Batutara, Gunung yang Terus Memuntahkan Lahar

Gunung Batutara merupakan sebuah gunung berapi aktif yang berlokasi di Pulau Komba, sebuah pulau kecil tak berpenduduk. Pulau yang berjarak 48 kilometer dari Pulau Lembata itu lebih dikenal  dengan nama Pulau Batutara. Secara administratif, Pulau Komba masuk dalam wilayah Kabupaten Lembata dan berada di posisi 7°47’30” LS dan 123°34’45” BT.   

KENDATI sebagai sebuah gunung api aktif, namun tidak banyak diketahui sejarah letusan Gunung Batutara ini. Badan Geologi dan Meteorologi mencatat, Gunung Batutara meletus pertama kali tahun pada tahun 1847 dan tahun 1852. Gunung dengan ketinggian 470 meter di atas permukaan laut (dpl) atau 3.750 meter dari dasar laut itu tercatat terakhir kalinya meletus tahun 2007 lalu, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 penduduk Lembata dievakuasi.

Gunung Batutara bertipe strato volcano atau gunung tinggi mengerucut dan terdiri atas lava dan abu yang mengeras itu berbentuk bulan sabit dengan ukuran 700 x 900 meter pada posisi atas dan 350 x 200 meter pada bagian dasar pulau.

Kendati keberadaannya berstatus sebagai gunung api aktif dan hanya bisa dijangkau dengan kendaraan laut carteran, namun Batutara ternyata menyimpan pesona alam yang tiada tanding. Potensi wisata maritim di sekitar wilayah gunung api ini sangat menarik, terutama untuk penyelam. Lautnya jernih dan tampak sangat natural apalagi belum terjamah kegiatan manusia.

Gunung Batutara yang setiap 20 menit memuntahkan lahar panas sejak terakhir kali meletus tahun 2007. (Foto : FBC/Yogi Making)

Gunung Batutara yang setiap 20 menit memuntahkan lahar panas sejak terakhir kali meletus tahun 2007. (Foto : FBC/Yogi Making)

Daya tarik lain yang memacu adrenalin adalah pesona lahar panas yang dimuntahkan Batutara setiap 20 menit sekali. Bunyi gemuruh dibarengi keluarnya awan panas dari perut bumi ini sungguh menantang dan sudah tentu menjadi santapan lezat penyuka fotografi.

Menantang Gelombang

Akhir Mei lalu, saya bersama dua rekan wartawan bergabung dengan puluhan fotografer asal Jakarta, juga pemandu (guide) lokal dan beberapa PNS pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata dalam tour ke Pulau Batutara. Tepat pukul 02.30 wita dini hari, KM Fantasi yang dicarter Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata, bergerak dari Pelabuhan Laut Lewoleba, menuju Pulau Batutara. Kurang lebih 5 menit perjalanan, atau saat masuk Selat Sagu kapal yang kami tumpangi mulai dihajar gelombang.

Hantaman gelombang dari arah haluan, membuat kapal terombang-ambing, banyak di antara anggota rombongan mulai terlihat mabuk laut, terutama setelah perjalanan berlangsung 1 jam. Tak cuma teman-teman, saya yang mulanya biasa saja, ternyata tak sanggup menahan goyangan kapal akibat hantaman gelombang. Mabuk menyerang dan sudah pasti isi perut saya pun ikut terkuras akibat muntah. Sungguh sebuah perjalanan dengan pengalaman yang menantang.

Dua jam lama perjalanan dari Lewoleba menuju Pulau Batutara dengan hantaman gelombang tentu bukan sebuah perjalanan yang mudah, namun rasa pusing dibarengi perut mulas hilang seketika, kala Batutara mulai terlihat. Dari kejauhan terdengar bunyi gemuruh dibarengi lontaran bunga api membumbung jauh di udara. “Kita sudah tiba, yang mau memotret silakan mengambil posisi dari haluan kapal atau bisa dari buritan,” kata Tony Labuan, pemimpin rombongan yang tak lain adalah Kepala Seksi Pariwisata pada Dinas Kabudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata kepada anggota rombongan.

Tebing terjal, menjadi ciri pulau batutara. (Foto : FBC/Yogi Making)

Tebing terjal, menjadi ciri pulau batutara. (Foto : FBC/Yogi Making)

Dengan sedikit tenaga yang tersisa saya mencoba bangkit dari tempat duduk, meraih tas dan mengeluarkan kamera, kapal pun perlahan-lahan mendekati pulau. Semua anggota rombongan mulai sibuk mencari tempat terbaik untuk mengabadikan momen langka itu, begitu juga dengan saya.

Sayang, rasa pusing akibat mabuk perjalanan yang belum pulih membuat saya tak fokus mengabadikan peristiwa alam langka saat Batutara memuntahkan lahar panas dengan percikan bunga api ibarat jutaan kembang api yang ditembakan ke udara. Kendati sempat mengabadikan, namun gambar yang saya jepret pada pukul 05.30 wita itu tak maksimal. Tentu, pengalaman ini sangat mengesalkan. Ternyata, hal yang saya alami, dirasakan juga sebagian besar anggota rombongan.

Rasa kecewa akibat tak maksimal mengabadikan momen langka ketika alam masih terlihat gelap itu, baru terbayar pada sekitar pukul 06.00 atau setelah kami menikmati sarapan pagi. Tony, sang pemimpin rombongan menjelaskan, Batutara yang angkuh itu setiap 20 menit memuntahkan lahar panasnya ke udara. Aktivitas gunung yang terletak di Laut Fores itu, tak berhenti sejak meletus tahun 2007 lalu. “Dua puluh menit sekali dia (Batutara) memuntahkan laharnya,” jelasnya.

Setelah puas mengabadikan Batutara, sekitar pukul 06.20 wita, kami pun mulai meninggalkan Batutara. Syukur, perjalanan pulang tak seburuk pengalaman perjalanan sebelumnya. Perlahan-lahan, Batutara kami tinggalkan, pelayaran kembali ke Lewoleba dengan kondisi arus tenang membuat perjalanan lebih cepat 30 menit dari waktu saat berangkat ke Batutara. Tepat pukul 07.50 wita kapal cepat, KM. Fantasi kembali bersandar di Pelabuhan Laut Lewoleba.

Terkait kondisi laut, informasi yang sempat dihimpun dari awak KM Fantasi menyebutkan, menyeberangi laut menuju Batutara sebaiknya dilakukan pada bulan Maret hingga April, karena musim gelombang akan terjadi pada bulan Mei dan Juni. “Lebih baik ambil waktu bulan Maret atau April, kalau sekarang memang musim gelombang,” kata Antonius, salah satu ABK KM. Fantasi.

Tentang Tour

Tony Labuan, Kepala Seksi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata menjelaskan, tour fotografi dengan melibatkan puluhan fotografer asal Jakarta itu merupakan momen tahunan pariwisata Kabupaten Lembata. Momen bertajuk, Tour Fotografi Atadei-Lamalera Explorer itu diselenggarakan sejak tanggal 28 Mei dan berakhir tanggal 31 Mei 2015 lalu.

Sebelum ke Batutara, puluhan fotografer itu diajak berkeliling ke beberapa destinasi, seperti Desa Watuwaer dan Desa Lusilame, Kecamatan Atadei juga ke Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni.

“Tour Fotografi Atadei-Lamalera Explorer ini diselenggarakan dalam rangka promosi pariwisata Kabupaten Lembata,”pungkas Tony. (*)

Penulis: Yogi Making

Editor: EC. Pudjiachirusanto

Lingko Ratung, Ekowisata Manggarai yang Tersembunyi

Next Story »

Tanpa Alat, Ikan pun Menghampiri Manusia

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *