Beredar Video 'Hutan Keam Berdarah'

Di Tempat Ini Laurens Wadu Diduga Dihabisi

Polisi terus didesak untuk mengungkap tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan mantan guru aljabar SMP St. Pius X Lewoleba, Aloysius Laurentius Wadu. Kendati terlambat, namun desakan masyarakat pencari keadilan ini cukup beralasan. Mengingat, dalam pengungkapan sebuah peristiwa pidana, TKP menjadi penting untuk membantu penyidik dalam mengungkap pelaku, modus (cara) dan motif sebuah tindak pidana.

TERKAIT peristiwa pembunuhan almarhum Laurens Wadu yang terjadi dua tahun silam, banyak hal yang sejak awal kasus bergulir sudah dinilai janggal. Bahkan ragam kejanggalan itu bukan saja menimbulkan kesangsian tentang jumlah eksekutor dan motif pembunuhan namun ikut menguatkan dugaan kalau kebun korban yang terletak di seputaran hutan Keam, Lewoleba itu, bukanlah TKP sesungguhnya. Para algojo di- duga sudah menghabisi nyawa korban di tempat lain, sebelum digotong dan diletakkan di samping kamar mandi.

Tentu saja, keraguan masyarakat itu mencuat akibat ketidakmampuan polisi untuk merangkai secara utuh kronologi pembunuhan. Dan belakangan, tekanan masyarakat kepada polisi untuk mengungkap TKP pembunuhan kian mencuat. Hal itu menyusul keterangan Alex Murin sang tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Bupati Lembata di hadapan sidang Pengadilan Tinggi (PT) Kupang, bahwa kepada dirinya seseorang mengakui kalau pernah menyaksikan film pendek yang diduga sebagai adegan pembunuhan Laurens Wadu.

Kebun korban, tampak sepeda motor milik korban terpakir di depan teras pondok. (Foto: FBC/Yogi Making)

Kebun korban, tampak sepeda motor milik korban terpakir di depan teras pondok. (Foto: FBC/Yogi Making)

Kepada Alex, seseorang yang kemudian diketahui bernama Surva Uran, mengaku kalau adegan yang dia tonton dari telepon genggam (HP) milik Irwan Paokuma, sang penjaga rusa milik Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur itu terjadi di ruang belakang Rumah Jabatan Bupati (RJB) di Lembata.

Terlepas dari benar atau tidaknya RJB Lembata sebagai TKP pembunuhan, namun dalam penelusuran, FBC ini menemukan sejumlah petunjuk bahwa kebun korban sebagai TKP diduga hanyalah rekayasa para pelaku untuk mengelabui mata penegak hukum. Agar tak penasaran, berikut ulasan lengkapnya.

Posisi Korban Saat Ditemukan Beda Dengan Rekonstruksi

Posisi mayat saat ditemukan itu berbeda dengan hasil reka ulang. Dalam rekonstruksi terlihat, pelaku pembunuhan, yang kini berstatus terpidana masing-masing, Marselinus Suban Welan, Arifin Maran, Nani Ruing dan Vincen Wadu, diduga setelah mengeksekusi korban lalu ditinggal di depan kamar mandi.

Posisi mayat dalam rekonstruksi ini tentu berbeda posisi dengan waktu ditemukan. Evan Wadu, anak kandung korban, sebagai orang pertama yang menemukan jazad ayahnya kepada FBC menuturkan, Minggu, 9 Juni 2013 sekitar pukul 06.00 wita mendapati jazad ayahnya terbujur kaku disamping kanan (sisi Selatan) kamar mandi.

Bercak Merah yang Diduga Darah

Jejak lain adalah noda merah yang terlihat seperti tetesan darah. Bercak merah itu terdapat di propeler kanan dan knalpot sepeda motor milik korban. Sepeda motor Honda Revo warna putih yang disita polisi sebagai barang bukti itu, pada Minggu 9 Juni 2013 sekitar pukul 06.00 wita diketahui terpakir pada teras pondok milik korban.

Bercak merah yang diduga darah pada propeler sepeda motor milik korban (Foto: dok FBC)

Bercak merah yang diduga darah pada propeler sepeda motor milik korban (Foto: dok FBC)

Anehnya, kendati disita menjadi barang bukti namun dalam proses hukum, tidak ada satu pun keterangan baik dari saksi maupun pelaku tentang sepeda motor dalam adegan pembunuhan itu. Lebih aneh lagi, meski polisi tahu ada bercak merah yang menempel pada bagian motor, namun noda merah itu tak pernah dilakukan uji laboratorium forensic (labfor) untuk membuktikan apakah bercak yang menempel pada propeler dan knalpot motor itu adalah darah, dan sama dengan sampel darah korban, atau tidak.

Tak cuma itu, bercak berwarna merah pun ditemukan membekas pada tiang pagar gerbang masuk pondok. Tak beda dengan noda di sepeda motor, polisi juga tidak bisa mengurai, kenapa ada bercak merah yang diduga darah itu, menempel pada tiang kayu di gerbang masuk pondok. Padahal, Oa Gowing, menantu korban mengaku, foto bercak merah pada tiang pagar itu dia dapat dari anggota Polres Lembata.

Foto bercak darah yang ditemukan pada dua tempat berbeda itu, sudah disampaikan kepada Kapolda NTT (sekarang mantan) Brigjen (Pol) I Ketut Untung Yoga Ana, oleh Forum Penyelamat Lewotana Lembata (FP2L), Koalisi Penegak Keadilan dan Kebenaran (KPK2), Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras), JPIC SVD, JPIC OFM-Indonesia, Kelompok Rohaniwan dan Biarawan-Biarawati Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka, Alim Ulama Lembata, Paroki-Paroki sedekanat Lembata, dalam kunjungannya ke Lembata pada 29 Januari 2014 silam.

Kesaksian Tentang Mobil Merah

Petunjuk lain yang memperkuat dugaan kalau TKP sesungguhnya bukan di kebun korban adalah, soal kesaksian dari Romo Yeremias Rongan Riang Hepat, Pr. Dalam kesaksian sebagaimana yang pernah dirilis FBC ini mengatakan, pada Sabtu, 8 Juni 2013 atau waktu di mana para algojo mengeksekusi Laurens Wadu, dia sempat melihat sebuah mobil berwarna merah terpakir di halaman Dekanat Lembata.

Yermin ketika itu mengatakan, dia tidak mengetahui secara persis siapa pemilik mobil serta apa kepentingannya. Termasuk siapa yang menyetir dan untuk apa mobil itu terpakir di halaman rumah para imam Katolik Lembata itu. Namun, keberadaan mobil merah yang bertepatan dengan peristiwa kematian Laurens Wadu terjadi, patut untuk diselidiki. Karena bukan tidak mungkin, kalau mobil merah yang sering dia lihat terparkir di halaman RJB Lembata itu punya hubungan dengan peristiwa hutan Keam berdarah. Apalagi, jalan tempat mobil merah itu terpakir merupakan jalan yang sering dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengakses lokasi sekitar hutan Keam Lewoleba.

Keberadaan Korban Sebelum Dieksekusi

Sebagaimana dituturkan keluarga, korban pada Sabtu 8 Juni 2013 pamit untuk mengikuti arisan dengan keluarga Sabu, namun tak satu pun dari keluarga tahu, di mana dan di rumah siapa arisan keluarga Sabu itut berlangsung.

Dalam penelusuran FBC menyebutkan, korban terakhir kali sempat bertemu seorang warga desa pada Dedi da Silva pada siang hari sekitar pukul 12.00 wita sedang mengendarai sepeda motor keluar dari sebuah lorong di Desa Pada, Kecamatan Nubatukan. “Siang saat saya pulang kerja, sempat bertemu Bapa Laurens, karena lihat saya dia berhenti. Kami saling sapa, dan dia (korban) meminta saya untuk mendukung dia di Pemilu Legislatif. Tidak lama kami berbincang, beliau pamit pulang,” kata Dedi.

Lebih jauh tentang ke mana setelah perjumpaan itu, Dedi mengaku tidak tahu. Sebab ketika itu, korban hanya pamit untuk kembali ke Lewoleba. “Saya tidak tahu setelah itu dia (korban) ke mana. Tetapi saya kaget dapat informasi bahwa Bapak Lorens ditemukan meninggal dunia di kebunnya,” katanya lagi.

Manfaat TKP

Emanuel Belida Wahon, Koordinator Divisi Hukum dan HAM saat dikonfirmasi FBC Rabu (10/6/2015) lalu tentang pentingnya TKP dalam membongkar sebuah kasus pembunuhan menjelaskan, dalam ilmu forensik TKP dapat menghubungkan korban, barang bukti juga pelaku, bahkan dengan mengetahui TKP secara tepat, penyidik bisa membongkar motif dari sebuah perbuatan pidana.

Bercak merah yang diduga darah yang membekas pada tiang pagar gerbang masuk ke pondok korban.(Foto: dok, FBC)

Bercak merah yang diduga darah yang membekas pada tiang pagar gerbang masuk ke pondok korban.(Foto: dok, FBC)

“Dan untuk membuat terang sebuah perbuatan pidana, TKP harus bisa dibuktikan secara ilmiah yakni dilakukan dengan uji forensik. Termasuk pemeriksaan barang bukti melalui uji laboratorium. Tetapi untuk kasus Laurens Wadu, pembuktian ilmiah sulit dilakukan, karena jejak perbuatan pidana bisa dikatakan sudah hilang. Tetapi harus diingat dari TKP juga bisa di ketahui motif dan siapa pelakunya,” jelas pria yang akrab di sapa Nades Wahon itu.

Sementara terhadap maraknya pemberitaan media massa yang merilis pengakuan Surva Uran tentang film pendek yang diduga sebagai sebuah adegan pembunuhan dari HP milik Irwan Paokuma, dia mengatakan, tentu saja hal itu menjadi informasi awal untuk dikembangkan penyidik. Namun yang terpenting, dalam membongkar sebuah kasus pidana pembunuhan, semestinya polisi tidak hanya mengandalkan pengakuan tersangka, atau saksi. Penyelidikan sebuah perbuatan pidana, sudah harus didukung dengan penyelidikan ilmiah.

Selain itu, aktivis Aldiras yang tak lain adalah staf pada LBH Lontar ini, juga meminta polisi untuk merangkai potongan informasi juga petunjuk lain, agar kasus misteri kematian Lurens Wadu bisa dibongkar tuntas. Dan, rasa keadilan masyarakat terpenuhi. (*)

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Krisis Air Terus Menghantui Warga Labuan Bajo

Next Story »

Penantian yang Tak Berujung

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *