian Pertama dari Dua Artikel

Drama Politik Wakil Rakyat

Oleh : Anselmus Baru

ADALAH Marselinus Nagus Ahang, atau dikenal dengan sapaan Marsel Ahang, dan Simprosia R. Gandut atau yang lebih dikenal dengan sapaan Osy Gandut, dua politisi muda yang duduk sebagai Wakil Rakyat (DPRD) di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, “mementaskan” drama yang melukiskan realita politik anggota dewan terhormat. Mereka juga merupakan aktor utama yang mengawali pentas drama politik itu, di tengah riuh gemuruh Pemilukada Manggarai.

Anselmus Baru , Alumnus FFA UNWIRA Kupang dan Universidad de San Buenaventura, Bogotá, Colombia. Tinggal di Caracas, Venezuela

Anselmus Baru , Alumnus FFA UNWIRA Kupang dan Universidad de San Buenaventura, Bogotá, Colombia. Tinggal di Caracas, Venezuela

Publik pun terhipnotis untuk menyaksikan drama yang dipentaskan itu. Yah, drama mereka sedikit berbeda dengan drama yang sedang dipertontonkan oleh sebelas (11) pasang bakal calon kontestan Pemilukada Manggarai. Berbeda karena memang para kontestan itu masih berjuang terseok-seok mencari simpati publik dan partai politik, sedangkan Ahang dan Gandut, membangun drama dari ruang rumah wakil Rakyat (DPRD Manggarai).

Entah apa yang memantik Ahang membuka sebuah babak drama politik itu. Ia melaporkan Gandut yang adalah wakil ketua DPRD Manggarai ke kepololisian, karena diduga Gandut berada dan bermain dalam pusaran mafia anggaran dengan ‘mengkapling’ belasan paket proyek di beberapa instansi pemerintah dan lebih dominan di Dinas PU Manggarai, tahun anggaran 2015 (Sidus Madi, FBC 29/05/2015).

Publik pun terkejut, seakan para wakil rakyat yang terhormat itu adalah kerumunan atau sarangnya mafia, baik itu mafia anggaran, proyek ataupun mafia politik. Semuanya bercampur baur di sana. Jika benar demikian, publik pun patut bertanya, DPR itu mewakili siapa? Yang jelas hanya mereka yang duduk di rumah rakyat itu yang tau.

Bagi publik, satu pesan yang terekam jelas, antara janji manis sebelum menjadi wakil rakyat (saat ber-kampnye) untuk menjadi wakil rakyat, dengan realitas setelah wakilnya itu duduk sebagai anggota dewan adalah dua realitas yang berbeda. Jauh panggang dari api. Dan ini juga menyisahkan tanda tanya, ada apa dengan wakil rakyat yang terhormat itu?

Drama Politik

Melihat aksi Ahang dan Gandut, seorang teman saya melalui pesan di media sosial berseloroh, ah!!!.. itu hanya drama politik anggota dewan, ujung-ujungnya juga nanti kabur. Sangat telak! Kesan yang ditampilkan adalah sebuah drama, drama politik. Maka, tak salah juga kalau saya berani menempatkan aksi dan inter-aksi kedua tokoh ini dalam teori ‘dramaturgi’nya Erving Goffman, yang diulasnya secara tuntas dalam karyanya “The Presentation of Self in Everyday Life” (1956).

Menjadi kata kunci dalam teori Goffman adalah interaksi sosial individu-individu itu dilihat sebagai interaksi dramatik. Karena itu, ‘dramaturgi’ adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia. Setiap orang bisa memilih sendiri peran yang akan dilakoninya.

Goffman membagi peran dalam drama itu atas dua bagian, yakni bagian depan (front stage) dan bagian belakang (back stage). Bagian depan atau front mencakup: setting, personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri). Adalah wilayah di mana sang aktor berhadap-hadapan dengan publik atau audience. Di sini kemampuan manipulasi dari aktor itu sangat penting agar menimbulkan good impression atau kesan yang baik dari publik.

Apa yang terjadi pada bagian depan, bukanlah sebuah kebetulan, tapi sesuatu yang sudah dirancang, diolah dan dipoles di panggung belakang. Bagian belakang atau back stage adalah the self, yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberlangsungan dan keberhasilan akting atau penampilan diri di hadapan publik atau audience.

Ini berarti Goffman membagi kehidupan atau drama itu ke dalam dua bagian penting, yaitu yang kelihatan dan yang tak kelihatan oleh publik. Banyak orang akan terkesan dengan tampilan atau acting seseorang, tapi seringkali publik atau audience tidak memahami atau mengerti apa dan bagaimana seorang aktor saat berada di panggung belakang. Oleh karena itu, yang berada di front stage, seringkali adalah hasil ‘manipulasi’ dari aktor dan berusaha mendapatkan good impression, kesan yang baik dari publik atau audience.

Lalu, bagaimana dengan aksi Ahang, adakah good impression yang dibangun dari aksinya itu? Publik sendiri tidak memahami bagaimana realitas politik wakil rakyat kita yang menjadi realitas di panggung belakang (back stage). Tapi aksi Ahang yang muncul ke panggung depan, sepintas menampilkan ke-heroikan seorang wakil rakyat. Aksipun memantik reaksi publik. Bahkan ada publik yang bercelutuk, ini baru wakil rakyat!

Ternyata, aksinya yang memancing reaksi publik itu belum terlalu dijiwai oleh Ahang. Ia tidak mengatur baik aktingnya. Bisa jadi karena Ahang tidak menyiapkan baik back stagenya. Atau juga mungkin Ahang terlalu over-acting, sehingga actingnya yang heroik berubah menjadi sebuah adegan tebar pesona, lalu kemudian diam membisu. Ini berarti secara dramaturgi, Ahang tak tuntas atau bahkan bisa dikatakan gagal menampilkan dirinya di panggung depan.

Ia gagal membangun good impression, citra diri sebagai wakil rakyat yang merakyat. Atau mungkin, Ahang terlalu lugu dan polos dalam membangun aksi. Terlalu terburu-buru untuk mempertontonkannya di hadapan publik. Mestinya Ahang berguru dulu pada Goffman agar bisa bermain cantik, pandai ‘memanipulasi’ kesan, agar targetnya tercapai.

Berbeda dengan Ahang, Gandut memilih lebih ber-akting di panggung belakang. Strategi yang dibangunya melalui komunikasi dengan Badan Kehormatan (BK) DPRD Manggarai, memberikan good impression, bahwa Gandut memang politisi berkelas yang tahu permainan yang cantik dan mekanisme internal lembaga itu. Lebih apik lagi dan sedikit garang, Gandut langsung tampil dengan memotong aksi Ahang dengan daya tawar politis. Al hasil, Gandut melapor Ahang ke BK karena telah mencermarkan nama baiknya. BK pun memanggil Ahang.

Gandut bahkan melalui surat bantahan dan somasi terbuka yang dibuat penasehat hukumnya Erlan Yusran dan Toding Manggasa menyebutkan akan melapor balik Ahang ke Polres Manggarai jika tidak menarik kembali laporannya. Selain membuat surat bantahan dan somasi terbuka kepada Ahang, penasehat hukum Erlan Yusran atas nama kliennya Osy Gandut juga melapor Ahang ke BK DPRD Manggarai dengan alasan perbuatan Ahang tidak prosedural, dan tendensius mencemarkan nama baik kliennya Osy Gandut (Sidus Madi, FBC 29/05/2015)

Gandut memang cerdik, bisa jadi ia murid setianya Goffman. Ia tampil ke panggung depan, hanya sekejap. Tapi langsung menarik perhatian publik. Dan ia pun langsung memotong aksi Ahang. Gandut bukan hanya memberi kesan good impression sebagai politisi yang berkelas, tapi juga menampilkan ke publik tentang politik prosedural di rumah wakil rakyat itu, di mana peran BK itu menjadi sentral dalam memecahkan masalah internal.

Tapi jangan dulu terkecoh, meski Gandut tampil apik, Ahang, dalam aksinya yang sempat menyedot perhatian publik, sudah terlanjur me-narasikan, siapa sebenarnya figur seorang Gandut. Dalam pengaduan Ahang, Gandut diduga bermain dengan proyek-proyek di beberapa instansi. Ahang cukup berani, karena sedikit merombak teori Goffman, iya berani keluar dan menarasikan yang di back stage tentang peran figur lain.

Membedah Drama

Dari drama yang dilakoni Ahang dan Gandut. Terlepas dari menarik tidaknya mereka melakonkan perannya, ada kesan yang di tangkap oleh audience (publik manggarai) bahwa ada yang tak elok dengan wakil rakyat kita. Di tengah kecurigaan publik akan ketakelokan tingkah wakil rakyat, Ahang tampil sebagai sebuah tokoh super hero, yang ingin menelanjangi ke hadapan publik tingkah dari rekannya, Osy Gandut. Yah, Ahang adalah aktor utama dari drama politik itu.

Lakon yang dipertontonkan Ahang, tidak main-main. Panggung drama politik pun menjadi tegang. Publik pun terlarut, sehingga muncul harapan bahwa Ahang ingin membersihkan Rumah Wakil Rakyat itu dari sebuah politik kotor yang menggerogot para penghuninya yang terhormat itu. Ahang seakan tampil sebagai aktor yang ingin menjadikan rumah wakil rakyat itu sebagai rumah rakyat yang adem, rumah di mana kepentingan rakyat itulah yang menjadi tontotan dalam sebuah keheroikan wakil rakyat.

Keheroikan Ahang, memantik reaksi sGandut. Gandut tampil ke hadapan publik. Ia membangun sebuah adegan yang juga mempertontonkan keheroikan versinya. Alhasil, panggung politik makin seru. Pertarungan dua super hero atas nama sebuah kebenaran. Meski publik pun harus kritis, kebenarana itu versi siapa dan untuk siapa. Yah, mereka super hero karena pada galibnya mereka yang adalah wakil rakyat yang terhormat itu selalu memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Adakah kesejahteraan Rakyat menjadi perjuangan Ahang dan Gandut dalam drama politik itu? Yang jelas hanya kedua politisi ini yang tahu.

Langkah Ahang, sepertinya tak elok bagi Gandut, karena menjatuhkan ketokohannya sebagai wakil rakyat yang terhormat. Gandut pun menyerang balik Ahang dengan membuat surat somasi dan melaporkan Ahang ke BK DPRD Manggarai dan menuding Ahang telah mencermarkan nama baiknya.

Setting drama politik ini pun ber-latar ganda. Baik Ahang, maupun Gandut, sama-sama mengambil dua lokasi yang sama dalam beradegan. Gandut, bermain bukan hanya dalam lingkungan DPRD melalui BK, tapi juga mengikuti langkah Ahang. Gandut bersama tim penasehat hukumnya, akan melapor balik Ahang ke Polres Manggarai jika Ahang tidak menarik kembali laporannya.

Reaksi dari internal DPRD melalui BK pun, menjadikan alur drama politik ini semakin menarik untuk ditonton, karena BK DPRD Manggarai muncul juga ke publik untuk menciut nyali Ahang. Alasannya sederhana, BK, sebagai badan kehormatan merasa dilangkahi Ahang, sebab telah melaporkan Osy Gandut ke Polisi tanpa melalui mekanisme internal DPRD.

Paling tidak, terekam juga reaksi postif atas pentas drama ini, kusunya lakon dari Ahang. Peneliti Senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPPI), Lucius Karus misalnya memberi reaksi postif dan mengapresiasi keheroikan Ahang dalam drama itu. Karus pun berujar “Saya kira ini bisa menjadi awal dari upaya mendorong transparansi dan akuntabilitas DPRD Manggarai” (Floresa.co 25/05/2015).

Di sisi lain, Ferdi Hasiman, peneliti Indonesian Today, melihat kemungkinan alur drama dan muatan pesannya sangat luas, sebagai hasil dari kosnpirasi antara legislatif dan eksekutif. Menurut Hasiman, “Praktek busuk sebagaimana dilaporkan Ahang tidak akan terjadi bila eksekutif di bawah kendali Rotok dan Deno tidak ikut bermain,” (Floresa.co, 26/5/2015).

Sampai di sini, publik seakan digiring pada ending dari drama yang mencekam itu. Sssstttt!!!! Ternyata belum tuntas. Publik pun tak beranjak. Drama masih berlanjut. Publik seakan berada dalam situasi tegang. Ada yang me-reka-reka apakah drama ini akan happy ending, tapi ada juga yang sudah mulai curiga, sehingga seorang teman saya berkata begini, wakil “Rakyat kita dari dulu itu-itu saja”. Kalau memang demikian, DPR itu pas juga diplesetkan menjadi Do Piring Ru (Banyak Untuk Piring Sendiri) katanya. Mengerikan juga kalau demikian, Do Piring Ru, menjadi wajah wakil rakyat yang koruptif. Bersambung

Komunitas “Wua Mesu” Jakarta, Tidak Sekedar Diaspora

Next Story »

Ada “Hantu” di Sekda Manggarai?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *