Desa Memanggil Kaum Muda

Foto Ilustrasi : Anak muda berpartisipasi dalam mempersiapkan perayaan keagamaan di salah satu desa di Adonara. (Foto : Dokumentasi FBC/Bonne Pukan)

Foto Ilustrasi : Anak muda berpartisipasi dalam mempersiapkan perayaan keagamaan di salah satu desa di Adonara. (Foto : Dokumentasi FBC/Bonne Pukan)

Oleh : Canisius Maran

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT & T), Marwan Jafar menantang mahasiswa membangun desa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), maupun setelah lulus kuliah dapat mengabdikan dirinya di desa. Terutama mereka yang berasal dari desa, tentu lebih mengetahui keadaan dan masalah desa sertamasyarakatnya. Demikian dikemukakan menteri Marwan di hadapan ratusan wisudawan dan akademika Universitas Indo Global Mandiri (UIG) Palembang, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu.

Berdasar UU Desa Pasal 112 ayat (4) dan PP No. 43 Tahun 2014, Kementerian Desa PDT & T menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan secara berjenjang sesuai kebutuhan desa. Karena itu, Kementerian Desa PDT & T membuka pintu kerja sama dengan perguruan tinggi daerah dalam bidang pengembangan iptekdan pelatihan tenaga pendampingan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa dan kaum muda agar dapat terlibat langsung dalam kegiatan bersama masyarakat pedesaan.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Ajakan kepada mahasiswa dan kaum muda membangun desa, sejujurnya bukanlah hal baru. Di zaman orde baru, pemerintah sudah memberi memotivasi kaum muda kembali ke desa, baik melalui program transmigrasi maupun program Desa Pemuda. Namun dari semua program itu, tidak satu pun berjalan.Misal, lenyapnya Desa Pemuda yang dirintis KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) di Sumatera Utara, juga Desa Pemuda di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan yang dikelola HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).

Penyebabnya selain kurang persiapan dan keengganan kaum muda tinggal di desa terpencil, juga kondisi desa saat itu belum bisa menjamin masa depan yang diidam-idamkan sesuai jiwa kaum muda. Namun betapa pun sunyinya kehidupan desa, tentu ada sisi-sisi yang menjadi daya tarik bagi kaum muda.Dan yang jelas, meski kehadiran mereka di desa dalam jumlah kecil, namun kualitas yang dihasilkan membawa resonansi baru bagi kehidupan di alam pedesaan.

Apalagi, prestasi kaum transmigran yang selama 30-40 tahun hidup di daerah-daerah terpencil kini sudah membuahkan hasil gemilang, antara lain anak-anaknya telah berhasil memperoleh pendidikan di dalam dan di luar negeri, dimana banyak dari anak-anak transmigran menjadi dokter dan guru besar serta pejabat tinggi, tentu memberi semangat kepada kaum muda kita.

Karena itu, kita tentu sepakat bahwa kaum muda adalah asset yang perlu dikembangkan potensinya. Mereka adalah ahli waris dari masa yang akan datang, calon pemimpin bangsa (tomorrow leaders), sumber daya pembangunan yang dalam bahasa politik disebut sebagai penerus cita-cita bangsa. Kaum muda perlu dilibatkan dalam berbagai kegiatan di wilayah pedesaan agar interaksinya dapat menghasilkan sesuatu yang positif.

Sebagaimana kaum muda pada umumnya mempunyai hak untuk menentukan sendiri nilai-nilai yang diyakini.Di Indonesia setiap momen sejarah selalu ada anak muda. Mulai tahun 1908, 1928, 45, 1966, lalu tahun 1945 yang menjadi tonggak sejarah adalah Bung Karno Bung Hatta. Jikasaja tidak ada anak muda yang “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok, maka bukan 17 Agustus proklamasi kita. Dan itu semua sudah dicatat sejarah.

Terkait harapan Mendes Marwan, apakah semua kaum muda di kota harus kembali ke desa? Mungkin tidaklah demikian, meski pemerintah pusat dalam waktu dekat akan menaburkan “gula” ke desa-desa, namun pilihannya kembali lagi kepada kaum muda sendiri. Tentu ada yang setelah menyelesaikan pendidikan boleh membangun karir di kota bahkan di luar negeri, sehingga menjadi diaspora kita, membawa harum nama daerah, tidak hanya karir atau pendidikan, juga dalam berbagai ajang kompetisi nasional dan internasional.

Namun melihat kemajuan desa saat ini, dimana teknologi komunikasi sudah menembusi lereng-lereng gunung dan lembah-lembah di desa, yang memudahkan kaum muda berinteraksi dengan dunia luar, kita yakin ada banyak kaum muda merasa terpanggil dengan ajakan Mendes.

Mereka dapat berkomunikasi melalui surel (surat elektronik, email), facebook, BBM, MMS, Twoo dan berbagai media sosial lain. Digitalisasi komunikasi telah menempatkan kaum muda menjadi fenomena dalam segmen pertumbuhan generasi online. Menurut Facebook Indonesia, dari 64 juta pengguna Facebook, 56 persen berusia antara 16 sampai 24 tahun, dimana sebagiannya tentu mahasiswa atau yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Dan Facebook adalah kegiatan paling pertama diakses kaum muda sejak bangun tidur. Selain bertegur sapa, lebih dari 50 persen kaum muda mencari informasi tentang bea siswa, lowongan kerja atau mencoba bisnis produk-produk fashion yang lagi trend seperti produk-produk Korea. Generasi online bahkan mulai berani mengekspresikan sikap dan pandangan politik mereka secara lebih terbuka dan bebas, sekaligus aktif berpartisipasi dalam diskusi berskala nasional.

Itulah modal yang bisa membuat kaum muda akan bertahan di alam pedesaan. Sebagaimana harapan Mendes Marwan kita yakin ada sambutan dari perguruan tinggi daerah, bukan hanya untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) tapi mahasiswa juga perlu terlibat dalamkegiatan industri skala pedesaan, bahkan Mendes menyatakan niatnya menggandeng penyanyi kawakan Iwan Fals untuk mengembangkan industri budaya dan kesenian termasuk lagu-lagu daerah.

Kemajuan musik daerah Flores, dapat kita ikuti melalui Youtube, dimana kita bisa dapatkan banyak lagu-lagu daerah dalam Bahasa Lamaholot, Sikka, Ngada, Manggarai dan Ende sudah bisa didownloud. Ternyata bakat generasi muda kita di bidang musik, tidak kalah dibanding penyanyi skala nasional. Saya sendiri suka mendengar lagu Ja’i Putar-Putar Kopi dari Bajawa, Maumere Manise, Ampon Kita No oleh Vivi Noor dari Larantuka dan menyukai gaya Aris Langoday dari Lembata. Bahkan sampai hari ini saya masih suka mendengar lagu-lagu Trio Nagi dan Oa Keraf, yang memiliki warna musik khas asli Flores.

Patut dicatat, keberhasilan Asizah, dalam kontes KDI, telah mengharumkan Flores, tidak hanya dalam dunia tarik suara, juga keramahan dan kerukunan khas Flores, menempatkan Asizah sebagai fenomena baru Flores. Apalagi, nona manis dari Maumere manise ini dinobatkan sebagai Duta Pariwisata, pas dengan semangat Flores “membuka pintu” bagi wisatawan yang ingin menghirup sejuknya hawa pegunungan Flores, mendapat kesan pertama ketika menginjakkan kaki ke pantai berpasir putih, sambil memandang deburan ombak dan desiran angin pantai.

Pas dengan momen MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan dimulai pada akhir tahun ini, dimana sektor pariwisata merupakan unggulan utama, kita berharap kesiapan Flores menyediakan produk industri kerajinan dan kemampuan SDM untuk menjadikan momen MEA menjadi tak terlupakan di hati wisatawan ASEAN.

Selain itu, Kementerian Koordinator Maritim juga berniat menggencarkan pembangunan wisata bahari termasuk pembangunan marina untuk kapal-kapal yacht di Labuhan bajo selain Saumlaki, Ambon, Belitung, Kupang, Tarakan, dan Tanjung Pinang. Semoga Labuhan Bajo akan menjadi pusat dinamika kaum muda yang akan ikut ambil bagian dalam peristiwa pariwisata itu.

Kembali pada harapan Mendes Marwan, kenyataan, desa-desa di pulau Flores, Adonara, Solor dan Lembata mempunyai potensi, ciri, beranekaragam.Ada desa dataran, desa pegunungan, desa pantai, desa kepulauan dan desa perbatasan, desa di wilayah perkotaan, juga desa terisolasi dan tidak terisolasi.Ada desa pantai sekaligus desa pegunungan, desa perbatasan sekaligus desa kepulauan.Kehidupan ekonominya pun campur aduk.Desa pantai selain menjadi penghasil ikan juga pertanian.Malah ada desa pantai yang benar-benar tidak memiliki jiwa nelayan.Dan hampir semua desa pantai tidak menjalankan jasa pariwisata laut dan kebaharian.

Sementara sektor pertanian harus diakui bahwa lahan kering belum dioptimalkan.Pembangunan pertanian berwawasan lingkungan sebenarnya lebih merujuk pada perbaikan kondisi lahan kering untuk pertanian masa depan.Ini karena lahan kering juga menghasilkan Palawija (kedelai, jagung dan ubi kayu), buah-buahan (mangga, alpukat, nenas, jeruk, jambu biji), sayuran (tomat, Lombok, bawang merah, bawang putih sawi, asparagus, kentang, kacang-kacangan) bahkan tanaman hias seperti anggrek, krisan, mawar, palem dan paku-pakuan.

Suatu kenyataan yang tak bisa dibantah, bahwa tingkat ekonomi masyarakat desa (petani) masih pas-pasan.Hasil panen pun mungkin tidak cukup untuk makan keluarga selama dua bulan. Sementara belum ada titik terang upaya pengembangan pola diversifikasi yang berorientasi pasar sehingga hasil usaha tani tidak mendapat nilai plus.

Kondisi demikian menempatkan petani pada posisi kurang seimbang antara masyarakat desa dan masyarakat kota penikmat hasil pertanian dari desa. Kecilnya peran petani di pasar-pasar kecamatan, terlihat dari arus pertukaran barang riil antara komoditi pertanian dengan produk hasil industri manufaktur.Toko-toko di kecamatan penuh dengan produk manufaktur yang menyedot uang petani. Penjualan hasil pertanian ternyata tidak dapat menarik kembali uang yang sudah mengalir ke kota. Itulah yang disebut proses pemiskinan daerah pedesaan. Karena itu, kehadiran mahasiswa di desa diharap bisa membuka isolasi ini.

Yang lain dari itu, keterlibatan mahasiswa di desa diharap bisa mempertemukan pandangan rasional antara pengetahuan lokal etnis (indigenous knowledge) dengan cara pandang masyarakat tentang pola hidup sehat, misalnya dalam proses kelahiran bayi, juga jenis-jenis penyakit lain yang memerlukan sentuhan paramedis. Bagaimanapun kearifan lokal kesehatan berhubungan erat dengan alam pikiran, dan kepercayaan masyarakat sungguh penting, dimana masih banyak masyarakat lebih percaya pada dukun.Kepada generasi muda kita harap dapat mengambil peluang ini untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin daerah masa depan. Semoga!

Kepemimpinan : Perubahan atau Lanjutkan?

Next Story »

Firdaus yang Terancam – Menelaah Tradisi Secara Ilmiah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *