Cunca Wulang : Pundi Duit yang Terabaikan

Salah seorang pengunjung sedang menikmati air terjun Cunca Wulang ( Foto : Fidel Hardjo)

Salah seorang pengunjung sedang menikmati air terjun Cunca Wulang ( Foto : Fidel Hardjo)

Oleh : Fidel Hardjo

Objek wisata Cunca Wulang terletak di Desa Cunca Wulang, Mabar. Cunca ini berada di aliran sungai Wae Nuwa. Wae Nuwa adalah perbatasan wilayah Kempo dan Boleng. Tepatnya, zona perbatasan Desa Cunca Wulang dan Desa Pota Wangka. Dari Labuan Bajo menuju Cunca Wulang memakan waktu 2 sampai 3 jam.

Fidel Hardjo, Pemerhati Sosial-Budaya

Fidel Hardjo, Pemerhati Sosial-Budaya

Sedikit sejarah tentang Cunca Wulang. Cunca Wulang merupakan air terjun yang dihasilkan oleh Wae Nuwa. Wae Nuwa adalah sungai besar. Kumpulan anak-anak sungai dari Kempo dan Desa Pota Wangka bermuara ke Wae Nuwa. Wae Nuwa ini adalah pemasok air dan suplai air irigasi sawah di dataran Labuan Bajo dan sekitar.

Nama Cunca Wulang berarti air terjun bulan. Soal nama ini ada ceritanya. Konon, dulu ada seekor rusa jatuh di air terjun ini. Ada nenek moyang orang Wersawe yang berani turun mengambil rusa di dasar air terjun itu. Ketika nenek ini mengambil rusa ini, dia melihat ada sinar bulan yang bertengger tergelantung di dinding air terjun itu.

Sejak saat itulah nama Cunca Wulang berawal. Tahun 80-an ada pembentukan desa. Penduduk Wersawe inisiatif menamakan desa mereka dengan ikon Cunca Wulang. Terciptalah nama Desa Cunca Wulang. Sekarang sudah menjadi Kecamatan Cunca Wulang. Jadi, pemilik utama cunca ini yaitu Desa Cunca Wulang.

Pada awal tahun 80-an ada survai team ahli dari Jakarta. Survai ini bertujuan agar air terjun ini bisa dijadikan pemasok listrik tenaga air di Labuan Bajo. Namun obsesi ini gagal. Sebab air terjun ini bisa dijadikan wisata air terjun yang unik ke depan. Prediksi dulu itu menjadi kenyataan sekarang. Cunca Wulang menjadi objek wisata.

Objek wisata alam ini sudah lama terkubur. Tidak ada promosi. Jalan menuju Cunca Wulang pun tidak terurus. Sejak Sail Komodo, Cunca Wulang sudah menjadi destinasi wisata alam. Bagi pecinta alam yang suka tantangan trecking, mandi air sungai super dingin dan loncat dari tebing, maka Cunca Wulang adalah tempatnya.

Tamu setiap hari berdatangan. Ada turis dan tidak sedikit pula tamu ibu kota. Beberapa minggu yang lalu, saya sempat mengunjungi tempat ini. Perjalanan cukup melelahkan. Tetapi kelelahan itu terbayar sempurna ketika tiba di Cunca Wulang. Airnya sangat bersih. Dikelilingi hutan. Air terlempar di tebing batuan menakjubkan.

Saya sendiri takut. Konon dulu orang lokal tidak berani mandi di dasar air terjun itu. Karena sering air terjun ini memakan korban. Dulu orang Wersawe ketika kemarau panjang terjadi maka tinggal bikin ritual di Cunca Wulang. Setelah bikin ritual akan turun hujan lebat. Tapi sekarang unsur mistis ini pudar sebab ramai dikunjungi tamu.

Hari itu cerah sekali. Saya duduk di pinggir tebing. Kulihat turis-turis berdatangan. Tidak lama kemudian ada sekeluarga tamu dari Bandung. Kuhampiri seorang turis cewek dari Perancis.“Apakah Anda menikmat ada tempat ini?” Aku kaget. Dia bukan jawab pertanyaanku tapi malah tanya balik.“Where is the rest room here?” tanyanya.

Aku bingung. Bagaimana memberi jawaban. Saya jawab pintas. Kalau Anda mau kencing ya ke hutan saja. Kulihat raut wajahnya penuh emosi. Lalu saya jelaskan. Di sini ada toilet umum. Tapi toilet itu tidak terurus. Tidak dibersihkan. Air juga tidak ada. Atapnya sudah ambruk. Menakutkan. Saya tidak tahu ini tanggung jawab siapa.

Lebih lucu lagi. Pemandu turis-turis tidak tahu bahasa Inggris. Namanya, pemandu orang kampung. Mana mereka tahu bahasa asing. Bahasa Indonesia saja jatuh bangun apalagi bicara bahasa aneh itu. Kutanya salah satu pemandu. “Bagaimana kalian berkomunikasi dengan bule-bule ini?” “Pakai bahasa tubuh saja.”, jawabnya.

Lucukan. Padahal tiket masuk ke wisata Cunca Wulang ini sebesar 25 ribu rupiah. Loket penjualan karcis ini ada di kampung Wersawe. Dan, biasanya setiap pemandu diberi tip oleh bule berkisar dari 50-100 ribu rupiah. Berdasarkan informasi dari warga, hasil jualan tiket ini per bulan bisa mencapai 200 juta per bulan. Fantastis!

Aneh pendapatan seperti itu tapi tidak diurus baik. Di mana Kepala Desa dan Camat Cunca Wulang? Mereka harus bertanggung jawab. Menurut cerita warga kampung Wersawe yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa bahkan ketika turis-turis baru turun dari mobil anak-anak muda berebutan menjadi pemandu jalan.

Sebuah pemandangan yang tidak bagus dan tidak santun. Saya pikir bule-bule risih dengan cara preman seperti ini. Tetapi sampai detik ini, inilah cara mereka mendapatkan duit dari bule-bule itu. Tak satu pun yang urus mekanismenya. Kalau soal bahasa Inggris mungkin bisa ditolerir tetapi kesantunan itu menjadi prioritaslah.

Orang Wersawe yang sangat merasakan keuntungan dari objek wisata Cunca Wulang ini. Tetapi entah kenapa masyarakatnya tidak dipersiapkan secara baik. Sepertinya orang Wersawe bak tikus berada di lumbung padi. Saking penuhnya makanan tidak tahu mau buat apa. Kita malah menjadi preman di lambung sendiri.

Inilah kerisauhan kita. Asal kita tahu saja. Orang bule itu mereka tidak biasa kencing di hutan. Jangankan kencing, buang sampah sembarangan pun ogah mereka. Karena itu, tua golo, kepala desa, dan camat sebaiknya menanggapi hal ini secara cepat. Bila perlu kepala dinas pariwisata Mabar turun tangan selesaikan masalah ini.

Hemat saya ada beberapa tawaran. Pertama, perlu management yang baik objek wisata Cunca Wulang. Mulai dari urus penjualan tiket, pemandu yang tidak perlu profesional tapi santun dan belajar sedikit-sedikit bahasa Inggris. Bila perlu dibuka pelatihan bagi pemandu lokal seperti bahasa Inggris, etika, dan panduan lapangan.

Kedua, sarana penunjang seperti toilet dan kamar ganti pakaian. Praktisnya selama ini tamu-tamu ganti baju secara di balik batu saja. Kalau ingin kencing, ya kencing di hutan saja. Jangan kondisikan tamu-tamu dengan kebiasaan kita yang biasa kencing di hutan dan ganti baju di balik batu. Mau tidak mau kita sediakan sarana ini.

Di samping itu, wisata Cunca Wulang adalah tempat wisata yang beresiko tinggi juga. Tidak ada sekuriti. Tidak ada pemantau. Bukan tidak mungkin ada yang loncat dari tebing dan mandi di dasar tebing dengan kedalaman air 20-30 meter berpotensi bahaya. Siapa yang bertanggung jawab jika ada tamu yang terseret arus atau jatuh?

Ketiga, saya melihat bahwa Objek Wisata Cunca Wulang itu bisa mendatangkan duit banyak. Selama ini, orang hanya datang kunjung, mandi, dan lihat ke sana-sini lalu pulang. Saya bayangkan jika pemda Mabar bisa memikirkan alternatif lain. Katakan di Cunca Wulang dibikin jembatan layang. Jembatan layang terbuat dari tali kuat.

Jembatan layang ini sangat menantang. Di atas jembatan layang ini nanti orang bisa melihat-melihat view air terjun dengan baik. Dan, setiap tamu bisa membeli karcis untuk naik dan jalan di atas jembatan layang itu. Dengan demikian, tidak sekadar datang, lihat, dan pulang di Cunca Wulang tetapi ada tantangan menarik disediakan.

Terakhir adalah di Cunca Wulang itu harus ada kios atau warung. Tamu-tamu yang sudah menikmati mandi dan jalan pasti saja haus dan lapar. Kios baru ada di kampung Wersawe. Perjalanan ke Wersawe memakan waktu kurang lebih satu jam. Perjalanan yang melelahkan karena hanya jalan kaki dan jalannya mendaki panjang.

Semoga guratan hati di atas memompa kebanggaan kita akan objek wisata yang ada di daerah kita. Tetapi pada saat yang sama kita juga harus bertanggung jawab menjaga kebersihan, kesehatan, keamanan, dan paling penting keramatahaman. Ini aspek-aspek pendukung yang memperkayai sebuah objek wisata dan harus dirawat.

Imam yang Berpikir Global, Mengonsumsi Secara Lokal

Next Story »

Kepemimpinan : Perubahan atau Lanjutkan?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *