27.669 Warga NTT Memilih Jadi TKI

PELABUHAN ALOR : para penjemput, pengantar dan penumpang  berdesakan saat Kapal Pelni menyinggahi pelabuhan ini. (Foto : Dokumentasi FBC)

PELABUHAN ALOR : para penjemput, pengantar dan penumpang berdesakan saat Kapal Pelni menyinggahi pelabuhan ini. (Foto : Dokumentasi FBC)

KUPANG. FBC - Dalam kurun waktu hanya empat tahun, sebanyak 27.669 orang warga Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Ini menunjukkan adanya penurunan TKI ke luar negeri, namun, secara nasional Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menempatkan NTT pada urutan ke-11 pengiriman TKI ke luar negeri.

“Dalam kurun waktu 2011-2014, jumlah TKI asal NTT yang bekerja di luar negeri sebanyak 27.669 orang,” kata Ketua tim peneliti Penanganan TKI NTT, Karolus Kopong Medan di Kupang, Senin (8/6/2015).

Menurut Karolus, masalah TKI di NTT semakin meningkat disebabkan karena yang direkrut adalah warga yang tinggal di wilayah pedesaan dan berpendidikan rendah. Hal ini menimbulkan jumlah TKI ilegal lebih banyak dari yang legal.

Karolus Kopong Medan

Karolus Kopong Medan

Pengiriman TKI ilegal menjadi modus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di NTT. Dari hasil analisis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik NTT, ditemukan hanya 54 dari 234 kasus human trafficking (perdagangan orang) perempuan dan anak yang diberitakan oleh media massa. Hal itu diesebabkan karena belum adanya penelitian tentang perekrutan TKI ke luar negeri.

“Atas dasar itulah, memunculkan ide untuk Balitbangda melakukan penelitia secara konprehensif di NTT. Ada 18 kabupaten yang dipilih untuk dilakukan penelitian selama tiga bulan tentang sistem perekrutan TKI,” kata Karolus.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) NTT Kosmas Lana mengemukakan, sedang membentuk tim peneliti tentang sistem perekrutan TKI di daerah itu. Adapun yang tergabung dalam tim tersebut adalah akademisi, anggota DPRD NTT, pihak eksekutif, kepolisian, dan juga pengerah TKI.

“Tim itu butuh waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan penelitian. Diperkirakan September 2015, tim itu sudah selesai melakukan penelitian,” kata Kosmas.

Ia mengatakan, tim peneliti akan melakukan penelitian tentang bagaimana sistem perekrutan TKI, kebijakan rekrutmen TKI, dan bagaimana seorang TKI mendapat pelatihan dan didikan agar mendapat keterampilan untuk bekerja di luar negeri.

Sementara itu, Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo menegaskan akar permasalahan TKI di daerah itu adalah masalah kemiskinan, kurangnya lapangan kerja, dan terlilit hutang. Selain itu, rendahnya sumber daya manusia (SDM) sehingga mudah dirayu oleh calo, biasnya imformasi tentang TKI, pengurusan TKI prosedural butuh waktu lama dan berbelit-belit, serta lemahnya penegaka hukum terhadap perusahaan yang merekrutnya.

“Bisnis TKI libatkan uang besar dan mafia yang melibatkan aparat keamanan dari berbagai level. Pemerintah memang tidak serius tangani masalah TKI,” kata Winston.

Ia menambahkan, dari 6,2 juta TKI di luar negeri, 1,8 juta lainnya direkrut secara ilegal. Dari jumlah itu, TKI yang berasal dari NTT mencapai 100-500 ribu orang. Korban trafficking di NTT adalah perempuan dan anak yang mencapai 70 persen. (Oni)

Warga Reka Ditemukan Tak Bernyawa di Tangga Alam

Next Story »

Menteri Jonan dan Menteri Saleh Husin Kunjungi Ende

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *