Bagian Kedua dari Dua Artikel

Ada “Hantu” di Sekda Manggarai?

Oleh : Anselmus Baru

Drama kembali dilanjutkan. Di panggung belakang terlihat banyak adegan. Bahkan panggung belakang pun berubah wajah. Lalu, ada aktor lain juga yang memainkan peran pembantu. Publik pun digiring ke sebuah ending dari drama. Publik sulit membaca apa yang berada di panggung belakang itu. Tapi para kuli tinta, berhasil mengabadikan moment di panggung belakang yang membuat drama ini antiklimaks. Ya, sepertinya, ada “hantu” di Sekda Manggarai.

Anselmus Baru , Alumnus FFA UNWIRA Kupang dan Universidad de San Buenaventura, Bogotá, Colombia. Tinggal di Caracas, Venezuela

Anselmus Baru , Alumnus FFA UNWIRA Kupang dan Universidad de San Buenaventura, Bogotá, Colombia. Tinggal di Caracas, Venezuela

Tiba-tiba, adegan di panggung belakang berhasil dibaca publik, “pertemuan yang kebetulan”, menurut bahasa Ahang. Tepatnya, pada Jumat 29/05/2015 dua Wakil Ketua DPRD Manggarai Paul Peos dan Simprosa Riansari Gandut bertemu dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai Manseltus Mitak (Floresa.co 30/05/2015). Menurut keterangan Peos, yang juga dibenarkan oleh Manseltus Mitak, “ketiganya membicarakan soal materi rekomendasi DPRD terkait Laporan Pertanggungjawaban (LKPJ) pemerintah lima tahunan yang telah disampaikan beberapa waktu lalu”.

Tapi, publik pun dikejutkan dengan satu kejadian yang sontak menarik perhatian, panggung drama masih di kantor Sekda, seusai “pertemuan itu” tiba-tiba Osy Gandut pingsan, yang menurut rekannya, Peos, karena masalah kesehatan, kekurangan oksigen. Hahaha, ada penonton yang berceletuk, jangan-jangan nanti tunjangan kesehatan anggota wakil Rakyat akan ditambah karena mereka kekurangan oksigen.

Anehnya, pada saat bersamaan, Ahang juga berada di kantor Sekda. Yang menurut Ahang, “Secara kebetulan saya pergi silahturahmi ke Sekda”. Publik pun sudah mulai bertanya-tanya, ada apa? Apakah Mitak yang adalah sekda Manggarai menjadi mediator?

Dugaan publik ini pun di tepis oleh Mitak: “Mediator apa? Tidak ada mediator,” katanya lagi. Pertemuan yang kebetelulan antara Gandut-Peos, Manseltus Mitak, dan Ahang yang berujung “pingsannya Gandut” seakan membenarkan, ada “hantu” di Sekda Manggarai. Mungkin butu bantuan “ata mbeko” untuk mengusir hantu itu. Atau kalau Sekda dan jajarannya orang beriman, butuh pemimpin agama untuk menyucikan kembali bangunan gedung sekda itu, agar menjadi “bait kehidupan politik” yang suci.

Kini, alur drama pun berubah. Di tengah ekspektasi publik yang menyanjung dan menaruh harapan pada ke-heroikan Ahang, bahwa Ahang akan mampu membuka kotak pandora wajah korupsi di kabupaten Manggarai, publik langsung dikejutkan dengan sebuah bahasa politis baru yang berwajah ganda. Bahasa politis itu adalah islah, yang dibangun oleh Ahang dan Gandut yang didukung oleh pemeran pembantu lainnya, persis setelah pertemuan yang serba kebetulan itu terjadi di Sekda.

Dalam konteks politik nasional, islah identik dengan rekonsiliasi. Lihat misalnya konflik kepengurusan partai Golkar antara Aburizal Bakri dan Agung Laksono, ujung-ujungnya mengambil jalan islah sebagai jalan rekonsiliasi. Ini baik untuk menciptakan kondisi yang aman dan damai. Tapi, selain dimensi rekonsiliatif, dalam islah kita juga bisa melihat elemen “kompromi” dari kedua belah pihak yang bertikai dan mencari solusi yang menguntungkan ke dua belah pihak. Lalu bagaimana dengan konflik Ahang vs Gandut? apakah jalan islah adalah jalan politik yang elok atau merupakan jalan yang mengaburkan adegan dan pesan drama yang terlanjur dipertontonkan itu?

Islah mengandung makna perdamaian. Tema tentang perdamaian itu banyak dibahas, dalam relasinya juga dengan keadilan (justicia). Maka publik pun bertanya, apakah islah yang dibangun oleh Ahang dan Gandut adalah sebuah keadilan (kepuasaan) untuk masyarakat publik atau penonton, yaitu masyarakat Manggarai? Ataukah keadilannya hanya untuk mereka berdua, dan wakil Rakyat yang terhormat lainnya? Ataukah bahasa politis islah itu adalah sebuah konspirasi politik yang bergerak di ruang gelap (panggung belakang- back stage) gedung wakil rakyat itu untuk mengelabui publik? Anggota Dewan terhormat, malu-maluin, menciptakan drama tapi tak tuntas!

Meski adegan drama yang dipertontonkan berakir kabur, namun publik berhasil menangkap, esensi dari masalah yang dilaporkan Ahang ke kepolisian. Apa yang dilaporkan, bukan merupakan sengketa personal. Tapi merupakan sebuah dugaan penyalahgunaan wewenang dan fungsi legislatif, yang bisa jadi sarat konspirasi antara legislatif dan eksekutif seperti yang dikatakan Ferdy Hasiman, peneliti Indonesian Today itu.

Jadi, publik akan menerima politik islah itu dalam soal relasi personal antara Ahang dan Gandut. Tapi publik akan menghakimi, bila politik islah mengaburkan esensi persoalan yang diadukan Ahang, yaitu dugaan penyalahgunaan anggaran APBD 2015.

Yang jelas, sampai kini, alur drama pun sudah tidak jelas lagi perwajahannya. Lakonnya pun sudah banyak di panggung belakang. Dan publik pun sulit membacanya. Ending dan pesan dramanya pun semakin kabur. Meski demikian, drama politik ini terlanjur terekam oleh memori publik, bahwa ada yang tak elok dengan wakil rakyat kita. Dan ini akan berujung pada krisis kepercayaan publik terhadap wakil rakyat itu.

Keriuhan yang dimunculkan ke publik dan berakir dengan islah, membawa pesan bahwa DPR menjalani misi politiknya hanya sekedar tebar pesona. Pencitraan panggung lebih diprioritaskan daripada orisinalitas dari ketekohohannya sebagai wakil rakyat, karena tak menutup kemungkinan banyaknya konspirasi politik di sana.

Menjiwai Politik

Ketika membuat tulisan ini, saya memasang status pada dinding facebook pribadi tentang teori Goffman dalam relasinya dengan drama politik yang sedang dipertontonkan Ahang dan Gandut. Kemudian, ada reaksi yang muncul dari teman-teman melalui privat message, mulai dari yang lucu sampai yang menukik pikiran penulis. Salah seorang teman pun berkomentar: “Banyak wakil rakyat kita yang tidak menjiwai politik sebagai panggilan politiknya”.

Membaca peryataan teman ini, saya pun berandai, andaikan para wakil rakyat kita mampu menjiwai politik sebagai sebuah panggilan nurani, niscaya mereka akan menjalani tugas politiknya sebagai misi yang suci, untuk kesejahteraan masyarakat Manggarai, bukan untuk memenuhi pundi-pundi pribadi dan kaumnya.

Pentas drama yang dilakoni oleh kedua wakil rakyat itu, yang berakir redup dalam “politik islah” bisa jadi karena aktor politik itu, para wakil rakyat, tak menjiwai panggilan politiknya. Sehingga menjadi pemandangan yang lumrah dalam pentas politik lokal kita bahwa politik itu kotor, syarat transaksional-koruptif dan pencitraan.

Jika hal ini benar, maka masyarakat manggarai tak bisa berharap banyak kepada wakil-wakilnya yang terhormat itu. Dan ini bisa menyebabkan wakil rakyat itu kehilangan legitimasi sebagai lembaga perwakilan politik.

Menurut Goffman penjiwaan peran itu sangat penting dalam drama kehidupan. Apa yang dilakonkan oleh seorang aktor yang di panggung depan bukan hanya merupakan hasil olahan atau setting di panggung belakang. Tapi juga sang aktor harus mampu menjiwai perannya, sehingga menghasilkan karakter penokohan atau karakter yang unik yang menghasilkan good impresion dari publik.

Karena itu, dalam konteks drama politik wakil rakyat, sebelum tampil ke publik, para wakil rakyat itu harus menguasai dan menjiwai perannya, berpihak pada kepentingan publik (rakyat) sebab eksistensinya diamanatkan oleh rakyat, sehingga panggung politiknya bukan menghasilkan adegan tebar pesona, tetapi sebuah bahasa politis yang bermartabat dan bernurani demi kepentingan rakyat yang diwakilkannya. Mari ber-guru pada Goffman! (Habis)

Drama Politik Wakil Rakyat

Next Story »

Rembulan Masih di Sana, Meski Pohon Itu Sudah Tak Ada

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *