Biodiversity, Tantangan Bagi Peneliti Muda

Foto Ilustrasi : Keanekaragaman hayati yang masih terdapat di Danau Ranamese-Manggarai Timur (Foto : Dokumentasi FBC)

Foto Ilustrasi : Keanekaragaman hayati yang masih terdapat di Danau Ranamese-Manggarai Timur (Foto : Dokumentasi FBC)

Oleh : Canisius Maran

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) berkomitmen melakukan konservasi ekosistem dan keanegaragam hayati (biodiversity), dan mencadangkan sekitar 26,5 juta ha lahan untuk kawasan konservasi, meliputi 16.284.194 ha Taman Nasional (termasuk taman nasional laut), cagar alam 4.730.704 ha dan 5.422.994 ha suaka margasatwa.

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Canisius Maran, Co-Founder Inditera (Institut Studi Potensi daerah), Jurnalis, tinggal di Jakarta

Pernyataan menteri yang disampaikan pada Hari Cinta Puspa dan Satwa beberapa waktu lalu itu merupakan sinyal laju keusakan ekosistem dan keanekaragam hayati. Catatan kementerian menyebutkan selama era desentralisasi kerusakan ekosistem dan keanekaragam hayati mencapai 2 juta ha per tahun akibat kehancuran hutan primer seluas 840.000 ha per tahun. Pertanyaan kritis yang dapat diajukan, apakah Flores menjadi bagian dari komitmen itu, utamanya biodiversity mengingat potensi fauna flora Flores juga tidak kalah dan belum banyak terjamah.

Sebagai contoh ada berjenis-jenis burung termasuk Elang Flores, ular termasuk ular kepala tujuh di Flores Timur, pisang termasuk pisang Lio, ubi-ubian termasuk Ubi Nuabosi, bunga termasuk Anggrek Flores, dll. Cerita tentang peneliti yang tersesat tidak akan matikelaparan karena hampir semua yang ada di hutan Flores bisa dimakan mulai dariakar (umbi), batang, daun maupun bunga dan buah. Antara lain, bambu, jambu, kesambi, maja, pisang hutan, mengkudu, rotan muda, ubi hutan. Atau hewan hutan seperti monyet, babi hutan, tikus, ular, belalang, kima (siput), Musang, belalang, biawak, katak, burung. Namun seperti apa kondisinya?

Keprihatinan terhadap kondisi keragaman hayati sudah menjadi agenda utama KTT Bumi di Rio de Janeiro (Juni 1992) dan dijadikan sebuah konvensi.Faktor utama penyebabnya tak lain akibat ekspansi besar-besaran di sektor perkebunan dan tambang menimbulkan rusaknya keanekaragam hayati, kehancuran sistem sosial budaya dan basis ekonomi masyarakat lokal serta menjadi sumber konflik panjang agraria. Satu prinsip lain yaitu alam tetap dimanfaatkan dengan memberikan jaminan akses bagi generasi mendatang. Karena itu, dalam KTT+20 di Brazil, masyarakat sipil dari Asia Pasifik mengeluarkan deklarasi, mengingatkan bahwa dunia terkunci dalam krisis sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan karena penipisan sumber daya alam dan hilangnya keanekaragaman hayati berlangsung sangat cepat.

Kepunahan alamiah terjadi karena kemampuan berkembang, kepekaan terhadap hama dan penyakit, daya adaptasi terhadap lingkungan, penyebaran terbatas, habitat spesifik dan memiliki nilai tinggi (dicuri dan dijual). Kerusakan biodiversity dan ekosistem akan merugikan ekonomi dan menghancurkan hutan sebagai “gudang farmasi”.

Untuk itu, kesadaran generasi mudaakan kekayaan sumberdaya hayati perlu ditingkatkan.Bagi generasi muda yang gemar meneliti, upaya pertama perlu dilakukan yaitu menginventarisir potensi biodiversity di daerah masing-masing.Berapa hutan primer, sekunder dan tersier tersisa, termasuk yang dikonversi untuk keperluan hidup manusia.Peneliti muda perlu didorong, dari mulai sebuah pengamatan dan percobaan sebagai proses kritis, dan membedakan antara berbagai kemungkinan. Peneliti muda tidak harus punya satu meja kerja panjang untuk menempatkan berbagai perangkat kerja termasuk tabung reaksi, mikroskop dan termos kecil juga P3K.Peneliti lapangan tidak harus memakai jas laboratorium atau perpustakaan resmi karena dengan potongan-potongan kertas kecil bisa mencatat hal penting untuk memudahkan ingatan.

Seorang peneliti muda harus berusaha mencaritahu karena kebenaran yang diteliti tidak menunggu di hutan rimba, seperti halnya mitos tentang makluk rimba yang berbentuk kerdil seperti Hobbit Flores, atau raksasa yang telapak kakinya lima meter, atau manusia purba dalam film kartun Mr Flintstones, yang tidak memakai baju, berambut gondrong, memegang tombak kayu. Mitos makluk rimba ini seringkali menakutkan polisi hutan atau peneliti muda yang nekad, namun justru membuat hutan tetap terjaga dari ulah manusia yang ingin merusak. Singkat kata suatu kebenaran itu harus terus dicari, diteliti tentang apa saja yang ada di dalam hutan rimba.

Kebenaran yang masih dicari, atau masih merupakan sebuah prasangka khayalan, adalah juga sebuah hipotesis, namun trend peneliti masa kini kebanyakan menggunakan cara Galileo untuk mengupas sesuatu, membedakan antara kemungkinan-kemungkinan, dan membuka peluangkepada peneliti untuk meninjau kembali pandangan sebelumnya.

Misalnya, kriteria tentang bagaimana keadaan dari apa yang disebut hutan perawan, apa saja yang ada dalam hutan yang tak terentuh itu, bagaimana kondisi tanah ditutupi oleh dedaunan yang gugur setiap tahun. Bagaimana pula hutan basah, benarkah daun dari pohon yang ada di hutan basa tak pernah rontoh, bagaimana tanahnya dan bagaimana temperatur udaranya, berikut apa saja aneka fauna flora yang ada di situ.

Fauna flora, merupakan kekayaan sumberdaya hayati (bioresources), kekayaan keanekaragam hayati (biodifersity), yang merupakan asset utama Flores untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia.Dan biodiversity adalah menyangkut jumlah dan jenis.Menurut Prof. Otto Sumarwoto, Guru Besar Ekologi Unpad, keragaman hayati, dapat ditinjau dari tiga tingkat. Pertama, pada tingkat gen dan kromosom yang membawa sifat keturunan. Kedua, pada tingkat jenis, yakni berbagai golongan makluk yang memiliki susunan gen tertentu. Ketiga, pada tingkat ekosistem atau ekologi, yaitu tempat jenis itu melangsungkan kehidupan dan berinteraksi dengan faktor biotik dan abiotik.

Suatu hal yang dikhawatirkan dewasa ini yaitu semangat meneliti dan minimnya pengetahuan tentang kekayaan sumberdaya hayati, pada saat yang sama, minat peneliti asing terhadap keanekaragaman hayati Indonesia semakin tinggi. Karena itu, pada Bioresources LIPI Expo di Bogorakhir tahun, Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian Benyamin Lakitanmengatakan, izin penelitian biodiversitykepada peneliti asing harus diwaspadai. Sinyalemen bahwa ada peneliti asing tinggal di sebuah pulau di daerah Timurtanpa diketahui pemerintah daerah setempat dan bekerja sama dengan perguruan tinggi kecil di daerahitu merupakan bukti.Bagaimana pun, pemanfaatan bioresources, untuk riset bersama harus dikawal, termasuk universitas yang bermitra agar publikasinya tidak dilakukan sepihak.

Pada sisi yang sama, kekayaan dan keanegaraman hayati yang dimiliki Indonesia membuka peluang bagi Indonesia untuk sejajar dengan kemajuan bioteknologi tingkat dunia. Apalagi kini mahasiswa khususnya Biologi mulaiberminat melakukan penelitian, bukan tidak mungkin peran peneliti Indonesia juga akan sejajar dengan peneliti tingkat dunia.

Dan dengan berbasis mega keanekaragaman hayati (biodiversity) dan kearifan lokal, kegiatan penelitian nasional pasti lebih baik dikerjakan sendiri karena latar belakang pendididikan nasional pun sesungguhnya tidak berbeda dengan perguruan tinggi di luar negeri.Orangnya sama, ilmunya juga sama, yang berbeda mungkin mereka punya uang lebih banyak. Karena itu, peneliti kita diharapkan dapat tetap mempertahankan cara kerja khas Indonesia, termasuk ketika mereka harus mempresentasikan hasil penelitiannya di luar negeri.

Pulau Flores adalah juga Pulau Bunga.Di rimba daratan Flores yang panjang dan luas itu tentu tumbuh dan hidup ratusan fauna dan flora yang sudah teridentifikasi jenis dan kekerabatannya.Ada yang sudah dibudidayakan dan dimakan manusia, namun masih banyak yang berpotensi sebagai plasma nuftah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.Kita pun sering membaca dan mendengar bahwa di hutan rimba Flores ada begitu banyak jenis tanaman liar, berkhasiat mengobati sejenis atau berjenis-jenis penyakit namun belum diteliti dan dikembangkan.

Bagi peneliti muda diharap dapat memanfaatkan kearifan lokal ini, misalnya, seperti apa hasilnya kalau akar pohon ini dicampur dengan akar pohon itu, dengan perbandingan ini atau itu, pada suhu ini atau itu. Atau mengubah percobaan itu menurut berbagai metode hingga berhasil dan hal itu merupakan hasil dari kerja keras dan boleh jadi karena nasib baik. Sebagai contoh, untuk membuat kopi susu, apakah dengan mencampur bubuk kopi dan susu ditambah sedikit gula kemudian dituang air panas? Atau kopi dan susu diaduk terpisah lalu dicampur untuk melihat komposisi dan ditambah sedikit gula, toh kemudian yang menentukan adalah selera.

Artinya, penelitian merupakan bagian dari sebuah rangkaian perjalanan sains dan teknologi untuk membuktikan misteri alam semesta. Ada banyak hal yang masih harus dibuktikan seorang peneliti menyangkut seberapa dalam cintanya kepada sebuah hipotesis agar bisa menjawab berbagai sangkalan yang akan dihadapi supaya tidak membuang-buang waktu. Pada sisi lain, mungkin saja, dalam penelitian tentang keanekaragam hayati, peneliti berhubungan juga dengan disiplin ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, arkheologi, barangkali juga psikologi.

Menjadi penting bagi peneliti untuk memahami bahwa ada disparitas dalam aneka budaya setiap etnis turut mempengaruhi alam pikiran dan pandangan hidup masyarakat sekitar hutan terhadap keanekaragam hayati.Karena itu pemahaman terhadap retorika budaya perlu agar peneliti dapat dengan mudah diterima dan menjalankan tugasnya di setiap etnis kawasan.

Seorang peneliti pada hakekatnya selalu memburu kebenaran, seperti seorang mahasiswi jurusan Biologi tidak ingin bekerja setelah meraih sarjana karena berniat untuk terus mengeksplorasi alam semesta.Jalan menuju jenjang peneliti professional pun kian terbuka, dengan suatu kesadaran bahwa taksonomi yang dikerjakan dengan baik memerlukan pertimbangan-pertimbangan mendalam, mengambil keputusan tepat agar menjadi seorang taksonomi kawakan. Dan taksonomi kawakan sesungguhnya adalah juga seorang selebriti, dan bukan hanya artis. Namun seperti umumnya peneliti adalah orang-orang yang rendah hati dan tau bahwa peneliti juga sebuah pekerjaan mulia dan terhormat!!! (habis)

Rembulan Masih di Sana, Meski Pohon Itu Sudah Tak Ada

Next Story »

Guru, Melawan Otak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *