Bitek Wua Ta’a, Penghargaan Bagi Tamu

Tarian Bitek Wua Taa saat peresmian kantor Jamsostek Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )

Tarian Bitek Wua Taa saat peresmian kantor Jamsostek Maumere. ( Foto : FBC/ Ebed de Rosary )


Lewat tarian warga Sikka melestarikan nasehat leluhur untuk hormat kepada tamu yang hadir. Sayang pemerintah lebih suka memperhatikan pembangunan fisik berbarengan dengan kegandrungan generasi muda pada budaya global.

EMPAT penari sanggar Kibo Libok bersiap di depan pintu masuk kantor Jamsostek saat jarum jam menunjukan pukul 10.00 WITA, Rabu (12/3/15). Perempuan-perempuan muda itu mengenakan rok kain tenun Sikka dipadu dengan baju kuning dan selendang merah berenda kuning keemasan para perempuan muda ini berbaris dua.
Tak lama berselang rombongan Bupati Sikka tiba. Dua perempuan tampil ke depan, salah seorang memegang nampan berisi selendang tenun motif Sikka. Gong Waning berbunyi, dua pria yang ada di taman bagian belakang bergantian memukulnya.

Selendang tenunpun segera dikalungkan ke leher para tamu. Secara bersamaan para penari beraksi dengan melenggang lenggok membawakan tarian Bitek Wua Ta’a. Pejabat Jamsostek Cabang Maumere yang hadir terlihat sedikit sungkan saat disuguhkan sirih pinang oleh penari dan diminta untuk memakannya
Seorang penari membawa tempat sirih yang dihiasi ayaman daun lontar Oko Wua Ta’a terus mempertontonkan gerakan tubuhnya seraya mengibaskan selendang berulang-ulang. Tak mudah melakukannya karena keseimbangan mesti terus dia jaga.

Para penari terus beraksi meski tetamu mulai menempati tempat duduk sebagaimana telah ditentukan panitia. Serentak para penari berpencar dan maju menghampiri tetamu. Kedua tangan disatukan dan menggengan tempat sirih pinang yang kemudian disuguhkan ke para tamu.

Menghormati Tamu
Indah Parera dari Sanggar Tari Kibo Libok menuturkan bahwa tarian yang kerap dibawakan saat datang tamu penting itu adalah sapaan atau penghormatan adat warga Sikka. Tari ini adalah saduran dari kebiasaan masyarakat Nian Sikka dimana setiap tamu yang bertandang ke rumah disuguhi sirih pinang dan rokok.

“ Makna tarian ini sebagai simbol penerimaan sekaligus penghargaan pemilik rumah atau penyelenggara acara kepada tamu. Tarian ini sering dilakukan pada acara – acara penerimaan tamu baik pejabat pemerintah yang berkunjung ke desa atau menyabut tamu pemerintahan dari luar daerah serta tamu dari pihak swasta “ ujarnya kepada FBC, Kamis ( 05/02/15 )

Penari yang menarikan tarian Bitek Wua Ta’a, urai Indah, tidak terbatas. Siapa saja yang menarikannya tidak menjadi persoalan. Malah dewasa ini lanjtnya, tarian ini sudah mulai ditarikan oleh anak – anak usia sekolah dasar.

“ Saya senang tarian ini sudah mulai ditarikan anak – anak. Jika sejak dini mereka diajarkan maka tentunya saat remaja mereka akan terbiasa menari dan mencintai budaya sendiri. Sebaiknya anak – anak remaja banyak dilibatkan dalam sanggar “ tutur Indah.

Kurang Perhatian
Di tempat terpisah budayawan Oscar Mandalangi Pareira menambahkan bahwa tarian itu telah secara turun temurun digunakan untuk melestarikan kebiasaan warga Sikka menghargai tamu.

“Semua masyarakat Sikka seharusnya terus menggali dan melestarikan potensi – potensi budaya dalam hal ini tarian tradisional yang ada,” tutur Oscar, kepada FBC, Rabu ( 11/02/15 ).

Kendati ada unsur kreasi yang mewarnai tarian itu, Oscar tak mempersoalkannya sepanjang pesan dan makna yang ingin disampaikan tetap meurujuk pada makna tarian tradisional yang sudah ada sebelumnya.

“ Makna dari setiap tarian yang dipentaskan sebaiknya tetap mengusung nilai – nilai dan ajaran – ajaran nenek moyang yang memperkenalkan tarian ini. Semua tarian tradisional pastinya ditarikan saat acara tertentu dan mengandung pesan di dalamnya karena biasanya ditarikan saat ada ritual adat, “ lanjutnya.

Namun harapan itu tak seiring dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oscar merasa perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka di bidang seni dan budaya kurang. Pembangunan fisik lebih diutamakan.

Pemerintah Sikka sebut Oscar belum mengerti betul apa yang orang katakan local wisdom, local genius, kearifan dan kebijakan lokal. Padahal disitulah terkandung ajaran – ajaran, nasehat – nasehat yang perlu diketahui generasi muda yang lebih gandrung pada karakter budaya global.

Seharusnya, lanjut Oscar, pemerintah serius membantu sarana dan memberi kesempatan kepada sanggar – sanggar tari untuk pentas ke luar daerah. Dengan cara itu bakal timbul motivasi generasi muda untuk berkarya. Di Sikka sendiri urai Oscar banyak terdapat sanggar – sanggar musik dan tari tetapi banyak yang sudah tidak aktif.

“Kita harus beri kesempatan mereka untuk unjuk kebolehan dan dibuatkan jadwal rutin pementasan.Sebaiknya, setiap ada acara pemerintahan di suatu daerah, sanggar – sanggar yang sudah ada diberikan juga kesempatan untuk menari dihadapan para tamu sehingga mereka juga terpacu untuk berkarya, “ pintanya.

Oscar menilai saat ini sudah ada beberapa kelompok seni yang tumbuh dan mempopulerkan kembali warisan seni budaya leluhur. Masalah utamanya lanjut Oscar sanggar – sanggar tidak bisa hidup kalau tidak ada suntikan dana dari pemerintah. Banyak sanggar yang bertahan ungkap budayawan Sikka ini, dikarenakan anggotanya memiliki pekerjaan tetap sehingga mereka mempunyai penghasilan tetap.

“ Pemerintah harusnya memberi apresiasi bagi generasi muda yang punya kepedulian menggali dan mempopulerkan seni dan budaya Sikka. Penghargaan itu penting sehingga mereka terpacu untuk berkarya dan meraih prestasi. “ pungkasnya.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor: Donny Iswandono

Memohon Ketentraman Hidup di Rumah Baru

Next Story »

Dari Nita yang Mendunia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *