DKP Flotim Baru Miliki Alat Tes Formalin Tahun 2016

LARANTUKA, FBC - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Flores Timur ( Flotim ) sejak dahulu bahkan sejak didirikan tidak memiliki alat tes formalin. Hal ini tidak terpikirkan sejak dahulu karena DKP Flotim tidak mengalami kejadian adanya ikan formalin yang beredar dan dijual bebas di masyarakat. Semenjak adanya kasus ikan asal Flotim yang ditemukan berformalin di Maumere kabupaten Sikka, DKP Flotim baru menyadari perlunya ada alat tes ini.

Kepala Dinas Kelautan danPerikanan Flotim, Ir. Maria Irene Erna da Silva mengatakan hal itu kepada FBC yang menemuinya di kantornya, Jumat (19/06/2015).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur, Ir.Maria Irene Erna da Silva. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur, Ir.Maria Irene Erna da Silva. ( Foto : FBC/Ebed de Rosary )

“Memang persyaratannya DKP harus memiliki alat tes ini meski hanya sederhana (tes kit),” kata Erna.

Erna menjelaskan, sejak ada kejadian tersebut kebetulan dirinya sedang bertugas di luar daerah sehingga bisa langsung membelinya memakai uang pribadi.

“ Memang tidak terpikirkan oleh teman-teman terdahulu bahkan sejak saya datang pun belum terpikirkan soal ini. Sejak kejadian itu kita menyadari bahwa memang dinas kami harus memiliki alat tes formalin,“ ujarnya.

Anggaran untuk pembelian alat tes formalin ini sebut Erna sudah dianggarkan dan baru terealisasi di tahun 2016. Dalam usulan dari DKP Flotim, alat tes yang harus dibeli sebanyak 50 set. Tenaga untuk melakukan pengetesan lanjutnya sudah dikirim 3 orang staf DKP Flotim untuk belajar di Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM ) di Kupang.

Negatif

Hasil tes ikan formalin yang disita di kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kabupaten Sikka papar Erna, setelah diperiksa di BPOM Kupang hasilnya negatif. Erna menyesalkan hal ini, seharusnya Satpol PP Sikka tidak boleh langsung memvonis ikan yang diperiksa berformalin dan langsung mengeksposnya.

“ Kantor tersebut bukan lembaga yang berwenang memeriksa dan mempublikasikan, dia kan tidak punya laboratorium. Seharusnya barang disita, disimpan dan dijamin kondisinya tetap sama seperti saat dilakukan penyitaan, “ ujarnya.

Kalau hanya melihat perubahan warna setelah mengecek dengan alat tes formalin (tes kit) kata Erna, belum bisa dipastikan hasil tes menyimpulkan ikan tersebut berformalin. Kalau hanya melihat dengan kasat mata saja dan menyimpulkan hasil tes formalin merupakan sebuah kesalahan. Seharusnya tegas Erna, pengetesan dilakukan sebanyak 3 kali.

DKP Flotim dan para nelayan sejak adanya kasus ini menglami kerugian besar. Apakah ikan itu asal Flotim atau bukan, seharusnya dipastikan terlebih dahulu. Kalau ikan tersebut diambil di Nangahale papar Erna itu bukan ikan asal Flotim.

Dikatakan Erna, dirinya bertanggung jawab hanya sampai di perbatasan kabupaten saja, kalau sudah melewatinya itu bukan tanggung jawab DKP Flotim.

“ Beberapa bulan sejak kejadian itu, para nelayan mengalami kerugian karena ikan asal Flotim tidak ada yang beli.Akhirnya kan tidak terbukti dan para nelayan diberikan ganti rugi,“ paparnya.

Mobil pengangkut ikan untuk dijual ke kabupaten Sikka dan beberapa kabupaten lain di wilayah barat Flores sedang antri membeli ikan di TPI Amagarapati, Flotim. ( Foto : FBC/Ebed de rosary )

Mobil pengangkut ikan untuk dijual ke kabupaten Sikka dan beberapa kabupaten lain di wilayah barat Flores sedang antri membeli ikan di TPI Amagarapati, Flotim. ( Foto : FBC/Ebed de rosary )

Ke depannnya ungkap Erna, pihaknya akan membangun pos pemantau dan pengujian ikan di Boru kecamatan Wulanggitang. Dengan demikian terangnya, bila ikan tersebut sudah di tes dansampai di Sikka ditemukan mengandung formalin maka itu bukan merupakan tanggung jawab DKP Flotim lagi tetapi pemilik ikan.

Para penjual ikan pun beber Erna sejak kejadian tersebut mengantongi satu lembar surat lagi yang berisi pernyataan bahwa hasil tes menyatakan ikan tersebut bebas formalin.

Untuk diketahui, sebanyak 13 box dari 24 box ikan tembang yang mengandung formalin asal TPI Amagarapati, kelurahan Postoh kecamatan Larantuka, kabupaten Flores Timur dibawa menggunakan mobil pick up dari Larantuka jam 12 malam dan tiba diTPI Alok, Maumere jam 03.30 wita disita dan diamankan di kantor Satpol PP Sikka, Selasa ( 20/01/2015 ).

Kantor Sapol PP  kabupaten Sikka, Rabu ( 21/01/15 ) kembali dipenuhi 23 mobil pick up yang menjual ikan.Mobil – mobil yang memuat ikan aneka jenis ini selain ditangkap Satpol PP Sikka, juga digiring oleh para penjual ikan untuk diamankan di kantor Satpol PP guna diperiksa apakah ikan yang dibawanya mengandung formalin.Ikan-ikan sebanyak 203 box tersebut sejak kemarin, Selasa ( 20/01/15 ) diambil sampel oleh petugas laboratorium kesehatan dinas Kesehatan kabupaten Sikka untuk dicek apakah mengandung formalin atau tidak.

Berdasarkan keterangan dari petugas laboratorium kesehatan dinas kesehatan kabupaten Sikka, Fransiska Korina, yang ditemui FBC di kantor Satpol PP Sikka, Rabu ( 21/01/15 ), pukul 19.00 wita, dari 15 sampel ikan yang dites hanya satu sampel Gurita dari dua mobil yang negatif formalin. Sisanya ikan Tembang, Tongkol, Layang, Tuna, Loin dan Cakalang dari 21 mobil semuanya positif formalin. Ikan – ikan yang dijual tersebut selain berasal dari Larantuka, juga berasal dari TPI Alok dan Wuring. (ebd)

Pastor Vande Raring Tolak Diperiksa Penyidik Reskrim Polres Lembata

Next Story »

SMA Demon Pagong Dapat Ijin Operasional

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *